Minggu, 26 Januari 2014

Kamu Untuk Aku ( Part 22 )

Kamu Untuk Aku
3 kata, penuh arti, penuh rasa... cinta
Mengikat, tak-bisa-dibantah...

“suka?”

Shilla menoleh, menatap laki-laki jangkung yang baru saja muncul dari pintu rumah pohon berukuran 3 x 3 meter itu dengan mata berbinar. Ia menjawab dengan mengangguk-nganggukkan kepala semangat.
           
“apa ada yang perlu di rubah?”

Sekali lagi, shilla yang sedang mengagumi setiap inci keindahan rumah pohon yang sudah ada di belakang rumahnya setelah ia kembali dari kemah 1 minggu ini menoleh ke sumber suara. kali ini ia menggeleng, tak ada yang perlu di rubah. Ini sudah sangat luar biasa indah.

“emm.. gak berminat buka “something” yang di tutupi kain itu?” shilla mengikuti arah tunjuk pemuda itu, lalu masih tanpa membuka suara, ia berjalan mendekati benda tertutup kain abu-abu di dekat jendela besar di sisi kiri rumah pohon itu.

“ayo di buka..” shilla menoleh ke pemuda itu lagi, lalu dengan perlahan ia tarik kain besar itu.

Shilla semakin di buat ternganga, kehadiran rumah pohon dengan arsitektur sekeren ini saja  sudah sangat membuat bahagia, di tambah ada teropong bintang di dalamnya. Kurang sempurna apalagi rumah pohon ini? kurang bahagia apalagi hidup shilla.

Shilla hampir menangis saat pandangannya bertemu dengan pandangan pemuda di samping kanannya. “rio... ini..

“punya lo lah, dan lo boleh bilang makasih sama gue..”

Shilla tertawa sambil mengusap air matanya yang akhirnya benar-benar menetes.

“oke.. sama-sama shilla.” shilla tertawa lagi, puncak kepalanya sudah di acak pelan oleh rio. Oleh pemuda yang entah kenapa ia rindukan 1 minggu ini. Ia nanti-nati perintah-tak-terbantahnya. dan percaya atau tidak, bahkan shilla berjuang setengah mati untuk menahan rasa gembiranya ketika secara tiba-tiba pemuda ini menjemputnya di perkemahan tadi sore, melarangnya pulang bersama rombongan, dan sekarang memberi sesuatu yang lagi-lagi memang ia inginkan. selalu yang ia inginkan. Eh tunggu.....

“yah, mendung nih. Lo Gak bisa belajar make teropongnya hari ini deh..” rio berucap sedikit kesal sambil memandangi langit dari jendela besar rumah pohon itu. membuat lamunan shilla terbuyar dan mengikuti arah pandang pemuda itu, menatap ke langit yang Memang nampak pekat dengan gumpalan asap-asap putih yang tidak terlalu kentara, cukup mengerikan. Di tambah angin berkali-kali berhembus cukup kencang. Sebenarnya suasana itu benar-benar mengerikan.


*


“makasih io..” ujar shilla pelan, meski begitu suara nya tetap terdengar oleh pemuda yang saat ini lagi-lagi mengusap puncak kepalanya lembut.

Shilla melirik pemuda di sampingnya sekilas,” emm, lo udah.. luar biasa baik sama gue.. sekali lagi makasih. Dan.. apa yang perlu gue lakuin sebagai balas budi ? gue rela ... ngelakuin apapun yang lo minta.”

Rio menyeringai.”enggak shill.. lo gak perlu ngelakuin apa-apa.”

Shilla hendak memprotes, ia sangat serius dengan tawarannya. Karena akan terasa aneh jika dia tidak melakukan apa-apa atas semua kebaikan pemuda di hadapannya ini, yang shilla pikir setiap kebaikan itu pasti ada alasannya. ”tapi, buat apa lo ngelakuin semua ini kalo gak ada alasannya. Lo tinggal bilang aja lo minta apa io. Bakal gue turutin, kalo gue bisa.”

“kamu..” rio menatap mata shilla lembut, lama.”aku mau kamu shilla. apa bisa?”

Shilla tersentak, diam.  Matanya masih terkunci dengan mata onyx rio yang cemerlang terpantul cahaya remang lampu rumah pohon itu. Masih membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna setiap kata yang baru saja di ucapkan pemuda di hadapannya itu.

Hingga akhirnya, rio menghadap kembali ke depan, melepas tatapan matanya pada mata coklat  shilla yang malam ini begitu bersinar. Tidak ingin terperosok terlalu dalam dengan mata teduh itu, terperosok pada harapannya yang –mungkin- semakin sulit untuk di capai. Memiliki gadis itu seutuhnya. Bahkan untuk seseorang yang dinobatkan mempunyai perintah-tak-terbantah seperti dia pun merasa pesimis untuk harapan itu.

“apa lo m- beneran cin.ta ss~ sama gue..” ujar shilla terbata, ia kalut.”emm. m- maksud gue dari segala sikap buruk gue ke lo, dan dengan segala kekuasaan dan segala keinginan tak terbantah lo, emm m-mungkin aja kan, kalo ini semua taktik yang lo susun karena lo berkeinginan ngehancurin gue, lo pengen balas dendam. emm bisa aja kan, kalo awalnya manis... dan selanjutnya bakal lo buat pah~

Shilla mematung, tak bisa melanjutkan lagi kalimat panjangnya, saat dirasanya sesuatu yang basah menyapu bibirnya lembut. Otaknya memerintahnya untuk membrontak, tapi sebagian hatinya tak rela.

Shilla hanya bisa menutup kedua matanya, merasakan kehangatan di bibirnya yang semakin membuatnya tak sadar, melayang.

Salah satu tangan Rio perlahan melingkar di pinggang ramping shilla, menggiring pemiliknya untuk mendekat kedalam pelukannya. Sedangkan tangan lainnya berada di pipi lembut shilla, menahan kepala shilla dengan lembut agar tidak menjauh darinya. Ia masih ingin meyakinkan gadis itu dengan keseriusannya.

