Selasa, 21 Februari 2012

Kamu Untuk Aku (part 2)

Hari senin, hari yang di lalui sebagian banyak pelajar dengan malas-malasan. Hari Setelah hari minggu, hari kebanggaan siapapun juga. Yang di lalui dengan bersantai-santai ria. Lalu senin datang, dan di mulai beraktifitas kembali. Wajar saja.

Tapi kata malas-malasan tidak berlaku untuk shilla, gadis itu mau itu hari apapun juga tetap menjadi dirinya. Ceria dan semangat.

Setelah sampai di lapangan parkir ukuran sedang milik sekolahnya, shilla memilih tempat strategis untuk memprakir sepeda kesayangannya. Setelah selesai. Dengan segera dia mengedarkan pandangan, mencari seseorang yang tadinya berangkat bersamaan dengannya. Di sepada yang beda.

Pandangan shilla terhenti, seseorang itu sudah dia temukan. Sedang memarkirkan sepeda juga, cukup jauh dari tempatnya memarkirkan sepedanya kini. Lalu dia berucap yang di awali senyum jahilnya. “cakka, ayo balapan lari ke kelas. Yang kalah traktir makan siang. Haha..” dan saat itu juga shilla berlari secepat mungkin. Sedangkan, si pria yang di panggil cakka itu setelah mendengus kesal karena merasa di curangi akhirnya ikut berlari juga mencoba menyusul shilla.

Shilla menang. Dan berarti cakka kalah. Shilla tertawa berbahak penuh kemenangan saat cakka baru sampai dengan nafas tersengal dan wajah kusut penuh tekukan kesebalan.

“ntar, mau makan siang di mana cakk?” dan ucapan shilla itu secara spontan membuat cakka melotot ke arahnya.

“gak ah, lo nya kan curang. Tadi itu,, udah kamu lari duluan, deketan lo lagi posisinya dari kelas..” cakka protes penuh amarah yang menggelora.

Shilla yang sudah duduk di bangku biasanya, mencibir segera dengan suara lantang penuh penekanan.”oh gitu.... baru tau kalo ternyata ketua OSIS kita itu orangnya gak sportis.”

Cakka ternganga juga mendengar penuturan shilla. ketua OSIS? Itu berarti dirinya. Ck-, shilla ini ada2 saja akal cerdiknya. “ iya iya, ntar gue traktir.” Dan akhirnya cakka mengalah. Selalu begini.

“Ayyeeee.. sama agni juga ya cakk...” di selingi tawa bahagianya shilla bicara seenaknya.

“eh eh.. gausah gausah.. gue gausah ikut.” Agni nama seorang gadis yang tadi di sebut sebut shilla, dengan cepat menyahut saat setelah shilla mengucapkan usulannya. yang membuat cakka yang sebenarnya sudah membuka mulut untuk menanggapi, mengatubkan mulutnya kembali. “gue gamau ya, nerima traktiran yang di peroleh secara curang begitu.” Lanjut agni santai yang langsung di setujui cakka dengan anggukkan cepat.

“ih, apaan deh kalian berdua, jodoh banget bisa sekongkol gitu....” bukannya nyadar, shilla malah dengan tampang tanpa dosanya menjawab dengan terkikik-kikik kecil, dan nyatanya berhasil membuat kedua sahabatnya mati kutu akibat ucapan asal shilla. Keduanya diam, benar-benar diam.

Tidak ingin diam menguasai terlalu lama, cakka akhirnya mengeluarkan suara juga juga.”bawel deh lo ndut..” setelah mengucapkan itu pada shilla, yang di akhiri juluran lidah untuk gadis jahil kelewatan itu. cakka segera mengalihkan pandangan ke arah agni gadis lain yang berada tepat di samping shilla.”lo ikut aja ag. Tenang.. traktiran gue gak semata-mata karena kecurangan shilla kok.”

“loh? Terus dalam rangka apa?” agni jadi bimbang, serba tidak enak. Jika menerima takut takut si cakka gak ikhlas nraktirya karena tuntutan terlanjur, kalo menolak bagaimana? Cakka nya udah nyampe mengklarisifikasi gitu.

“dalam rangka pengen aja...” cakka cekikian sendiri mengucapkan jawabannya.

“iya pengen, pengen deket-deket agni terus.. haha...” dan lihatlah kunyil satu itu belum juga jera mengerjai teman2 nya sendiri.

“shilla!!!” dan kali ini agni tidak cukup diam, dia berteriak tepat di telinga shilla dengan tambahan tangan nya menggetok tanpa ampun kepala shilla. dan shilla meski sempet terelonjak kaget dan merasa sakit akibat getokan maut agni, akhirnya tertawa juga.

Tak seperti agni yang melakukan pemrotesan, cakka hanya diam. Entah sedang malas menanggapi aksi menyebalkan shilla atau karena apa. Yang jelas dalam hati ia membatin.”please shilla jangan di terusin. Apa maksudmu?’’



***




Rio keluar dari kamar pribadinya dengan tergesa dan dengan ekspresi yang tidak mengenakkan. Apa yang membuatnya seperti itu? tidak ada yang tahu?

Rio sampai di ruang makan besar dengan gaya klassik minimalis hasil kerja dari arsitek terkenal,-nama arsitek-.  Itu membuat semua pelayan yang bertugas di ruangan itu secara serempak tertunduk hormat padanya. Dan dengan cekatan dan teliti pelayan yang sudah ditugaskan masing-masing tugasnya melaksanakan tugas sebaik mungkin berusaha tanpa cela. Mulai menarikkan kursi meja makan untuk sang mahkota raja,pengaturan tata letak piring dan sebangsanya, dan yang terpenting menu sarapan yang enak dan bergizi dengan nilai tinggi.

Bukannya segera menikmati hidangan sarapan nya. Rio berujar datar dan dingin “pak kiki, gue perlu ngomong.” dengan wibawa penuh dan tinggi rio menyampaikan tanpa melihat si lawan bicara, gaya khas bicaranya.

“ada apa tuan mario?” dan pria berkepala empat yang di rumah itu di tugaskan sebagai ketua pelayan menjawab dengan tenang dan penuh rasa hormat.

“penghangat kamar gue rusak. Kenapa bisa? dan gue gak mau tau apapun alasannya. Yang perlu gue tau, begitu gue sampai di rumah rongsokan itu udah harus  di ganti. Ngerti?” dan inilah rio sang penguasa.

“baik tuan. Akan saya lakukan..”

Setelah mendengar jawaban kepala pelayan istananya itu, rio tanpa menyentuh sarapan yang telah di buat untuknya, berdiri dan mulai berlalu. yang sebelumnya dia mencerca dengan keras. ”gue jadi gak nafsu sarapan.. males!! Ngeliat kerja kalian yang gak becus!!!!...”

Rio sudah berada di dalam yarris putihnya. Dan sebelum rio melajukan mobilnya untuk keluar dari pagar pelindung istana besar miliknya dan nantinya menuju sekolah yang cukup jauh dari rumahya. Rio memutuskan untuk mengotak-ngatik sebentar HPNya.

To: alyssaIFY
Fy, bawain gue bekal donk.
Gak sarapan gue. Lagi bete ma pelayan di rumah.
yayaya? :D Thx be4 ify cantik..



***



Sepulang sekolah. Dengan masih penuh semangat, shilla terus menggoes sepedanya. Dia tak peduli teriknya matahari begitu menyengat kulit, siang itu. dia hanya ingin segera sampai rumah untuk segera membantu ibunya mengedarkan kue jajanan hasil olahan ibunya ke warung-warung yang sudah berlangganan. Makanya tadi saat cakka mengajak berteduh dulu karena tidak tahan panas, shilla dengan cepat menolak. Asal sengatan matahari tidak membuatnya kehilangan nyawa. Biarlah, dia tersengat begitu.

Shilla mengerem pelan sepedanya, bermaksud untuk memberhentikan sepeda, bukan karena sudah sampai Melainkan terhadang lampu merah. Shilla mengelap peluh yang membanjiri pelipis yang mengalir hingga ke rahangnya. Lama sekali lampu hijau datang.

“nyet...” shilla hapal suara baritone dengan intonasi itu. meski daya ingat shilla terbilang lemah, kejadian itu masih kemarin. Jadi keterlaluan jika shilla melupakan kejadian dan pelaku dalam kejadian itu.

Akhirnya Shilla menoleh kearah kirinya, dan benar saja..... Pemuda yang sama seperti kemarin di pohon jambu air tengah berada dalam mobil yarris putih kinclong dan tersenyum dengan satu ujung terangkat, senyum angkuh dengan inisial meremehkan.

“Ngapain lo di situ nyet??” masih dengan senyum meremehkan rio-pemuda itu- menanyakan hal yang gak penting yang jelas banget bertujuan akan menghina.

“lo pura2 bego, apa memang dari sananya bego?”dan dengan tanpa rasa takut penuh kebencian shilla berucap sinis tanpa melihat rio.