Shilla masih tak bisa berkutik, ia tidak marah dengan pemuda yang saat ini bibir pucatnya masih menelusuri permukaan bibirnya dengan begitu lembut. Ia hanya ingin menikmatinya dalam... diam. menikmati sensani aneh menyenangkan yang baru pertama kali ia rasakan. Biarlah ia tetap melayang.

Dalam beberapa menit kemudian, rio melepas bibirnya perlahan, segera menarik nafas panjang untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang sudah begitu menuntut. Tangan kirinya merosot dari pipi shilla, menekan dadanya yang terasa sangat .. sesak.

Jarak keduanya masih sangat dekat hingga shilla dapat merasakan deru nafas rio yang memburu didepan wajahnya. Ia masih.. diam. masih belum percaya dengan apa yang terjadi beberapa detik lalu. Tiba-tiba nafasnya sesak, pikiran dan hatinya saling berperang. pikiran nya yang ingin marah, tetapi hatinya melarang.

Setelah merasa nafasnya tak sesesak tadi, rio mengangkat kepala. Tangan kiri yang tadi ia gunakan untuk menekan dadanya, kini ia gunakan lagi untuk mengelus pipi lembut shilla. dan hal itu membuat shilla juga mengangkat kepalanya, mempertemukan tatapan matanya dengan tatapan mata rio dalam satu titik yang sama.

Shilla tertegun, menikmati tatapan mata rio yang malam itu begitu lembut.  “maafin aku shilla... maafin aku atas semua keinginanku yang maksa kamu harus mengikutinya.” Bisik rio serak, lalu tanpa memberi kesempatan shilla untuk berbicara, ia memeluk tubuh gadis itu erat-erat.”itu... karena... aku cinta kamu shilla, benar-benar cinta kamu. Dan tolong.. kamu percaya. Percaya sama aku yang mencintai kamu dengan begini.”

Air mata shilla menetes. Tapi, bibirnya tersenyum, hatinya tersenyum. Ia balas pelukan pemuda yang saat ini masih memeluknya dengan erat. Memang dia benci untuk selalu patuh pada pemuda angkuh yang memeluknya saat ini, tapi ia tak pernah menyesal jika dengan begitu dia bisa mencintai pemuda ini. IYA, shilla tidak akan menyangkal lagi. Shilla mencintai mario, sangat cinta.


*


Keduanya memilih untuk diam, membiarkan suara rintik-rintik hujan di atas genting menjadi satu-satunya suara yang terdengar. membiarkan kecanggungan menguasai keduanya.

Sudah cukup lama, hingga rio menoleh ke gadis di samping kanannya.”apa aku yang pertama?”

Shilla tersentak.”ha?”

Rio menampilkan senyum jahil dengan tatapan mata sedikit menggoda. Ia menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk. Dan membuat shilla kembali menunduk setelah melihatnya, sepertinya gadis itu sudah mengerti maksud dari pertanyaannya.

Masih dengan menunduk, dan pasti dengan pipi bersemu, shilla menjawab nya dengan mengangguk pelan.

“kalo begitu.. kamu juga yang pertama.” Shilla tidak menjawab, hanya melirik rio sekilas.”Cuma mau njelasin, kalo aku bukan cowok brengsek yang hobby berciuman dengan para gadis-gadis, only with a special women, yaitu kamu, shilla..”

Shilla merasa pipinya semakin panas, ia semakin menundukkan kepalanya. Berusaha menyembunyikan senyum tersipunya. Ia perempuan spesial di hati rio. Ia merasa tersanjung dengan pengakuan pemuda itu.

Rio nampak bahagia dengan Bibir tipis yang melengkung membentuk sebuah senyuman, meski sebenarnya hatinya kalut, hatinya takut, takut kehilangan seseorang yang pada waktu yang sama memberinya kebahagian. Ia takut kehilangan shilla. karena jujur saja, ia masih  merasa sangat ragu, ragu akan apa yang sebenarnya di rasakan gadis cantik yang yang masih saja menunduk dalam itu. dan jika, akhirnya cintanya bertepuk sebelah tangan, rasa nya rio tak sanggup untuk menerima kenyataan sepahit itu. ia akan lebih memilih  terus untuk berada di keadaan seperti, tidak mendapat kepastian dari orang yang dicintai. Benar-benar seperti ini.. gantung.

”aku cinta kamu shill. Cinta banget. Dan... Suatu hari nanti.... aku janji.. aku pasti bakal miliki kamu, seutuhnya.. karena aku percaya... kamu untuk aku.” ujar rio pelan. Pandangannya kosong menatap hujan yang mulai deras dari jendela kaca di depannya.

Shilla mengangkat kepala. Mungkin saat ini waktunya, mengatakan kejujuran, kejujuran yang mungkin akan membuat mereka bahagia... selamanya.”apa kamu ingin tahu perasaanku? Ke kamu? Aku bisa menjawabnya sekarang“

Tidak. Rio belum siap, rio belum siap mendengar secara langsung penolakan dari gadis pujaannya. Biarkan ia tetap bertahan pada posisi yang seperti ini. “nggak, kamu gak boleh jawab apapun” Ujar rio. Gelisah.

Shilla mengatupkan kedua bibirnya, terkejut. ingin membenarkan yang perlu di benarkan.”m- apa ka.mu m- bener-bener gak mau tau?”

Rio menghela nafas, sekuat hati untuk bisa menerima, tapi ia tetap tidak bisa. Dia memang tidak siap. Ia tidak siap harus mundur perlahan, jika shilla menolaknya. ”tolong. jangan beritahu aku sekarang... biarkan.. aku tetap mencintaimu..”

Shilla menggigit bawah bibirnya, tidak tahu lagi harus berbuat apa? Seperti tinggal berteriak, tapi mulutnya terkunci.

Rio menyeringai, tidak suka melihat shilla terus-terusan menggigiti bawah bibirnya.“berhenti gigitin bibir bawah kamu shill, atau.. aku bakal ngambil ciuman kedua kamu sekarang juga.”

Shilla langsung melotot.” RIOO.. omes banget sih!!!”


***


Musik keras beritme cepat di ruangan itu, memang sepertinya membuat suasana semakin panas.

Di tuangnya lagi wine dengan kandungan alcohol tingkat tinggi di gelas kristalnya. Di tegak dengan cepat. Seolah-olah ia sudah tidak minum bertahun-tahun lamanya.

Tiba-tiba dia tertawa. Tertawa sendiri selayaknya orang gila. tapi ia tidak gila, hanya saja alcohol sudah mempengaruhi sebagian besar kesadarannya.

“kamu bego gab.. bego..” ia merancau tidak jelas, lalu tertawa lagi.

Pikirannya siap melayang, melayang pada kejadian yang akhirnya membuat ia harus kembali ke dunia yang seperti ini. Dunia yang dulu pernah mencandunya, menjeratnya ke dunia malam yang mengerikan.


*


“Aku mencintai kakak..”

Kedua ujung bibir gabriel kembali terangkat, membentuk senyum terindah karena hatinya sepertinya tengah merasakan hal yang paling indah.

“ apa itu artinya...”

“kak.. shilla belum selesai bicara..” potong shilla cepat. Shilla diam sebentar, menarik nafas panjang. Dan setelahnya mengangkat kedua ujung bibirnya. “ aku memang mencintai kakak. Tapi aku tidak bisa jika harus menjaga hati kakak. Menjadi satu-satunya orang yang memilikinya. Aku gak bisa. Shilla gak bisa menerima hati itu... cinta ini tak sama.. bukan cinta yang seperti itu..“

Gabriel tau, hatinya saat ini sudah hancur sehancur-hancurnya. Tapi ia tau jika senyumnya saat ini tak muncul, hal itu mungkin akan membuat satu-satunya gadis yang mengisi hatinya berfikir dia bukan lelaki yang baik karena tidak bisa menerima segala jawaban gadis itu. Lalu mungkin dengan cepat gadis itu akan meninggalkannya. bukankah dengan gadis itu meninggalkannya akan membuat hatinya semakin terluka.

Senyumnya masih bertahan –meski- hampa di bibirnya. “ apa kemahnya menyenangkan?” tanyanya tanpa arti.

Shilla diam. menatap mata gabriel yang tak secerah biasanya. Tampak pilu. Tampak jahat. Ya tuhan. “ Shilla benar-benar minta maaf kak..”

“ kamu gak di marahin kan kalo lama-lama sama kakak di sini?”

Shilla tidak lagi menyahut, masih menatap gabriel dengan rasa bersalah yang semakin menghantui, mendapati gabriel menjadi seperti ini. tanpa sadar, air mata sudah deras mengaliri pipi lembutnya. Percayalah, dia benar-benar takut dengan gabriel yang seperti ini.

Gabriel tak lagi mengeluarkan kalimat-kalimat tak bermakna dari mulutnya. Menatap shilla dengan tatapan penuh luka. Dia memang sudah terluka, sangat terluka.

Tangis shilla tak kunjung berhenti, malah rasanya semakin terdengar nyaring di telinga gabriel. Membuat hatinya semakin tersayat-sayat mendengarnya.

Gabriel mengulurkan kedua tangannya, menarik shilla kedalam pelukannya, merengkuhnya erat-erat, seolah-olah memang hanya dia si pemilik tubuh mungil itu. gabriel benar-benar menginginkan shilla, sungguh tak bisa terwujud kah?


*


“ Astaga!! Gabriel...”

Gabriel dengan kesadaran yang sudah sangat minim, mendongak. Remang-remang melihat gadis berambut panjang di hadapannya.

Tiba-tiba, gabriel terkekeh. “ shilla? kamu kesini untukku.. sini .. sini..” gabriel menarik-narik lemah tangan pemilik suara itu. setelah tubuh itu mendekat, ia memeluknya. “ iya? Apa?” rancaunya tidak jelas. “ apa kamu sudah berubah pikiran? Kini kamu ingin jadi milikku? Iya? Begitu? “ rancaunya lagi.

“ kamu udah terlalu banyak minum, gab “

Dan ... hoek. Gabriel memuntahkan semua isi lambungnya. Lalu selanjutnya, ia terkulai lemah di pelukan gadis yang tadi di peluknya.

Gadis itu melepaskan pelukan gabriel. Menjatuhkan tubuh itu pelan ke sofa empuk milik club itu.

Ia menghela nafas, tidak menyangka kembali melihat gabriel yang seperti ini. lalu, Ia ambil ponsel miliknya di tas putih tulang yang ia bawa. Berniat mengabari seseorang yang membuatnya mencari gabriel hingga kesini.

To : sivia
Via, kamu tenang ya sekarang. ini kak prissy udah nemuin kak gabriel.
Kak gabriel baik-baik aja vi. Kamu sekarang istirahat ya.

Setelah memastikan pesan itu sudah terkirim, pricilla memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas.

Pricilla tatap gabriel dalam diam. tiba-tiba air matanya luruh. brengsek kamu yang bernama shilla! tega-teganya membuat gabriel menjadi seperti ini.

Pricilla bangkit dari duduknya, mencari-cari seseorang yang kiranya bisa membantunya  membawa gabriel ke mobilnya.

Akan ia bawa gabriel ke suatu tempat. Kemana saja asalkan tidak di sini. Tidak di tempat yang membawa kenangan beberapa tahun lalu kembali terkuak. Kembali menyayat hati.


*

Akhirnya, pricilla membawa gabriel ke hotel yang tidak jauh dari club –tempat di mana ia menemukan gabriel. Karena dengan keadaan yang seperti ini, rasanya hampir tidak mungkin jika dia membawa gabriel ke rumah pemuda itu ataupun ke rumahnya.

Dengan di bantu pegawai hotel. Tubuh gabriel sudah terbaring  di atas tempat tidur berukuran kingsize milik hotel tersebut.

Pricilla menatap gabriel sebentar. Baru benar-benar menyadari betapa kacaunya pemuda itu malam ini. bahkan ini jauh lebih kacau ketimbang.. ah sudah lah.