Rio kembali di buat ternganga oleh gadis dengan ikatan kuda yang awut-awutan itu. “ini cewek mesti periksa mata deh kayaknya, kataraknya udah parah banget pasti. Cowok ganteng gini di judesin.”
Berusaha untuk tak memikirkan lebih jauh ucapan shilla yang terbilang tajem dan nusuk banget, rio membalas dengan tak kalah nusuk.”lo tuh yang bego! Orang terbego yang pernah ada malah, siang siang bolong gini sepedaan, pantes item.”

“kayak situnya gak item...” shilla tak kehabisan akal juga ternyata untuk melawan genjatan senjata dari rio. Ini juga Untuk kali pertamanya dia bicara sepedas ini terhadap orang. Tapi biarlah asal kata2 pedasnya itu di tujukan untuk orang yang tepat. Karena Shilla sudah sangat geram dengan pria yang ternilai kaya ini terus saja menganggunya, semakin geram juga karena lampu hijau terasa lama sekali jika di lalui dengan cowok gila yang seenak jidat mengganti-ganti nama nya itu.

Dan bagai ketiban uang sekarung dari langit, berada di taman penuh pohon sakura, terbang melayang ke langit ke tujuh. Lampu hijau menyala, kebebasan untuk shilla. dan kegelisah asing untuk rio.

Seperti Tak memperduliakan rio yang sudah panas dingin, ucapan sinisnya selalu terbalas telak oleh gadis kucel lawan bicaranya. Shilla menjulurkan lidah cepat, lalu mulai menggoes sepedanya untuk melaju meninggalkan rio. Dan Rio yang mengendari mobil yang tidak bisa selincah shilla menyerobot kemacetan siang panas itu, hanya memandang punggung gadis bersepeda yang semakin menjauh itu dengan dendam, lucu, aneh dan..... gelisah.


***




Pemudaa sipit dengan rambut ala koreanya itu kembali mematut dirinya di depan cemin besar berbingkai ukiran kayu jati yang terpasang tepat di dinding bagian kiri kamarnya. Tampan. Sudah pasti. Karena itu Pendukung nomor satunya sebagai seorang playboy. Pria brengsek kan dia? hal biasa.

Pemuda itu sudah bersiap akan pergi. Sebelum getaran halus pada celana jeans nya menghentikan langkahnya.

1 new massage

From: mario stevano
Vin, gue ga jadi keluar malem ini.
Hujan.

Alvin, pemuda itu. terdiam sesaat, memahami sms yang baru masuk ke Hpnya, dan dia paham. Setelah menggerakkan lincah kedua ibu jarinya di atas kypet Hpnya, alvin mengirim pesan yang kiranya tepat untuk membalas sms sahabatnya itu.

To: mario stevano
Tapi, gue udah siap2 mau keluar donk.
Gue ke rumah lo aja deh ya.
Daripada dandanan gue sia-sia.

Dan tak butuh lama HP pribadi kesayangan alvin kembali bergetar, balasan sms dari rio yang berupa balasan sangat singkat, hanya berisi kata “ok”. Dan itu memang sudah sangat menjawab.

Alvin menepuk jidat sendiri, baru saja teringat akan sesuatu. Dia kembali berhubungan dengan Hpnya, kembali menarikan kedua ibu jarinya. Dan tidak butuh waktu lama dia kembali memasukkan Hpnya ke dalam saku celana jeansnya. Dan segera berlalu.



***




Ify duduk sendiri dimeja kantin sekolahnya, 2 pemuda tampan yang biasa duduk bersama di tempat ini dengannya belum juga datang padahal istirahat sudah berjalan 10 menit, berarti tinggal 5 menit lagi waktu istirahat tersisa.

Ify memainkan ponselnya secara hikmat, entah apa yang dia lakukan dengan ponsel dengan dominan warna biru itu. dan sesekali dia juga menyeruput jus tomat kesukaannya.

Keheningan terjadi. Membuat ify aneh juga karena baru beberapa detik lalu kantin ini  terdengar riuh seperti halnya kantin biasanya. Kenapa menjadi hening tiba2 seperti ini? Dan ternyata.... saat ify mengarahkan pandangan ke arah pintu masuk kantin penyebab keheningan terjadi adalah 2 orang yang sedang di tunggunya.

“hai fy..” si kulit putih dengan rambut gondrongnya, menyapa ify manis. Bagi kebanyakan wanita di SMA ini berfikir ify adalah gadis terberuntung yang pernah ada bisa dekat dengan 2 pangeran SHS. Wajar jika banyak yang iri dan tak suka padanya.

Bukannya menjawab sapaan itu, dengan kesal ify mengomel saja.”kalian ini. Darimana aja deh? Tega banget biarin gue nunggu lama gini. Garing tau..”

“ck-, heran deh ma lo. Tiap hari kerjaannya ngomel aja? Gak pegel mulutnya?” si pemuda hitam manis kali ini yang angkat bicara, yang di sambut tawa oleh pemuda sipit penyapa tadi.

“rio ah, rese banget..” ify semakin di buat kesal saja.

“peace neng..” dan jitakan keras di dapatkan rio. Rio memajukan mulut cepat, di karenakan jitakan ify terlalu keras di kepalanya. Rio menjambak pelan rambut ify, sebagai bentuk pembalasan. Dan terjadilah perkelahian ringan di antara mereka.

“eh, gue pesen dulu deh. Titip gak kalian?” si mata sipit-alvin- memberhentikan begitu saja pertengkaran rio-ify. Tidak tahan juga diKACANGin.

“emm, mau deh. Kayak biasa aja...lo titip gak fy?”

“gak deh, lagi males makan...”

“wuu, pantesan kurus ceking gitu. Makan aja males-malesan...”

“Rio gausah mulai deh....”

Dan alvin segera berlalu, untuk memesan makanan untuk mereka.

“eh, yo. Mau cerita deh...” ify membuka suara kembali setelah sempat terjadi keheningan pasca di tinggal alvin pergi memesan makanan.

“apaan???” rio yang tak ahli menjadi pendengar cerita yang baik merespon apa adanya. Daripada gak di respon sama sekali, sama aja cari petaka.

“waktu itu gue pernah cerita kan ya, ada nomor yang suka ngeSMSin gue pake bahasa puitis gitu. Semalem sms lagi masa’?”

“Terus?”

“ya gue penasaran aja gitu yo, sebenernya itu siapa? Dari bahasanya nih yo. Pasti nih orang keren banget,.. gak kayak lo:P haha...”

“emang ada gitu yang bisa ngalahin karisma gue? Kalo ada pun di dunia akherat...” meski ucapan rio yang bermaksud bercanda itu tergolong aneh, tapi mereka berdua tertawa juga.

“ada apaan si ketawa2?... gue di ajakin napa..” alvin yang baru saja sampai dari memesan makanan, langsung duduk dan nimbrung seketika.

“gak ada apa2 vin, Cuma ini lho... cewek kita... ada pengagum rahasia gitu..” rio mencoba menjawab ketidaktahuan alvin langsung ke intinya. Yang oleh alvin di tanggapi dengan anggukan2 kecil tanda mengerti.

“gausah percaya rio vin, dia mah lebai. Yang sms gue itu orang iseng aja kali..” ify unjuk bicara, mencoba mengklarifikasi dan meyakinkan diri juga agar tak terlalu terbuai dan percaya oleh kata-kata manis dari puisi-puisi indah seseorang yang oleh rio di bilang pengagum rahasianya tadi. Dan alvin hanya sekedar mengangkat kedua bahunya untuk menanggapinya.


***




Sial sial sial. Kata itu berputar-putar di pikiran shilla. gadis itu menghela nafas panjang, mencoba membuang kekesalan yang sebenarnya tak baik untuk dia lakukan itu.

Di lanjutkannya lagi perjalanan panjangnya setelah sebelumnya berhenti sebentar di bawah pohon rindang di pinggir jalan. Panas. Panas sekali, itu juga yang membuat shilla merasa dia adalah orang tersial yang pernah ada. Sudah panas, ban sepedanya pecah, mau beli teh botol buat pereda haus gak ada uang pula. Sial sekali bukan??

“ah... sial..” shilla merutuk lagi, sepertinya klimaks kekesalannya tercapai hari ini. Shilla pusing sendiri memikirkannya, kenapa dari kemarin perjalanan pulang dari sekolahnya di lalui dengan menyebalkan!! Kemarin di ganggu si kunyuk, sekarang pecah ban dan mesti menuntun sepedanya di siang bolong menuju tambal ban yang tak tau kenapa seperti mendukung kesialannya, tukang tambalnya gak ketemu-ketemu.

Shilla terkejut sendiri, saat dengan tiba-tiba honda jazz dengan warna mellenium berhenti mendadak di depannya. Dan dengan kekesalan yang memang sudah menumpuk, shilla tidak tahan untuk tidak mengumpat si pemilik mobil itu. Baru shilla membuka mulutnya bersiap untuk mencaci, tapi segera pula ia mengatubkan kembali bibirnya. Saat melihat seseorang dengan senyum ramah andalannya keluar dari pintu samping pengemudi itu. dan entah hanya halusinasinya saja, seseorang yang ternyata pria itu membawa kesejukan tersendiri pada diri shilla. “senyumnya terlalu meneduhkan..”