Takut pikirannya semakin melayang jauh ke masa lalu yang terlampau suram. Pricilla sudah menyibukkan diri dengan melepas sepatu gabriel satu-persatu.

Setelah selesai dengan sepatu gabriel. Pricilla berniat untuk mengganti baju gabriel dengan piyama yang sudah di sediakan hotel.

Pricilla membuka kancing kemeja gabriel. Membuka satu persatu, sambil dalam diam menarik nafas sedalam mungkin untuk sekalian dapat menghirup aroma tubuh gabriel yang sudah sangat ia hapal.

Sudah pada kancing terakhir. pricilla kini sedang berusaha melepas kemeja itu dari masing-masing tangan gabriel/

“shilla..” pricilla tersentak.

Gabriel membuka matanya kembali. Masih melihat remang-remang seseorang yang saat ini sedang membantunya membuka kemeja miliknya.

Tiba-tiba senyum di bibir gabriel mengembang. “ Shilla..” ucapnya pelan. “ Kamu masih di sampingku?”

“gab..”

Pricilla tak sempat menyelesaikan ucapnya. Karena dengan tiba-tiba gabriel menariknya kuat. Yang membuatnya langsung ambruk menimpa tubuh pemuda itu dalam sekali tarik.

Belum sempat pricilla membuka suara lagi. Gabriel sudah memutar tubuhnya. Membuatnya berada dalam posisi di bawah gabriel.

“gab. Hentikan! Apa-apaan kamu!..”

“kenapa? aku akan membuatmu berada di sisiku selamanya shilla..”

“gab.. hentikan.. aku bukan...”

Pricilla tak bisa lagi melanjutkan ucapannya, karena entah sejak kapan bibir gabriel sudah menyentuh bibirnya. Tidak sampai hanya menyentuh, bibir gabriel melumat habis bibirnya.

Di rengkuhnya kasar tubuh ramping pricilla, membuat tubuh itu sedikit terangkat dari tempat tidur. Sedangkan tangan lainnya sudah berada di pipi lembut pricilla, menahan kepala pricilla dengan dengan sedikit kasar.

Gabriel yang 100 persen di bawah pengaruh alcohol memang sepertinya serius dengan rencana menjadikan gadis yang belum ia yakini siapa itu menjadi miliknya selamanya. Menuntaskan nafsunya yang sudah membara, melampiaskan gejolak emosi yang melandanya. Biarkan nafsu ini menang, biar terapresiasikan.

Pricilla sudah tak bisa memikirkan apa-apa, saat tau-tau gabriel menarik-narik paksa dress violetnya. Memaksa dress berbahan sifon itu meninggalkan pemiliknya. Dia bingung, merasa ini salah. Tapi juga seperti di beri harapan pada waktu yang sama.

Dan malam itu... kedua nya menyatu. Bercampur. Indah. Namun... entah akankah tetap indah?


***


Pagi itu memang cerah. Pagi yang biasanya membuat gadis itu tersenyum senang saat bisa menikmatinya. Tapi itu biasanya. Dan pagi ini... di luar biasa.

Dan karena di luar biasa. Pagi ini.. ia menangis. Menangis sambil memeluk lutut di sudut kamar besar yang bukan miliknya. Bahkan dia tidak tidur dari semalam untuk terus melakukan hal yang sama.. menangis. Merutuki diri.

Apa yang kamu lakukan prissy!! Apa!! kamu memang bodoh!! Kamu sudah mengecewakan semua orang!! Kamu sudah kalah! kalah dengan egomu! Kalah dengan nafsumu! Kamu sudah.. berakhir.

“ ya tuhan prissy.. maafin aku.” Dan tubuh prissy kini sudah berada di pelukan pemuda yang sama. Pemuda yang semalam sudah menghancurknya.. pemuda yang harusnya saat ini Ia caci maki.

*

Gabriel harus mengerjap beberapa kali agar bisa membuka mata sepenuhnya. Lalu, dahinya langsung berkerut karena merasa asing dengan tempat di mana ia berada saat ini.

Baru gabriel akan bangkit, dan saat itu juga kepalanya seperti di timpa beban ribuan ton. Kepalanya sangat pusing, entah apa yang sudah ia lakukan semalam?. Emm .. memang apa? apa yang sudah ia lakukan?

Seperti baru mendapatkan ingatannya kembali. Gabriel melihat  di balik selimut. Astagaa....

Gabriel mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan. dan .. hatinya seperti di cabik-cabik. Melihat gadis yang sangat ia kenali duduk memeluk lutut dengan baju yang sudah.. tidak layak pakai. Karena dress berwarna violet yang gabriel tau, biasanya sangat terlihat cantik di gunakan gadis itu. kini sudah sobek-sobek di beberapa bagian.

Dengan hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya, gabriel menghampiri gadis itu. ingin meminta maaf, meminta ampun.

“ya tuhan, prissy.. maafin aku..” gabriel peluk tubuh mungil pricilla. Ia ingat betul kelakuan bejat yang sudah dia lakukan semalam.

“ aku.. aku akan bertanggung jawab.. aku akan segera melamarmu, kita akan menikah. Kamu percaya ya? Ya? “ iya. Gabriel takut. Takut untuk menghadapinya. Takut untuk segala hal yang akan terjadi selanjutnya. Bukannya ia mencintai gadis lain? Bisa-bisanya ia menjanjikan hal yang semacam itu. lalu memangnya dia bisa apa?

Dia hanya sedang takut. Ya, sedang takut. “ kamu percaya aku kan?” ia mengulang pertanyaaanya.

Prissy mengangguk. Masih membiarkan tubuhnya di balut hangat kulit gabriel yang langsung menyentuh kulit lembutnya.

Airmata pricilla kembali menetes. Masih merasa gamang. Dia memang mau tak mau harus percaya. Karena saat ini, jika tidak percaya dengan gabriel memang dia harus percaya dengan siapa lagi?

Lalu, apa sebenarnya memang pantas dia percaya. Percaya dengan pemuda yang jelas-jelas  mencintai wanita lain. Apa-apaan ini.