“shilla sepedanya kenapa?” pria itu menghampiri shilla dengan mengajukan pertanyaan seolah mengerti bahwa sepeda shilla sedang terjadi kendala.

“sepedaku pecah ban nih kak. nyebelin banget kan kak, panas panas begini malah pecah ban...” shilla menjawab tanya si pemuda dengan nada –sedikit- manja. Kenapa shilla jadi seperti ini?

Setelah menangguk2 menyetujui penuturan shilla, yang memang ban sepeda belakang nya pecah. Pemuda itu berujar manis.”ayo kakak bantu...” dan saat itu juga si pemuda sudah mulai mengangkat sepeda shilla.

“lah? Kak gabriel mau gotong sepedaku nyampe tambal ban?” shilla bertanya polos, benar-benar tidak tahu yang ada di pikiran pemuda berkacamata itu.

Gabriel-si pemuda- tertawa kecil, lalu menurunkan pegangan tangannya pada sepeda yang tadi di angkatnya dan kini menggunakan tangannya itu untuk mengacak rambut shilla gemas. Polos sekali gadis ini.”ya gak lah shilla, sepedanya di naikin mobil kakak aja. Ntar kakak anter kamu sama sepeda kamu ke tambal ban.”

“emang bisa ya kak?” dan lihatlah shilla masih saja menanyakan sesuatu yang tidak penting seperti itu, shilla ini gadis polos apa gadis bodoh.

Dan Gabriel cukup mengangguk menjawab tanya shilla kali ini, lalu dengan segera dia memanggil beberapa bapak-bapak tukang becak yang tengah menganggur duduk duduk di becak mereka untuk membantunya menaikkan sepeda shilla ke atas mobilnya.

Dengan tambang hijau yang gabriel beli di toko tekstil tidak jauh dari tempat dia memparkir mobilnya, akhirnya gabriel dan bapak-bapak becak berhasil mengikatkan sepeda shilla di atas mobil gabriel. Lalu setelah memberi upah yang tidak bisa di bilang sedikit untuk sekedar membantu begitu saja pada bapak-bapak yang sudah mebantunya. Gabriel melajukan mobilnya menuju tambal ban mana saja yang akan dia dan shilla temui nanti di perjalanan.

Keadaan di dalam mobil jazz itu hening. Tak ada yang berkeinginan membuka suara saat itu. mereka tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Gabriel, yang tetap fokus saja dengan perjalanannya sambil mengamati adakah tambal ban yang ia temui. Dan shilla, yang sedang sibuk dengan fiikirannya yang menyatakan .”bahwa hari ini tidak jadi hari kesialannya, bahkan mungkin bisa jadi hari keberuntungannya. Bisa satu mobil dengan gabriel, itu sesuatu yang....waaww..”. shilla bahagia, sangat bahagia. Jika saat ini sedang tak ada gabriel di sampingnya mungkin bibirnya takkan berhenti tersenyum seperti orang gila.

“lap keringatmu, wajah kamu udah kayak abis kena banjir bandang. Hehe..” gabriel berucap masih dengan pandangan berfokus pada jalanan ibukota yang cukup ramai siang itu. dengan tangan kanan masih memegang stir, gabriel menggunakan tangan kirinya untuk menyodorkan saputangan biru laut miliknya.

Shilla yang saat itu pikirannya tengah terbang melayang ke langit ke tujuh sempat terkaget juga, gabriel bicara terlalu tiba-tiba. Yang meski akhirnya menerima sapu tangan dari gabriel dengan tawa kecil, tersipu. Dan dengan segera melaksanakan penuturan gabriel, yang dia pun menyetujuinya.

Dan siang itu indah.....

***



“sorry banget deh kka, nyokap gue asal banget nyuruh-nyuruh lo..” agni membuka suara, sebelumnya 10 menit perjalanan yang di laluinya oleh cakka dengan mobil avanza meliki ayah cakka, sangat hening bahkan suara radio atau apa pun tak ada.

Setelah agni menyelesaikan ucapnya. Cakka terkikik geli sendiri, mengingat bagaimana tante fina tadi menyuruhnya dengan keoptimisan “cakka pasti mau mengantar anak gadisnya pergi belanja ke swalayan untuk membeli kebutuhan bulanan”, dan itu membuat cakka jadi tidak enak sendiri jika harus menolak keinginan tetangga nya itu. “gak apa2 kok ag, guenya ikhlas. Lagian gue lagi nganggur juga tadi di rumah.” Cakka menjawabnya santai.

“bohong banget. Lo kan tadi lagi baca komik, dan gue tau kalo lo lagi baca komik lo paling gak suka di ganggu...” agni bicara lancar, secara tidak langsung membuka kartunya.

“eh? Kok tau lo... suka ngintipin gue ya..” cakka menanggapinya tanpa bermaksud apa2. Hanya sekedar bercanda saja, agar suasana di mobil itu tak seperti sedang di isi 2 orang yang tak saling kenal.

Tapi nyatanya, agni tersentak hebat dengan penuturan cakka. Tahukah anak ini? “eh.. ng..gak kok, males banget ngintipin kamu. Orang gue tadi gak sengaja liat aja, lo kan tau kamar kita sebrangan gitu.”Dengan kegugupan mencapai ubun-ubun kepala, agni mencoba menjawab sebiasa mungkin.

“hehe, Bercanda agni..”agni dengan cepat menhela nafas tak kentara, setelah mendengar jawab cakka.

Agni diam sendiri, takut-takut cakka berfikir macam2. meski cakka tampak biasa saja, tapi tetep saja. “malu-maluin...” jerit agni dalm hati. Dan seketika pipinya memanas, lalu tanpaa di sadari bersemu merah tanpa di minta.

“ngegemesin...” oh god, oh dewi fortuna katakan semua ini bukan mimpi. Baru saja, saat agni tengah menetralisasi kegugupan nya hingga membuatnya ketar-ketir sendiri, di tambah pipinya memanas hingga merona. Cakka menyubit pipinya pelan. Percayalah. Ini untuk pertama kalinya. “mamaaaa!!! Love you udah minta cakka nganterin agni.. ayeee!!!”

*


Seperti halnya pria gentle lainnya, cakka yang membawakan troli belanjaan agni yang terbilang banyak. Tapi wajar saja, namanya juga belanja bulanan. Mama nya juga kalo belanja bulanan, belanjaan nya menggunung. walau biasanya yang menemani mamanya belanja kakaknya. kakaknya itu berandal tapi dia sayang keluarga banget. Jadi kakaknya biasa nawarin ke mama cakka buat nganter belanja. Jadilah cakka tak pernah sekali pun membantu mamanya memutari super market untuk belanja, biasanya dia hanya sekedar membantu membawa masuk belanjaan dari mobil ke rumah.

 Dan cakka kini baru tahu rasanya menemani orang belanja, seru juga. Apalagi kalo yang belanja itu agni, gadis itu kesusahan sekali sepertinya memenuhi daftar belanjaan yang di tuliskan mamanya. Apalagi dengan pengalaman belanjanya yang pas-pasan, bikin dia ketar-ketir sendiri bolak balik nanya petugas swalayan nanyain tempat barang yang dia cari. Dan itu tampak lucu di mata cakka.

“yang belum apa lagi ya..” agni kembali mengamati deretan huruf di daftar belanjaan nya, satu lagi. Tapi....... agni dengan pelan-pelan menolehkan kepala ke arah kirinya, menatap cakka yang yang ternyata juga tengah menatapnya. Seketika agni menunduk memalingkan pandang, dan pipinya kembali memanas.

“mau nyari apa lagi..?” cakka yang tak menyadari kesalahan akan tingkah agni, bertanya masih dengan semangat seperti sebelumnya.

“emmm... Lo gak mau ke toilet kka???” cakka menyerengitkan dahinya lalu menggeleng pelan. Masih bingung dengan pertanyaan agni yang tanpa makna.

“yaudah kalo gitu, gue aja yang ke toilet...” dan tanpa menunggu jawaban cakka, agni segera berlalu dengan langkah tak aturan. Tapi baru beberapa meter jaraknya dari cakka, agni berhenti. Berfikir,”kalo gue ngambil nih barang tanpa trolli, ntar nih barang cewek mau di taruh mana coba. Masa di tenteng?? Itu sama aja, menunjukkan aib terang-terangan..” lalu agni memutuskan berbalik.

“sini kka, troli nya gue aja yang bawa..”

Masih dengan kebingungan penuh melanda. Cakka mengajukan tanya.”lo mau ke toilet bawa2 troli?”

Agni menepuk jidat, bingung harus bagaimana lagi. Sudahlah, sudah terlanjur nampak bodoh. “ iya, lo duduk aja di situ... gausah ikut gue” agni menunjuk bangku panjang yang memang di sediakan oleh pihak swalayan untuk di gunakan para pengunjung untuk menunggu, lalu dengan cepat kembali berlalu. Dan cakka menuruti perintah agni, masih dengan tampang inoccent.