To be continued....



hai girls and -maybe- boys. sorry banget untuk kelamaan posting part ini -.- salahin blognya error dan baru sembuh. sekalian di posting hari ini . ya perlu kalian tau hari ini -jeng jeng- my day. aissshhh iklan. ya semoga part ini gak ngecewain kalian yang udah nunggu lama -buannnnggeeett :') dan makasih banget untuk kesetiaannya ya. ok. bye. see you next part . laff u machooooo <3

Rabu, 06 November 2013

Kamu Untuk Aku ( Part 21 )

Bisa saja... cinta sejati tak di awal
Tak tertebak.. tapi ada


Tepat pukul 16.00, para murid SMA Harapan jaya yang turut dalam perkemahan yang di adakan dinas pendidikan jakarta sudah berkumpul. Sedang sibuk memasukkan barang-barang bawaan ke dalam bagasi bus. Dan hal tersebut tidak berjalan dengan tertib, karena mereka saling dorong, saling ingin mendahului.

Shilla menghela nafas, akhirnya berhasil juga memasukkan tas besarnya ke bagasi. Dengan sumringah dia menaiki bus yang sudah di sewa sekolahnya itu. Lalu detik selanjutnya harus merengut, karena bus itu sudah hampir terisi penuh. Dia tidak bisa memilih sesuka hati kalau begini.

“Shilla!!” shilla menoleh, melihat cakka yang sedang melambaikan tangan ke dirinya. “Duduk sini..”

Shilla sudah hampir menerima, “mana nih yang masih kosong?” ia menoleh ke belakang, melihat ke sumber suara, ternyata.. agni. Dan berekspresi yang sama bingungnya dengan dirinya. Untuk beberapa saat, shillla diam.

“Gak deh, gue mau duduk depan aja sama daud, takut mabuk darat kalo duduk situ..” ujar shilla, lalu dengan setengah berlari menghampiri baris terdepan, kursi kosong selain di samping cakka.

Tanpa tahu apa-apa yang terjadi sebelumnya, agni mengampiri ke kursi Cakka, karena memang benar-benar di samping cakka satu-satunya tempat yang tersisa.

“Gue duduk sini boleh kka?”

Cakka yang sebelumnya sedang melamun, tersentak. Mendongak cepat.” Apa? Ag?”

Agni mendengus.”Gue duduk di sini boleh kagak?”

“Oh, ya boleh dong. Duduk sini ag..”


***


15 April. Secara serentak ujian nasional tingkat SMA mulai di laksanakan. Tidak terkecuali SMA UYEers.

“nih yo..”

Dengan cepat rio mendongak, meninggalkan sederetan tulisan yang tadi memenuhi pandangannya. Lalu, Begitu ia melihat siapa yang menyodorkan kotak bekal berwarna biru di depannya itu, ia tersenyum.

“belum sarapan kan pasti?”

Lagi-lagi rio tidak membuka suara, mengangguk beberapa kali untuk menjawabnya.

“laper benget ya nyampe gak bisa ngomong gitu?”

Rio mengembangkan senyum, menggeser duduknya sedikit ke kiri.”Duduk fy..” ujarnya, yang lalu di turuti ify.

“Makan dulu gih..” ujar ify, begitu dia sudah berada tepat di samping kanan rio.

“ntar deh kayaknya fy, bab terakhir belum sempet ke baca nih.” Rio melirik jam tangannya sebentar.”Mana setengah jam lagi udah mulai lagi.. ntaran aja gak papa kan?”

“kalo aku suapin aja gimana? ”

Dengan cepat rio menoleh, menghadap ke ify. Gadis itu, tengah tersenyum tulus ke arahnya. Dalam hati, merasa lega. karena sepertinya kejadian beberapa hari lalu tak lagi membuat gadis itu menatapnya dengan tatapan penuh luka, menghindarinya, menjadi gadis yang tak ia kenal.”boleh deh..”

Lalu setelahnya dengan penuh kelembutan, ify menyuapi Rio. Menciptakan lagi kenyamanan, kehangatan, yang beberapa hari lalu sempat ia hancurkan. Memang di sini, ia yang terluka. Tapi terluka, namun tetap bisa dekat dengan pemuda yang ia cinta jauh lebih baik. ketimbang terluka, namun berada jauh dari pemuda itu. Inilah cinta. Butuh perjuangan.


***


“manda...”

Amanda menoleh, mengalihkan pandangannya pada seseorang yang baru saja memanggil namanya. Meski sebenarnya tanpa harus menoleh pun ia sudah hapal betul suara bariton yang sudah 20 tahun ini selalu di sisinya, menjalin rumah tangga dengannya.

“pagi zeth.. sudah bangun kamu?”

Zeth mengembangkan senyum. Menghampiri istrinya yang tengah duduk di samping jendela apartment mereka. Memeluk istri terkasihnya itu dari belakang. Mengendus pucuk kepalanya. “kamu kenapa?”

Di depan zeth, amanda menunjukkan ekspresi kebingungannya. “kenapa? bagaimana?”

“Ada yang kamu pikirkan, saya lihat beberapa hari ini, kamu terlihat sering melamun.”

Manda menyunggingkan sebuah senyum, memutar tubuh nya ke arah suaminya. Membelai wajah tampan suaminya itu meski sudah termakan usia. “Saya benar-benar tidak bisa menyembunyikan apapun dari kamu zeth.”

Zeth tidak menjawab, hanya mengembangkan senyum. Lalu tangannya sudah aktif membelai rambut manda yang mulai memutih.

“Sebenarnya.. aku mengkhawatirkan mario..”

Zeth menghentikan tangannya membelai-belai rambut amanda, menyerengitkan dahi. “Apa yang kamu khawatirkan soal mario?”

Amanda melengos. Menghindari air mata yang sudah siap untuk mengalir. “ Beberapa bulan terakhir ini dia lebih sering kambuh.”