Setelah memastikan dirinya aman dari jangkauan pandangan cakka, agni segera berjalan ke bagian rak-rak yang isinya berbagai merk pembalut wanita. Huh, intim sekali kan barang ini.?
Agni memilih pembalut yang di maksud di daftar belanjanya. Charm isi 20. Lalu agni mengedarkan mata. Dan itu dia.... di rak paling atas.

Meski tidak yakin tangannya bisa menjangkau pembalut yang di maksud. Agni tetap berusaha mengambil barang itu. dan benar saja, dia tidak sampai. Agni mengedarkan pandangan, mencoba mencari petugas khusus wanita yang kiranya tinggi untuk mengambilkan 2 pack untuknya.

Sudah beberapa menit dia di situ, tapi usahanya tak kunjung membuahkan hasil. Dan dia pun tak kunjung mendapat petugas swalayan kriterianya. “semangat agni, pasti bisa!!!!” entah sudah ke berapa kali nya dia menyemangati diri seperti itu. dia menjulurkan kembali kedua tangannya. Dan masih tidak sampai. Harus bagaimana lagi dia?

Dengan tanpa sadar agni mengikuti gerak tangan seseorang yang baru saja menyaingi tangannya mengambil barang incarannya, dan tangan itu berhasil. Dan tidak di sangka 1 pack pembalut itu di sodorkan ke arah agni. Yang reflek membuat agni mendongak ke arah seseorang yang berada di serong kiri belakangnya.

“kyaaaa...” agni berteriak heboh, dan dengan tiba-tiba serta tanpa sadar tangan kanan nya meraih 1 pembalut terdekat darinya lalu di pukulkan dengan keras tepat ke muka si penyodor pembalut.

“agni.... sakit.!!!” Dan tak kalah heboh, si penyodor yang ternyata pria itu berteriak keras. Dengan tangannya mengusap pipi kirinya korban pukulan agni.

“emmm....” agni dengan salah tingkah, malah jadi bingung sendiri ingin menjawab apa.  Tidak enak juga dengan pria itu yang di pukulnya padahal tidak ada salah apa2. Dan akhirnya.. “salah siapa juga? Kan udah gue bilang tadi, gausah ikut!!!” agni dengan rasa malu yang menumpuk menjawab tak mau di salahkan mengalihkan malu.

“ya abis lo lama sih, ya gue susul...” cakka yang masih belum selesai mengusap pipinya, menjawab dengan bibir sedikit di manyunkan.

“ya maap deh, reflek tau. Kaget liat muka lo...”

“ya wajar sih, muka gue kan ganteng...

“ih, pd..!”

“hehe, udah selesai belum belanjanya?”

“udah, tapi ambilin satu lagi.. hehe??

Agni telah selesai dengan acara belanja bulanannya, kini ia tengah antri untuk melakukan pembayaran. Yang memang antrian nya cukup panjang, karena sore ini pengunjung swalayan cukup ramai. Sedangkan cakka, agni sendiri tidak tau anak itu sedang di mana. Pasalnya mereka tadi berpisah di ujung rak yang menyimpan berbagai pembalut wanita itu.

“ag, beliin ini ya..” agni segera mengalihkan pandangan ke samping kirinya, saat cakka secara tiba-tiba berucap dan menjatuhkan sebungkus coklat ke troli di depannya.

“bukannya lo alergi coklat cakk?” agni bertanya dengan menautkan kedua alisnya.

“iya... Ini buat shilla. dia kan demen banget beginian..”

“Ooo.. kamu gak minta buat kamu sekalian...” dengan perasaan tak menentu agni berucap berusaha seperti biasa, walau tak hanya pipinya kali ini yang memanas. Namun juga matanya.

“gak deh... ntar gue kesannynya  bantu gak ikhlas lagi.. hehe...” cakka tersenyum, dan agni pun juga.

Rabu, 04 Januari 2012

Kamu Untuk Aku (part 1)

Dunia malam. Bukan hal yang tabu lagi bukan?.
Salah satu permainan dunia kah ini?
Apa saja sebenarnya kisah di balik dunia ini? Siapa yang tau?.

Malam itu makin larut, dan pengunjung tempat berkelap-kelip itu bukannya berkurang tapi semakin membludak saja. Lantai dansa dengan cahaya remang yang tadinya lenggang kini bak lautan manusia. Penuh. Sesak. semua aroma, semua perbedaan, bercampur jadi satu. Sepertinya paham komunis berlaku di tempat itu. milikmu milikku juga, kurang lebih begitulah tempat itu. tempat dengan hentakan hentakan musik keras dan tempat minuman keras bahkan seks bebas beredar. DISKOTIK.

Semakin malam, semakin sesak saja. Rasa tak nyaman mulai di rasakan beberapa pengunjung. untuk mendapat segelas minuman saja mulai sulit. jika ingin turut berdansa pun rasanya sudah tak mungkin melihat keadaan lantai dansa sudah di penuhi kaum adam maupun hawa, yang masih sadar maupun tak sadar lagi.
Tapi camkam, aturan -tidak nyaman- itu tidak berlaku untuk pria balutan baju bermerk yang saat ini tengah duduk di sofa lembut yang tak kalah bermerknya. Dari tampilan dan tempat khusus miliknya itu, sudah bisa di pastikan pemuda ini adalah seseorang yang memiliki kekuasaan. Tentu. Dia itu Mario Stevano. Siapa yang tak kenal dia. anak konglomerat pengusaha minyak yang cabang nya sudah tak terhitung lagi banyaknya. Di tambah lagi usaha hotel bintang 5 di berbagai negara yang di kelola mamanya.  Wajar jika saat ini pemuda itu jadi incaran utama gadis indonesia, tempat di mana ia tinggal kini. Sudah kaya, tampan, tinggi, pintar pula. Adakah yang kurang dari pemuda ini?

“Rio, ayo minum yang banyak sayang...” ucap gadis dari sebelah kanan rio, salah satu gadis yang umurnya tak terpaut jauh dari rio atau mungkin sebaya dengan rio, gadis penghibur bayaran rio. Tangannya pun mulai mengelus pipi rio dengan dramatis. Di sertai gerakan tubuh eksotis yang sengaja di lenggok2kan menggoda, mencoba merayu.

Rio mengangkat ujung kanan bibirnya, senyum angkuh andalannya.”ogah.. gue gak goblok buat percaya ma tipuan lo..”ucap rio datar, tenang, tanpa menatap bahkan melirik pun tidak ke arah gadis penghibur itu. sudah paham betul maksud si gadis menyuruhnya terus-terusan minum. Berskandal menjebak yang sinetron banget. ”jadi gak usah sok sexi gitu, gue gak gak nafsu ma lo. Pergi sono.” Rio menambahkan kalimatnya penuh penekanan kali ini, namun tetap tak menatap si lawan bicara. Dan seketika gadis itu pergi, dia tak ingin mencari gara-gara dengan putra mahkota itu Cuma gara-gara di suruh pergi tak mau. Alasan yang tak terlalu penting untuk mengorbankan pekerjaannya. Karena dia yakin, dia tak menuruti pangeran angkuh itu maka kata pecat akan terucap dari bossnya untuknya.

“wetsah parah lo bro!!! Cewek paling cakep plus yahuud di sini, masih aja di usir. Mau yang gimana lagi sih?” alvin. Sahabat rio. Menimbrung begitu saja.

“ mau yang gak murahan!!!” jawaban rio dengan senyum alanya di ujung kalimatnya. Bahkan rio tak yakin jika masih ada gadis seperti yang ia ucapkan di dunia ini.

“haha, aneh. Berarti lo salah tempat. Cewek di sini discount man, barang obral.” Dan serentak kedua pemuda yang sebenarnya belum cukup umur untuk berada di tempat haram itu tertawa berbahak. Entah apa yang mereka pikirkan?


***


Anak-anak putus sekolah di gang gembong, salah satu pemukiman kumuh yang ada di jakarta. Kini sudah bisa bernafas lega. Ekonomi, faktor utama mereka tidak dapat lagi menikmati bangku sekolah , kini tidak lagi di pikirkan. Kini mereka memang tidak sekolah, tapi setidaknya mereka bisa belajar.

Pemuda tampan yang merupakan seorang dokter muda yang baru saja menyelesaikan kuliah kedokteran nya di universitas indonesia, 7 tahun terakhir ini –lah yang memberi setitik harapan si anak-anak kurang beruntung itu. ketulusan hatinya lah yang membawanya ke tempat ini, membagi ilmu sebisanya. Meski pendidikan bukan jalur kuliahnya, tak terlalu sulit mengajari anak2 berkisar kelas 4-6 SD ini. Pemuda itu, Gabriel stevent danamik.

Siang itu. matahari tidak terlalu bringas menyengat. Gabriel sesuai jadwal mengajar -kamis, jum’at, sabtu- tengah mengajar siang itu. kali ini mengejar kelompok pertama, kelas 4 dan 5 sebanyak 10 orang. Dan nantinya setelah ini kelompok kelas 6 sebanyak 7 anak, kini anak-anak yang belum waktunya belajar sebagian belum datang dan sebagian lagi tengah bermain di halaman serambi yang di gunakan gabriel untuk mengajar.

“selamat siang....” gabriel tersentak juga, suara itu begitu semangat dan melengking di telinga nya. Di lihat nya pintu masuk serambi itu, ada gadis dengan rambut ikat kuda tengah tersenyum lebar dan menenteng kotak bekal berukuran besar di tangan kanan nya.

“ada apa?” tak ingin membuat si gadis menunggu lebih lama, gabriel berucap sambil berjalan mendekati tempat gadis itu berdiri. Si gadis yang di tanyai bukannya menjawab, malah terbengong.”kirain pak guru sukarelawan sudah bapak bapak berumur, ternyata... ganteng pisan euy..” pikir si gadis bahagia sendiri.

“hei” merasa cukup lama tidak mendapat jawaban, gabriel kembali mngeluarkan suaranya.

“eh, maap pak guru. Jadi ngelamun...” si gadis tersipu saja. Lalu segera melanjutkan ucapannya tak ingin tampak lebih bodoh.  “ini,, mau nganter kue pesanan, pak guru.”

Gabriel menyerengit bingung, pasalnya yang biasa mengantar kue yang akan di berikan pada anak didiknya seorang ibu yang tetap terlihat cantik meski umurnya sudah berkisar 38an tahun. Dan sekarang lihat lah, yang mengantar seorang anak gadis yang manis dan mungkin umurnya masih 17 tahun.”kue dari bu ina maksudnya?” tidak ingin semakin bingung, gabriel menanyakan juga.

“eh iya lupa.. Kenalin pak guru, saya shilla anaknya ibu ina. Hehe,,”dan dengan senyum ramah menghiasi wajah shilla-si gadis, menjawab tanya gabriel.

“oh iya iya. Terimakasih ya shilla sudah mengantar.”

“siip deh, kalo begitu saya permisi dulu ya pak guru..” dan masih dengan ramah shilla mengangguk sekilas dan segera berbalik untuk berlalu.

“shilla.” belum sempat shilla melangkahkan kakinya, gabriel memanggilnya. Hey ada apakah gerangan?. Saat shilla kembali berbalik menghadap gabriel, dengan cepat gabriel kembali berucap “ nama saya gabriel. Kamu gak perlu panggil saya pak guru, saya belum terlalu tua untuk jadi bapak-bapak, hehe, kamu bisa panggil saya kakak.“ shilla tersenyum, tak tau apa maksud dari senyumnya?.
Yang jelas ucapan gabriel itu hanya di acungin jempol olehnya.

Shilla sudah berjalan menghampiri sepedanya yang terparkir rapi di halaman serambi. Sebelum dia mulai menggoes untuk menjalankan sepedanya, dia berbalik kembali menatap gabriel yang masih berada di tempat tadi, shilla melambaikan tangan seraya berkata.” Dada pak guru ganteng...” dan detik berikutnya shilla mulai berlalu, dan hilang di pertigaan jalan.

Gabriel geleng-geleng sendiri melihat tingkah gadis yang baru ia kenal itu.”shilla, shilla, unik sekali gadis itu...”


***



Gadis dengan dress denim selutut keluaran terbaru itu sudah hampir 1 jam duduk sendiri di salah satu bangku di taman pinggir kota itu. sendiri? Tidak sendiri mestinya. Tapi, keadaan yang menjadikannya saperti anak ilang gak ada temen seperti itu. pasalnya seseorang yang harusnya bersamanya saat ini, belum datang Setelah satu jam dari waktu yang sudah di janjikan. Dia sedang menunggu. Siapa yang suka menunggu? Dia pun tak suka. Menyebalkan sekali orang yang menciptakan kejadian menunggu itu.

“anak ini,, telat lagi kah?...” gadis itu kembali menggerutu, entah sudah keberapa kalinya untuk gerutuan yang sama.

“sorry telat!!!....” suara itu muncul begitu saja, dan seketika si pemilik suara menjatuhkan tubuhnya tepat di samping si gadis penunggu, masih di bangku taman yang sama.

“mario!! You become very annoyed....!!!” si gadis mengamuk begitu saja, biarlah orang yang di panggil mario itu kelabakan menghadapi pukulan bertubi-tubi darinya.

“slow girl,...” dan saat itu si tangan gadis sudah di pegang erat oleh mario-rio-, bermaksud menghentikan serangan. “gue telat juga gak sengaja, semalem abis begadang PSan ma alvin. Jadi ya kesiangan.” Rio mencoba menjelaskan, memang sudah jadi kegiatan rutin rio dan alvin untuk menghabiskan malam minggu bersama. Berarti dia tidak bohong kan? Pikirnya nyeyel sendiri. tidak tertinggal di sertai senyum tanpa dosanya di ujung kalimatnya.

“gue gak butuh alesan lo tau.. gue nunggu nya gak sebentar. 1 jam rio, 1 jam...” si gadis dengan ngeyelnya menjelaskan penuh penekanan, terlihat sekali masih kesal dengan tingkah rio.

“maka dari itu ify sayang, gue minta maap. Di maapin aja napa?” tak kalah ngeyel rio menjawab seadanya dan sebisanya seorang mario yang pasalnya jarang mengucapkan kata sakral itu, “Maaf”.

“lo tuh ya memang dasar... dari dulu gak berubah. Gak pernah ONTIME...” ify-si gadis mulai bersikap biasa, tak ada kilat kekesalan lagi di matanya saat mengucap kalimatnya kali ini.

“takdir fy. Hehe... jadi di maafin nih ya..”

“oh, tidak semudah itu marioo...”

“lah terus...”

“ada syaratnya donk...”

“ck-, okeoke.. apaan syaratnya?...”

“beliin gue balon itu tuhh...”ify mengutarakan syaratnya dengan manjanya, tangannya menunjuk nunjuk penjual balon di bawah pohon alkasia yang cukup jauh dari tempatnya duduk kini.

“yah ify, kayak anak kecil banget sih. Males ah, Jauh gitu tempatnya, panas tau. Yang lain deh syaratnya” Rio memasang wajah melas gila2an. Pasalnya siang itu memang matahari tengah gencar-gencarnya me-manas-i bumi. Dia Tidak akan mau berpanas-panasan sia sia. Kecuali di situ ada salah satu pelayannya yang akan siap sedia memayungi dia saat hujan ataupun panas.

“yaudah kalo gamau. Gue Gak maksa sih. Tapi gausah mimpi aja dapet maap dari gue..” dan lihatlah ify, dengan pongahnya dia menanggapi keluhan rio.

“nyebelenin deh lo. Iye iye gue beliin. yang Warna apa??”

“Biru...”

*



Setelah melakukan perjalanan Dengan usaha yang super ekstra, bagai melewati jalanan berduri dan di payungi payung api akhirnya rio mendapatkan apa yang di inginkan ify. Balon biru.

“beli minum dulu deh,..” rio berucap sendiri sambil mengusap peluh keringat yang mulai mengaliri pelipisnya. rio berjalan kearah penjual minuman yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat si penjual balon, manalagi jalan menuju tempat penjual minuman terlindungi dari sengatan matahari. Banyak pohon2 di taman bagian itu. setidaknya, sedikit mengurangi ketersiksaannya.

“pocari nya dua..” rio mengutarakan nama minuman yang akan dia beli dengan gaya biasanya, angkuh dan berkuasa. Lihatlah cara mengucapkan nya saja tanpa embel2 apapun, cukup tujuan dia datang ke situ..

“10 ribu mas..”

Dan tanpa ingin mengulur waktu rio segera mengeluarkan dompet kulit mahalnya, dengan isi yang tak di miliki seperti halnya pemuda remaja biasanya, jumlah rupiah di dalamnya banyak bahkan terlalu banyak. Tapi, rio itu teledor. sangat teledor. Saat perhatiannya di alihkan untuk mencari uang 10 ribuan diantara uang 50ribuan dan 100ribuan dia tidak memperhatikan tali yang menjadi pegangan balon birunya mulai renggang. Dan, akhirnya... terlepas.

Rio sempat kaget, tapi dengan cepat dia kembali biasa saja. Tidak perlu kaget juga, Balon murah seperti itu bukan hal yang sulit untuk dia beli. Kecuali.....  saat dia berbalik bermaksud untuk membeli kembali balon kepada si penjual balon dimana dia beli balon pertama yang terlepas itu, sudah TIDAK ADA. coba ulangi, TIDAK ADA.

“damn..” rio teriak tertahan. Minuman yang sudah ia beli di lemparnya dengan sembarang. Pusing juga memikirkannya ”bisa mati gue di omeli ify....”

Rio, menengadahkan kepalanya, lalu dengan segera mengedarkan pandangan ke arah pohon-pohon rindang yang tak sedikit jumlahnya. Menaruh harapan kalo saja tuhan sedang berbaik hati membuat balon itu tersangkut di salah satu pohon banyak itu. dan.. hei. Yang benar saja. Do’anya terkabul, dia melihat balon yang sudah dia beli tadi tersangkut di pohon jambu air  yang tak jauh darinya.