Zeth menegakan badannya yang tadinya sedikit condong ke amanda.” Lalu kamu ingin menyalahkan siapa? kita sudah menyiapkan dokter terbaik untuknya di indonesia. Urusan dia lebih sering kambuh, itu sudah di luar kehendak saya dan ... kamu..”

“Zeth!!” amanda mendelik, teguran itu terdengar keras. “Apa kamu tidak khawatir sedikit pun?”

“Ayolah mrs haling. Saya juga khawatir. Tapi apa dengan terus-terusan melamun dan merenung seperti yang sering kamu lakukan beberapa akhir ini bisa menyelesaikan masalha. Lagipula aku sudah di tunggu oleh pekerjaanku yang banyak.. itu sama sekali tidak membantu, itu buang-buang waktu.”

Manda menunduk, tidak tahu lagi harus menjawab apa.

“Bersiap lah, temani saya menemui rekan bisnis saya..”


***


Rio menarik nafas sedalam-dalamnya. Ia sama gelisahnya seperti halnya teman-temannya yang lain. Ia melirik jam tangan untuk kesekian kalinya. 5 menit menjelang pintu hijau tua-pintu kelas- di depannya ini akan di buka.

Dengan sedikit menerawang, tangannya sibuk mengobrak-abrik tas hitamnya. Mengambil ponsel, yang sudah di non-aktifkan. Ia tekan lama tombol kecil di bagian atas ponsel layar sentuh tersebut. Membuat ponsel itu kembali aktif.

Senyumnya terkembang. Kegelisahannya sedikit berkurang, begitu melihat wallpaper ponsel layar lebarnya di penuhi photo gadisnya yang tengah terbahak. Photo itu ia ambil secara diam-diam.

Lalu setelah puas memandangi photo shilla. Tangannya bergerak lincah di ponsel layar sentuhnya. Kegelisahannya semakin berkurang. Membaca berulang-ulang pesan singkat yang pagi tadi secara tidak langsung membangunkan tidur nyenyaknya.

From               : Mama
Mario kamu bisa untuk segalanya. Termasuk ujian ini, bersemangatlah, karena kesuksesan menantimu.
Mama selalu mendo’akanmu...


“ayo silahkan masuk dengan tertib.”

Rio tersentak. Reflek kembali menon-aktifkan ponselnya dan memasukannya ke dalam tas hitamnya. Lalu, Memasuki ruangan ujiannya, dengan semangat yang lebih membara.


***


Saat itu, sebenarnya waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Tapi, Shilla dengan memeluk dirinya sendiri sedang duduk-duduk di dekat api unggun kecil yang ia buat. Astaga gimana ceritanya matahari udah sebegitu tinggi, masih dingin juga.

“cieileeh, yang jacket dari kak rio di peluk terus..”

“eh?” reflek shilla melepas pelukannya. Melirik tajam agni yang saat ini dengan tanpa dosa cekikikan di sampingnya. “rese banget sih ag. Dingin kali...” shilla berdiri, sambil mengerucutkan bibirnya melepas jacket merah muda yang memang hadiah dari rio beberapa hari lalu. Tepat sehari sebelum dia berangkat kemah.

Setelah berhasil melepasnya, dan membuangnya secara sembarang. Shilla mendekapkan kedua tangannya lagi ke depan dada. Mendengus kesal. “tuh gue lepas tuh..”

Agni malah terbahak.”elah Salting nya gak gitu gitu juga kali neng..”

Shilla semakin melotot.” Apa lagi sih?”

Agni nyengir.”oke oke, peace. Damai. Aku cinta kamu. maafin ya maafin”

“iyee... oyaa. Besok schadule nya apaan?”

“besok memang hari apa sih? Lupa.. ”

“huu. Pikun emang lo. besok jum’at!”

“jum’at? Berarti ini kamis dong?”

Shilla memutar bola matanya.” Menurut lo ag?”

“berarti hari terakhir kak rio ujian dong? Gimana? Lo udah ngehubungi dia? nanyain gitu 4 hari ujiannya gimana?.”

“eh? Kok jadi ngelantur sih lo ag.”

“siapa yang ngelantur? Gue tanya beneran kok”

Shilla diam. lagi-lagi melirik agni sebal.” Memang dasar lo ya ag, yang di pikirin Cuma tuh kucrut satu. ya tanya aja sendiri sanah. Kalo gue mah males. Udah ya mau mandi..”

Dan shilla segera pergi, tidak peduli lagi dengan agni yang kalo shilla tidak salah dengar sedang ber-iueh-ria karena dirinya belum mandi. Terserah sahabat pembela lawan!!



***


Akhirnya, 4 hari sudah Ujian Nasional di laksanakan. Meski belum ada hasilnya. Setidaknya hal itu membuat para siswa-siswi SMA itu tidak lagi tidur terlalu larut karena harus menuntaskan buku-buku tebal yang memuakkan.

Rio sebagai orang terkaya sekaligus terpopuler di sekolahnya, berencana menraktir seluruh siswa-siswa di sekolahnya sebagai bentuk kelegaan telah berakhirnya ujian tersulit di masa SMA ini.

Alvin menaiki salah satu bangku panjang kantin.  Berencana menyampaikan keinginan rio yang tiba-tiba ingin menraktir semua orang yang ada di kantin sekolahnya. Saat ini, bangku kantin sudah terisi penuh. Di isi sebagian besar kelas 3 dan sebagian lagi kelas 1 dan 2.

“oke guys, kalian boleh makan apa aja dan sepuasnya. Rio bakal bayar semuanya...”

Dan hal itu langsung di sambut sorak gembira orang-orang yang ada di sana. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan mereka segera menghampiri stand-stand penjual makanan di kantin besar itu.

“Apa ada yang baru aja gue lewatin.. kayaknya kantin jauh lebih rame hari ini? “ secara serentak, rio dan alvin yang tengah sibuk dengan makanan masing masing mengangkat kepala.

“Bukan hal yang terlalu penting fy, duduk sini.” Jawab rio, ia menggeser duduk nya untuk memberi tempat ify di sampingnya.