Dengan cepat rio menghampiri pohon jambu air yang rimbun dan cukup tinggi itu. dia tak langsung memanjat -yang merupakan jalan satu-satunya untuk dapat mengambil balon biru miliknya-, dia malah masih bertahan di bawah pohon jambu air yang letaknya memang cukup mengerikan-pinggir taman yang bawahnya sungai yang lumayan curam-. Sudah barapa tahun dia tidak lagi memanjat pohon, seingatnya kelas 6 SD terakhir dia memanjat. Dan, kini dia sudah kelas 3 SMA. Bayangkan, berarti itu sudah 5 tahun yang lalu. masih selihai dulukuah dia? atau sudah tak bisa lagi? Berbahaya kan jika dia tak bisa lagi memanjat?.

Setelah cukup lama memikirkan lebih jauh dampak serta akibat yang akan terjadi nantinya jika dia memanjat atau tidak. Rio mulai memanjat pohon tinggi itu. yang dia fikirkan, “lebih baik masuk jurang daripada di omelin ify..”

Rio memanjat pohon yang daunnya menggerombol di atas, dengan kata lain pohon itu lurus dan bercabang di bagian atasnya. Rio berhasil memegang salah satu batang, artinya dia sudah mencapai segrombolan daun.

“waaa...” keduanya saling berteriak. “orang? gue kira monyet..” rio berucap dengan datarnya, begitu nyeblak dan tanpa merasa bersalah atau bagaimanapun. Dan seseorang yang sudah berada terlebih dulu berada di pohon itu, yang tadi berteriak kaget juga saat tiba-tiba kepala rio muncul dari dedaunan bawahnya hanya menyerengitkan dahi, sebal juga di bilang monyet oleh orang asing yang tak sopan itu.

“mau ngapain lo?” seseorang itu tak tahan juga untuk tidak berteriak galak pada si pria penyeludup pohonnya itu.

“gausah GR. yang pasti, gue naik pohon ini bukan buat ketemu lo..” rio yang mulai berusaha menggapai ranting tempat balonnya tersangkut menjawab masih dengan datar.

“eh, gue Cuma nanya!!!!. Siapa juga yang GR? Please ya, Males banget GR karena lo...” seseorang yang ternyata seorang gadis itu menjawab dengan pongahnya. “Ini orang anak siapa sih? Belagu banget” pikir gadis itu tidak bisa menahan kekesalannya.

Mau tak mau, rio di buat heran juga. Tak tergila2kah gadis ini dengan dirinya yang anak tunggal orang terkaya seASIA TENGGARA ini?.  apa Ada yang salah dengan penampilan nya hari ini? Atau memang gadis ini saja yang kelainan?. Tak taulah, tak penting sekali memikirkan gadis pecicilan seperti dia. “ gue mau ambil balon...” dan lagi masih dengan datar serta tetap terfokus menggapai balon nya, rio menjawab apa adanya.

Si gadis yang sebal juga dengan tingkah rio, akhirnya mendongak juga untuk memastikan omongan si pemuda yang menurutnya mengganggu dirinya itu benar atau tidak. Dan ternyata, benar saja, ada balon biru yang tersangkut di ujung ranting yang cukup tinggi. Setelah memastikan, si gadis hanya manggut-manggut tak ketara dan mencoba mengabaikan pemuda-yang lumayan juga- itu.

Sudah hampir 10 menit rio mencoba menggapai balonnya, tapi tetap saja hasilnya gagal. Balon itu masih jauh dari jangkauannya. Dan dia sudah tidak berani memanjat lebik ke atas lagi. Dan tidak ketinggalan bermacam2 gerutuan di hasilkan dari bibir manisnya.
“eh lon, turunin diri lo kek...”

“balon, gue tusuk juga lo. Biar meletus sekalian..”

“balon, deketin gue napa...”

Dan masih banyak lagi omelan rio. Meski tak terlalu keras rio berucap, namun jelas untuk terdengar si gadis yang berada di satu pohon yang sama itu. lama-lama tak tahan juga.

“bisa gak sih mas ngambilnya. Lama banget, lo di sini tuh ganggu tau gak..” dan dengan blak-blakan juga galaknya si gadis berucap juga.

“menurut lo?..” si rio yang dasarnya sudah lelah dari tadi tidak berhasil mengambil balon miliknya menjawab malas-malasan tanpa penekanan.

“ck-, minggir minggir...” dan detik itu juga dengan kekesalan yang menumpuk si gadis dengan gesit memanjat pohon lebih tinggi, lalu dengan cepat menggapai tali balon itu dengan mudahnya. “nih...”
Balon itu sampai di tangan rio.

Rio tersenyum khas, mengangkat ujung bibir kanannya. “dasar manusia jadi-jadian...” rio berucap di sertai tawa kecil saat mengucapkan kalimatnya. Ini bukan dia sekali.

“apa??” dan si gadis yang memang tidak terlalu jelas mendengar, dengan cepat mengajukan tanya.

Rio segera turun dari pohon itu, tanpa satu kata pun. Tak menjawab tanya gadis itu bahkan kata terimakasih yang mestinya di ucapkan olehnya pun tidak terucap. Setelah kakinya sudah menginjakkan tanah. Dia berucap yang di awali tawa kecil sebelum nya, yang di ucapkan dengan datar alanya “ lo itu manusia jadi-jadian, jadi-jadian dari monyet...”

“puuukk!!” dan seketika itu rio mengusap dahinya, baru saja jambu air berukuran sedang mengenai dahinya dengan keras dari atas, sesaat setelah dia menyelesaikan kalimatnya.  Saat dia menengadahkan kepala melihat dari mana asalnya. Dan siapa lagi kalo bukan si gadis di atas pohon yang saat ini tengah menjulurkan lidah, lalu berseru.”rasain!!!”

Tak mau di perlakukan seperti itu, dengan cepat rio mengambil jambu yang berjatuhan di bawah pohon bermaksud untuk memberi serangan balasan. Baru saja akan melempar, si gadis itu sudah tak terlihat ternyata-mungkin dia sudah memanjat ke batang yang lebih tinggi-. Dan sambil melempar jambu itu tanpa arah dan sia-sia, rio berteriak gila2an.”dasar siluman monyet sialan!!!!”

Minggu, 04 Desember 2011

Sore Itu (cerpen)

Bisa bersama Cinta itu bukan hanya soal keberanian dan pengorbanan.
Ada saat nya bersatunya cinta itu butuh kesabaran dan penantian.

Sama dengan sore biasanya. Aku di sini, masih mangamatimu, mengawasimu, menghayatimu. Di salah satu bangku taman dekat sekumpulan bunga sepatu bermekaran. Tempat paling aman kurasa, untuk mengintaimu tanpa menganggumu. Gadis soreku.
Entah, sudah berapa lama kebiasaan ini di mulai. Yang jelas kini aku mulai terbiasa dan menikmatinya. Dan ini semua erat hubungannya dengan Gadis soreku. Yang sangat menyukai suasana sore taman. Suasana yang mungkin secara tidak langsung yang juga membuatmu berbeda dengan gadis lainnya. Berbeda? Berbedakah kamu?.  tentu ada jawab dalam sebuah tanya. Dan biarlah ceritamu yang menjawabnya.

***

Langit sore itu cukup indah. Meski awan nampak menggelayut hitam, namun masih tetap menyisakan semburat jingga di horison. Sedangkan, diatasnya tampak biru dengan pandaran warna pelangi diantara awan. Cukup indah bukan?
Mungkin, itu alasan pria yang sudah satu tahun berjalan bersisian denganmu itu mengajakmu ke taman kota favorit kalian, hampir tiap sore cerah kalian datang ke tempat itu. Alasannya apalagi kalo bukan untuk dapat menyaksikan langit senja yang begitu di gilai pria tampan-kekasihmu -. kamu juga tak tau pasti apa yang membuatnya begitu suka melihat langit berwarna jingga, tanda pergantian hari itu. Karena setiap kamu menanyakannya?  dia hanya menjawab selalu dengan senyuman. kamu pun juga tak mengerti apa maksudnya? Yang jelas setelah melihat senyuman itu membuatmu terdiam dan tak ada niat untuk memaksa. Biarlah, asal dia bahagia.

Langkah kaki pria di sampingmu berhenti. Jemarimu yang bertautan dengan dia membuatmu turut berhenti pula. Namun, sedikit di depan pria tampan itu. kamu mendongak ke belakang, ke pria yang saat ini –tak tau karena apa- tengah tersenyum polos memamerkan deretan gigi putihnya. Masih tidak tau apa maksud pria itu, kamu menautkan kedua alis tipismu. Hanya sekedar tanda untuk dia bahwa kamu itu tidak mengerti dengan sikap dan ekspresi yang di sajikan untukmu.