“Darimana aja kamu fy, baru keliatan?” ify menoleh, harus mengalihkan pandangan nya kepada seseorang yang baru saja bertanya  padanya.

Ify tersenyum tipis, sebisanya.”Gue konsultasi sebentar sama bu sarah vin.”

“soal kuliah?”

Ify lagi-lagi harus mengalihkan pandangannya, kali ini ke pemuda yang tepat berada di sampingnya. “Iya. aku masih bingung mau ngambil jurusan apa? kalo menurut kamu yo aku lebih baik ngambil jurusan apa?..”

Rio diam sebentar. Sambil menerawang, sebenarnya dia tidak tau jurusan apa yang di minati sahabat perempuannya ini. Tapi, ia juga tidak enak untuk menanyakannya, mengingat dia baru saja berbaikan dengan ify. Bukannya kalau dia tidak tau sama sekali apa yang di minati perempuan di hadapannya ini akan membuatnya terlihat menjadi sahabat yang tidak perhatian. Tentunya itu akan memperburuk keadaan.

Diam lama. hingga alvin yang akhirnya memecahkan keheningan.”Masih bingung antara dokter sama designer?”

Ify menoleh lagi ke arah alvin, perlahan. Mengembangkan senyum tipis tak berarti. Lalu Mengangguk sekali. Setelahnya, ia kembali menoleh ke rio.” kita jadi kan yo, lanjut ke melbourne?”

Rio agak tersentak. Karena sebenarnya dia sedang fokus memperhatikan kejadian kecil yang baru saja terjadi. “ha? Ee~ apa? ke melbourne?”

“iya.. kamu masih inget kan kita pernah janjian kuliah bareng ke melbourne?

“emm, jadi gak ya? Enggak aja deh kayaknya..”

“Apa? mm~ maksud kamu?”

Rio menampilkan deretan giginya yang putih.” Iya, gak jadi. gue stay aja di indonesia.”

“k- kenapa?” potong ify cepat, tidak sabaran ingin segera mengetahui alasan rio.

“Gue gak siap LDR-an sama shilla. Lagian gue pengen nikahin dia secepetnya.”

Alvin menonyor kepala rio keras. Tidak tahan untuk tidak tertawa mendengar penuturan sahabat omesnya itu. “otak lo yo, inget.. masih bocah.”

Rio mengangkat bahu.” Bodo amat , yang penting gue kan cinta.” Lalu mereka tertawa bersama.

“tapi bukannya ini kemauan orang tua kamu juga, bukannya kamu akan selalu menurutinya..”

Alvin dan rio, secara serentak menghentikan tawanya. Menoleh secara bersamaan menghadap ke ify.

Senyum rio terkembang.” Entahlah, akhir-akhir ini gue mikir gue udah cukup gede untuk nentuin jalan gue sendiri, tanpa berkiblat pada keinginan beliau-beliau, yang kadang Cuma keputusan sepihak mereka.”

Dan hati yang susah payah di rekatkan untuk kembali menjadi satu kesatuan yang utuh meski tak sempurna, kini seperti dengan sadisnya di hancurkan kembali, bahkan lebih hancur dari sebelumnya. Ify diam, seperti sedang merasakan dengan seksama hati nya yang tengah porak poranda. Ia sudah cukup menderita bangkit sendiri dari keterpurukan, dan tega-teganya kini ia kembali di jatuhkan ke lubang keterpurukan yang paling dalam. Sekuat itu kah rasa cinta pemuda yang dicintainya mencintai gadisnya.


***


Rio masih berusaha mencoba menghubungi nomor yang sama untuk ke sekian kalinya. Dan hasilnya masih sama. Suara perempuan yang mengatakan nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.

“ya tuhan.. lagi ngapain sih si monyet!!” rutuknya kesal.

Lalu dengan kesal. Ia klik tombol dial, untuk kembali mencoba menghubungi nomor telpon yang sama.

Tuuut. . tuut.. rio menghela nafas, udah bisa nyambung.

“hallo..” dan akhirnya.

“kemana aja sih? Di telpon gak aktif? Gue udah nyoba nelpon lo beratus-ratus kali tau gak. Bikin bete aja..”

“apa? apa? hallo?”

Rio merengut. Dia sudah ngomel sepanjang itu, dan ternyata orang di seberang telpon tidak mendengar.

“lo benaran gak denger gue ngomong apa?”

“apa sih?... hallo?”

Rio semakin merengut, bangkit dari tidurannya. Kenapa sekalinya nyambung. Sepertinya signal tidak mendukung.”iya .. hallo..”

“bentar ya bentar.. signalnya limited adition nih..”

Rio mengerutkan alis, karena setelahnya suara yang ia dengar grusak-grusuk tidak jelas. Lagi ngapain ni anak?


***


“be...yan.. ga.. ...nge..we....mong....  pa?”

“apa sih? ... hallo?..”

“zzzzz... ...llo”

Shilla menautkan kedua alisnya, menurunkan ponsel dari telinganya. Memperhatikan dengan seksama layar ponselnya. Apa yang salah? Kenapa suara si penelpon gak jelas. Oh.. astaga. Pantes aja. Signalnya hilang timbul gitu.

“bentar ya bentar.. signalnya limited adition nih..”

Shilla menoleh ke kanan dan kiri, mengamati sekelilingnya, mencari-cari tempat yang kiranya bisa menangkap banyak signal. Tempat yang tinggi. Shilla mengembangkan senyum, melihat pohon yang cukup tinggi dan sepertinya cukup mudah untuk di naiki.

Tidak sampai lima menit, shilla sudah berada hampir di puncak pohon. Senyumnya terkembang, benar saja, ponselnya menangkap banyak signal dalam posisi ini.

“hallo..”

“dari ngapain sih? Lama!!”

“ya kan udah gue bilang cari signal?”

“ya lagian.. apa banget kemah di pedalaman..”

“yee.. mau nyalahin siapa lo.. “

“nyalahin lo lah..”

“apaan sih? Yang ngadain dinas pendidikan ini.. gue Cuma ikutan kali..”

“ya kenapa harus ikut?”