“capek gak?” tanya RIO-pemuda sebagai kekasihmu- cukup aneh, dan membuatmu semakin tidak mengerti saja. Belum sempat kamu merespon,dia melanjutkan ucapan anehnya.”ku gendong yuuuk???” dannn.... percayalah ini kalimat terunik yang pernah terlontar dari mulut rio, sejak kapan mario stevano menawarkan untuk melakukan tindakan yang gak banget bagi cowok sok cool yang super duper jaim seperti rio ini.. dan kalimat itu membuatmu bengong dan tampak bodoh saja. 

“Mau kan?......  sippp dehhh..” dan masih belum sempat menanggapi ide gila bin ajaib yang terlontar dari mulut rio, tubuhmu sudah berada di punggung rio. tangan-tangan kokoh rio sudah menyangga kedua pangkal bawah pahamu agar terangkat. Kamu sudah di gendong belakang oleh rio.

“Rio.. turunin ah.. maluuuu.” Ucap shilla-kamu- tersipu. Bagaimana tidak? Berpuluh-puluh pasang mata tanpa komando secara serentak langsung mangalihkan pandangan pada kalian yang noteben nya tengah pamer kemesraan di depan umum-.-

“pegangan...” ucap rio masih tak menggubris ucapan shilla. Dan lagi lagi belum sempat shilla melakukan tindakan rio sudah beraksi. Nyaris tubuh shilla terjengkang ke belakang, jika tidak dengan gesit shilla menarik tudung jacket rio. rio sudah berlari-lari membawa shilla. Senang, tapi takut juga. Itu yang shilla rasakan.

“rio..pelan-pelan..” omel shilla tegang. Rio  terus membawa shilla berlari-lari meski mereka sudah sampai di tempat biasa mereka duduk-duduk berdua menghabiskan sore bersama.”rio....awas.... nantiii......”

“bruuukkk!!!!” belum sempat shilla menyelesaikan kalimatnya yang sebenarnya tinggal satu kata lagi. Kata pelengkap kalimatnya sudah terjadi. Jatuh. Ya mereka jatuh. Bahkan shilla sampai terpental beberapa senti dari rio.

Shilla sedikit memajukan bibirnya. Pura-pura merajuk. Dan dengan kasar dia menepuk-nepuk celana jins nya bermaksud untuk membersihkannya karena sedikit kotor. Rio? Apa yang dia lakukan? Setelah terdiam sesaat akhirnya pria itu sadar bahwa kekasihnya tengah gila2an memajukan beberapa senti bibirnya.

Belum sempat rio berucap maaf dan kata penyesaan. Shilla memotong cepat,” rio! Kamu apaan deh. Kan tadi aku udah bilang, pelan-pelan aja. Kok kamu gak dengerin. Malah lari-larian gak jelas, di kiranya masa kecil saya kurang bahagia. Terus sekarang yang terjadi apa? Jatoh kan...”

Dan dengan penuh ketenangan rio mengusap kepala shilla yang masih kesusahan mengatur nafasnya setelah berucap dengan panjang nya. “maaf ya..” ujar rio tulus tidak lupa dengan senyum manisnya.

“maaf maaf... enak banget bilang maaf.. sakit tau!!” meski masih dengan bringas nya sudah terselip nada manja di kalimat shilla kali ini.

“maaf beneran ini, akunya nyesel.” 

“Lagian tadi apaan deh pake gendong2 segala, biasanya juga gak pernah...”

Dan kembali dengan senyuman, rio menjawab santai “gak apa.. mumpung masih bisa.”

“eh...?”

“pulang yuuk, udah hampir malem.” Seperti tak memberi kesempatan pada shilla untuk mengklarisifikasi kebingungannya, rio menyela begitu saja.


***


Kamu masih sama seperti kemarin, tepatnya dua hari kemarin. Berarti ini hari ketiga kamu sama seperti itu. Waktu istirahat di lalui dengan Duduk di bangku taman sekolah, diam dan sendiri. Muka yang kusut, rambut di ikat apa adanya, lingkaran hitam di sekeliling mata, tatapan kedua telaga bening matamu tampak kosong, dan kamu nampak beberapa kali menghela nafas panjang. Sesak sekalikah?. Kamu tak seperti dulu, sebelum 3 hari kemarin. Aku paham, paham sekali apa yang membuatmu seperti ini?. Mungkin begitu wujudnya jika sudah 3 hari tidak bertemu dengan kekasih tanpa kabar sama sekali. Gelisah kah? “tenanglah! Takkan lama lagi.”

“hei,” dan sapaan itu buktinya. Yang membuatmu yang sedang menangis sambil tertunduk seketika  mendongak saat mendengarnya. “nikmatilah! Sebisa kamu”

Dan tidak butuh waktu lama shilla-kamu- menubruk tubuh tegap kekasihnya yang tengah tersenyum lebar tanpa dosa kearahnya? Lihatlah ekspresi pria itu seperti tidak menghargai shilla saja yang terus2an menangis atas kehilangan kabarnya. Tapi biarlah, saat ini shilla tak ingin memusingkan perihal ekspresi awal kekasihnya setelah tiga hari tak bertemu dan tanpa kabar itu. Yang dia ingin hanya satu. Melepas rindu. Jika terpenuhi, itu saja sudah lebih dari cukup.

 Dan dalam peluk si pria pun shilla masih tetap menangis. Membuat rio-si pemuda- dengan sayang mengelus rambut panjang shilla, bermaksud menenangkan. Yang sesekali dia berucap”cuup.. cuup.. shilla sayang udahan donk nangisnya.”

Bel tanda masuk dan mulai kembali pelajaraan setelah istirahat yang di beri waktu selama 15 menit sudah berbunyi sekitar 10 menit lalu. Tapi tak membuat dua sejoli yang kini sudah duduk bersisian di bangku taman yang tadinya hanya di duduki salah satu dari mereka yaitu si gadis untuk beranjak. Mereka masih ingin bersama. Masih ingin memberitahu satu sama lain, kalo aku kangen banget lo sama kamu..

“kamunya gak boleh nangis lagi ya kalo aku tinggal2 gini, ashilla zahrantiara nya mario stevano gak boleh cengeng, harus kuat kayak samson, hehehe...” shilla tersentak juga dengan ucapan rio, apakah itu berarti rio akan sering menghilang seperti ini lagi. Tolong siapapun katakan padaku, kalo pikiranku gak akan mungkin banget terjadi. Pikir shilla sakartis.

“eh, kok malah diem. Aku lagi ngelawak nih. Gak lucu ya?” ucap rio seketika merusak pikiran yang telah shila bangun, dan mau tidak mau shilla tertawa juga mendapati rio mengucapkan nya dengan tampang polos gak ketulungan.

Dan dengan mengacak lembut rambut shilla, rio berkata.”nah ketawa gitu kan cantik.” Dan shilla membalasnya dengan senyum manis nya, Sebelum rio kembali berkata.”kamu ini, ngapa kayak gini?. Jangan nangis terus ya kalo gak ada aku. Harus tetep senyum. Harus tetep bahagia dan semangat kayak shilla biasanya, dengan atau tanpa akuu....” meski nada rio terdengar biasa. Tapi yakinlah, terselip keseriusan di tiap katanya.

“iya, aku janji gak kan nangis lagi. soalnya kita bakal bersama selamanya. Ya kan?” ucap shilla, tak mengerti arti apapun.

“aduh.. “ rio menepuk jidatnya sendiri.”sekarang jam nya pak duta ya?” tanya rio yang dengan shilla hanya di tanggapi dengan anggukan kebingungan.  bingung memikirkan karena dia lupa-lupa ingat juga ini jam siapa dan bingung memikirkan karena rio terkesan mengalihkan pembicaran.

“masuk ah yuuk!!! Tu guru kan killer banget.”


***


Kamu kembali terpuruk. Sangat amat terpuruk. Dan ini tidak hanya hari ketiga, hari ini sudah hari ke 33, sama arti dengan sebulan 3 hari. ayolah! Jangan seperti itu. Tepatilah janjimu padanya yang akan selalu senyum dan semangat dengan atau tanpa dia. percuma!!! Percuma saja sepertinya menasehatimu yang sepertinya sangat merindukannya. Memikirkannya. Bahkan mungkin meragukannya. percayalah. dia pun juga tengah berusaha!!

Kenapa kamu tak pernah bisa menghentikan air matamu saat tak ada dia. tak ada alasan lainkah untukmu bahagia, selain dia. atau perlukah kamu tau sebenarnya.“ku mohon jaga semua ini, hanya kamu satu-satunya yang tau.”oya!!! Hanya boleh aku saja yang tau.


***


Dia kembali menatap refleksi dirinya di cermin besar kamarnya. Jas hitam dengan celana dasar senada dengan warna jas yang ia kenakan nampak pas di tubuhnya, rambut berantakan alanya di sisir sedikit rapi untuk menyesuaikan pakaian yang ia kenakan. Di tatapnya dalam penuh kesenduan bayangan itu, masih tetap tampan. Meski tak segagah dulu.

Merasa sudah cukup lama saling pandang dengan sang bayangan, dia sadar akan sesuatu. Di liriknya sebentar jam tangan bermerk yang melingkar pas di tangan kirinya, lalu dengan segera mengambil keperluan yang di butuhkan untuk di bawa pergi dan keluar dari kamar miliknya yang tak kalah besar.

Tak langsung menuju pintu utama keluar rumahnya, dia menuju dapur terlebih dahulu, yang dia yakini ada seseorang yang ingin dia temui saat ini. Setelah sampai, dan benar saja. Seseorang itu ada .

” mamaa...”panggilnya manja.

“eh,, kok anak mama udah ganteng banget. mau kemana?” sahut mamanya menyadari anaknya berpenampilan tak seperti biasa.

“iya nih ma, aku mau tampil di acara pensi sekolah. Mama nonton yuukkk..” ucap rio-DIA- masih dengan manja.

“lho? Pensi? Bukannya kemaren sekolah kamu baru aja ngadain studytour ke australia 1 bulan lebih. Kok sekarang ngada2in pensi. Sekolah kamu ada apa deh yo? Banyak banget acara?” Tanya mama rio heran juga. Siapa juga yang tidak heran dengan kejadian seperti itu.

“eh.. itu maa.. eemm” dan lihatlah rio, kelabakan sekali menjawabnya. Apa yang sebenarnya terjadi. Siapa yang tau? ”emm... gatau juga sih ma, kalo rio mah sebagai siswa yang baik, nurut2 aja. Hehe..jadi mama nonton yuukk?

Merasa tidak ada yang aneh, mama rio menjawab semestinya.”mama gabisa sayang, mama lagi nyiapin makanan buat ibu-ibu arisan. Nanti giliran di rumah mama. Lagian, kamu ini manja banget, kayak anak SD aja mau pentas minta di tontonin. Hehe..”

“jadi mama gabisa nih. Yaudah deh, gak maksa. Kalo gitu pamit ya ma, do’ain rio sukses.” Dan dengan senyum merekah rio berpamitan dengan mamanya sambil mencium telepak tangan sang mama. Rio berucap ”rio sayang banget sama mama”

“den rio gak makan dulu, udah bibi masakin kesukaan den rio nih.” Bi inah pembantu yang sudah mengabdi lebih dari 10 tahun pada keluarga rio menyela begitu saja di kegiatan rio berpamitan.

“gak deh bi, belum laper. Tapi ngomong2 makasih ya bi, udah masakin masakan yang enak2 buat rio selama ini.”

“ah aden bisa aja. Sama2 den, asal aden seneng semua nya bakal bibi lakuin. Hihi..

“ih, bibi bisa aja.. rio pamit ya bi.”

Rio mulai berlalu dari dapur dengan senyuman yang terus merekah di bibirnya,menegetahui fakta bahwa genit juga pembantunya yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu.

“eh, mbak susi mau bersihin kamar rio ya?” rio berucap ketika mendapati susi salah satu pembantunya juga, menuju ke kamarnya.

“iya ini mas, baru akan saya bersihkan.”

“gausah deh mbak. Biar nanti aku bersihin sendiri aja. Mbak susi istirahat aja.”

“tapi mas......”

“Udah udah.... mbak susi nurut aja. Mumpung udelku lagi bolong nih mbak. Yaudah, aku pamit ya mbak.”

Hingga rio keluar rumah dari pintu utama, senyumnya tetap merekah. Entah apa arti dari senyum itu. Tak seperti dia biasa nya.

“pak jono, rumputnya dah rapi tuh. Istirahat dulu..” teriak rio pada tukang kebun yang di temui di taman halaman depan rumahnya.

“iya den”

“aku pamit ya pak, do’ain aku.”
 
Rio sudah berada di dalam mobil BMW kesayangannya. Terdiam. Bibirnya yang sedari tadi tanpa henti melengkung manis membentuk sebuah senyuman kini sudah datar tanpa arti. Entah karena otot2 senyumnya pegal atau karena apa.
Rio mengambil HP layar sentuh miliknya, mengotak ngatik sebentar lalu menekan tombol deal.

“Tut.. tuut.. tuut.. “ nada tunggu panggilan yang rio lakukan menjadi pusat konsentrasi rio saat ini.

“hallo... hallo.. rio.. ada apa nak?”

“gak ada apa2 pa, Cuma mau pamit, dan minta do’anya. Mau tampil buat pensi. ”

“iya nak. Sukses ya.”

“ papa kapan pulang?”

“mungkin lusa nak,”

“lama banget pa, gamau ketemu rio lagi apa? Yaudah, udahan ya pa. Abis ini mati. Beliin aku pulsa. 
bye. Sayang papa.”

Dan tanpa menunggu jawaban dari sang lawan bicara, rio sudah mematikan sambungan teleponnya. Dan mulai melaju menuju ke sekolah yang sudah 1 bulan ini tak dia jamah sama sekali. hal apa saja yang sudah terjadi Saat dia tak ada?. Dan gadisnya? bagaimana kabarnya?


***


Pensi tahun ini meriah. Penuh dengan semnagat dan kebahagian. Tapi tidak denganku. Hati ini hampa. Takut. Gelisah. Aku mengerti karena apa? Sahabatku.
Tak beda jauh denganku, kamu juga terlihat tidak baik-baik saja. Mungkin saat ini kita tengah dalam perasaan yan sama. 

1 new massage.

sob, gue bentar lagi tampil.
Do’ain ya sob, biar tampilan gue kece.:P
jaga shilla. thx udah jaga rahasia gue.:)

“dan inilah. Penutup acara kita, yang mungkin akan menjadi penutup terspektakuler dan di harap2kan, dan mungkin juga takkan terulang untuk kedua kali nya. Kita saksikan bersama2 MARIO STEVANO ADITYA HALING....” host bercuap dengan semangatnya. Dan munculah pria tampan idola para wanita dari balik tirai belakang panggung, dengan setelan jas hitam dan menenteng gitar jikustik andalannya. Itu rio. Dan kamu nampak shock serta haru. Aku rasa itu.

“semoga penampilan saya bisa berkesan dan terkenang” ucap rio kalem, dan tidak butuh waktu lama para gadis berteriak heboh. Dan saat itu juga detik pengakhiran itu berjalan.

Usap air matamu
dekap erat tubuhku
Tatap aku
Sepuas hatimu.

Nikmati detik demi detik
Yang mungkin kita tak bisa rasakan lagi
 Hirup aroma tubuhkan
Yang mungkin tak bisa lagi tenangkan gundahmu, gundamu

Reff
Nyanyikan lagu indah
Sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali
Nyanyikan lagu indah
Tuk melepas ku pergi dan tak kembali
(detik terakhir_lyla)

Dan di petikan terakhir gitarnya,”bbruuukk!!” dia terjatuh dari duduknya. Aku tau. Aku tau karena apa?. Aku tau yang orang lain tak tau. Kanker otak stadium akhir.

“aku harap kamu tenang di sisi tuhan, mario.”

“RIIIIOOOO!!!!!” semua berteriak. semua histeris. Tapi suaramu yang tak terlalu dekat denganku. Terdengar paling jelas shilla. bersabarlah, relakan rio. Sesuai janjiku pada rio, Aku yang akan menjagamu kini.

***

Dan kini tepat 1 tahun setelah kejadian itu. Dan tak di sangka cerita itu begitu membekas untukmu, pemeran utama wanita di cerita itu.

Aku keluar dari persembunyianku, dari belakang sekumpulan bunga sepatu bermekaran. Menghampirimu. “sore shilla, hari ini apa kabarnya?” ucapku penuh kelembutan.

“rio rio.. liat deh langitnya bagus rio, langitnya bagus. Haha, haha, langitnya bagus. kamu suka kan, kalo begitu aku juga suka. hahahaha” Shilla berucap, tapi sepertinya bukan untuk menjawabku. Entah menjawab atau berkata apa?

“shilla sudah makan belum??

“kamu bukan rio? Kamu bukan rioo??”

“iya shilla, aku bukan rio.”

“Aaaaaa!!!... aku mau rio, aku mau rio. Mau rio. hiks hiks hiks.” dan saat setelah dia tertawa berbahak tadinya sekarang dia menangis dan mengamuk. Hal yang Wajar untuk gadis berbeda seperti dia.

Dan masih dengan kesabaranku, ku peluk tubuh shilla yang semakin nampak kurus dan nampak tak sehat itu. Biarlah tubuhku sakit di pukul dan di cakar. Asal aku bisa menenangkanmu.

“tenanglah shilla. Ada aku di sini. Bukan rio. Tapi CAKKA.”

Aku memejamkan mata, menikmati detik yang sangat terasa indah, dimana shilla yang kini gadisku di dalam pelukku dengang tenang walau hanya sementara. Aku tak bisa menjamin untuk waktu seterusnya, bisa saja dia mengamuk bahkan tertawa. “Dan rio. lihatlah aku. aku masih disini, menjaga gadismu yang kini menjadi gadisku. Meski gadisku gila.”



 THE END