“eh.. lo nelpon gue Cuma mau ngeresein gue gini. Males banget, udah di bela-belain manjat pohon malah dengerin ocehan orang gila, angkuh, dan nyebelin kayak lo..”

“eh? Apa? lo naik pohon?”

Shilla tiba-tiba diam. berfikir. Memang apa yang salah? “ iya. Ya kan gue tadi bilang di sini susah signal, naik pohon baru dapet..”

Tiba-tiba terdengar suara kikikan di sebrang telpon.”ciyee.. yang bela-belain manjat pohon biar bisa telponan sama gue?”

“Apa?” Shilla shock. Sekarang sedang menganga, setengah bersyukur karena dia sedang melakukan percakapan via telpon setidaknya tampang bodohnya ini tidak terlihat si lawan bicara.

“kangen banget kan lo pasti sama gue?”

Shilla menggelengkan kepalanya, butuh berfikir jernih. Karena entah otaknya menjadi lamban utnuk berfikir. Baru sadar, kenapa ia sampai melakukan hal ini hanya untuk melakukan percakapan dengan mario kucrut lalala itu.

“jadi, cintaku udah terbalas nih.”

Shilla memutar bola matanya.” Diem deh lo! kepedean! Ya gue Cuma menghargai lo aja kali, ya siapa tau kan lo ada keperluan penting gitu nyampe nelpon gue. bukannya makasih malah norak lo. yaudah deh, kalo gak ada hal penting yang mau lo omongin. Gue matiin..”

“eh tunggu tunggu. Apaan sih? sih, maen matiin aja”

“ya apa lagi sih? Lagian lo nya nye....”

“shilla..”potong rio cepat.

Shilla agak tertegun. Merasa suara si penelpon tiba-tiba terdnegar lembut.
 
“kamu harus kembali dengan baik-baik aja ya.  Aku tunggu kamu dua hari kedepan. “ lalu, diam agak lama. “Ee.. bye shilla..”

“Klik.” shilla menurunkan ponsel dari telinganya dengan dramatis. Yang baru saja itu apa-apaan. Lalu sebenarnya apa tujuan dari pemuda itu menelponnya. Ya tuhan pemuda ini benar-benar gila.

Drrtt. Drrt. Drrt.

Agak terkejut. Shilla membuka 1 pesan yang baru saja masuk.

From : mario sayang
Gue kangen sama lo.
Sms ini Gak usah di bales. Awas lo nyampe di bales. Awas!

Dan.. shilla terbahak.


***


Dengan berlari, shilla menghampiri danau kecil yang berada di sebelah utara area perkemahan. Danau terawat dengan beberapa bangku putih di sekeliling danau tersebut.

Tadi, saat dia kembali perkemahan. Tiba-tiba agni berkacak pinggang mengomel padanya. Seperti ini. “Dari mana aja sih lo? di cariin juga. ada yang jengukin lo tuh!! Udah karatan kali sekarang tuh orang di pinggir danau!”

Dan, tanpa mendengarkan lama-lama penjelasan agni, shilla memilih berlari dengan kecepatan penuh. Mengingat letak danau itu tidak bisa di bilang dekat. Benar-benar bisa karatan, entah siapa yang menemuinya.

Shilla tak bisa menduga-duga, siapa sebenarnya orang itu. kalo di lihat dari tingkah agni yang sampai ngamuk seperti itu. bisa saja itu... rio. tapi mengingat sifat rio, apa mungkin dia mau bela-belain kesini Cuma untuk nemuin dia? itu impossible banget! Lagian kalo tu anak kesini, ngapain tadi telpon?. Dan, jika itu gabriel. Itu jauh masuk akal.

Shilla memelankan langkah, hingga akhirnya berhenti tepat 3 langkah di depan pemuda tampan yang tengah memejamkan matanya itu. memang ini jauh lebih masuk akal.

“hai kak..”

Astaga! Gabriel mengerjap cepat, benar-benar tidak menyadari kehadiran shilla. ia mengembangkan senyum. Menggeser sedikit duduknya.

Tanpa di minta, shilla sudah mengambil posisi di samping gabriel.

Gabriel mengusap puncak kepala shilla, terlalu bersemangat. Seperti sedang membuncahkan semua keinginan untuk melakukan hal itu, yang beberapa hari ini harus ia pendam karena tak bisa bertemua pujaan hatinya itu. “ Apa kabar kamu shilla?”

Shilla menoleh, tersenyum riang. Merasa sangat senang dengan gabriel yang mengusap puncak kepalanya seperti itu. ia sangat merindukannya. “baik.”

“ lalu bagaimana kabar hati kamu?”

Dengan cepat senyum shilla lenyap, menjadi tiba-tiba gugup karena belum siap untuk topik yang baru saja di angkat gabriel. Ya tuhan, tak bisakah dia di ijinkan merasakan kebahagiaan lebih lama lagi. Yang tanpa tekanan seperti ini.

Bagaimana? Ya bagaimana? Itu memang sudah hampir 1 minggu yang lalu, tapi memang benar shilla belum benar-benar memikirkannya.

“bagaimana shilla?” gabriel mengulang pertanyaannya, tetap menampilkan senyum ramahnya. Meski yang di hatinya, rasanya sudah hampir meledak.

“ Bagaimana dengan hatimu?” ulang gabriel lagi. “ Apa sudah aku yang menempatinya?”

Shilla menghela nafas. Menatap gabriel dengan keraguan yang siap membuatnya semakin tertekan.

“aku....

Senyum ramah gabriel tiba-tiba lenyap. Merasakan seluruh badannya yang tiba-tiba menegang. Benar-benar tidak bisa menduga apa yang akan di katakan shilla selanjutnya.

Shilla menarik nafas panjang, membentuk keyakinan. Bibirnya terbentuk senyuman. matanya menunjukkan keyakinan yang sudah mulai hadir.

“ aku mencintai kakak...”

Kedua ujung bibir gabriel kembali terangkat, membentuk senyuman terindah karena hatinya seperti tengah merasakan hal yang paling indah.


To be continued.....