Senin, 12 Agustus 2013

Kamu Untuk Aku ( Part 16 )


Datangnya bisa kapan saja
Tak di duga, tak di sadari
Mengalir pelan, lembut, hingga akhirnya terasa
...... Cinta

Cahaya keemasan merambat menembus celah kecil dalam gorden yang tertiup angin. Dapat ia rasakan kehangatan menerpa kulitnya. Empat hari sudah pemuda itu meringkuk di salah satu ruangan rumah sakit ini.

“tok..tokk..” alvin terperanjat dari lamunannya. Menduga-duga siapa yang baru saja mengetuk pintu kamarnya.

Belum mendapat gambaran siapa yang baru saja mengetuk pintu kamarnya, pintu kamarnya sudah terbuka sebagian, menampilkan gadis berambut pendek yang saat ini tengah tersenyum lebar kearahnya. Senyuman yang menampilkan lesung pipi di kedua sisi pipi gadis itu.

“hai vin..” gadis itu menyapa alvin ceria.

Mau tak mau alvin di buat tersenyum melihat kehadiran gadis itu.”hai vi, akhirnya datang juga..”

Sivia mengedarkan pandangan, ke seluruh penjuru ruang rawat inap alvin setelah terkikik pelan. ”sendiri?”

Alvin mengangkat bahunya,”sebenarnya tadi ada mama, tapi barusan aja pulang. Ngambil ganti katanya..”

Sivia membulatkan mulutnya.”kirain.. gak ada yang peduli sama lo.”

Gantian Alvin terkikik, seenaknya saja sivia bicara.“gak masalah sih, kalo gak ada orang lain lagi yang peduli sama gue. Yang penting lo tetep peduli.”

Sivia terbahak.”gue gak bilang sih kalo gue peduli sama lo..”

“tapi.. apa namanya jenguk gue. Dengan tanpa di minta?”

Sivia diam, melengos sebal mendapati wajah alvin yang sekarang tengah senyum-senyum menggoda ke arahnya.”PD banget sih vin, gue mau nepatin janji kali, itu pun kalo lo udah bener-bener baikan.”

Alvin mengubah ekspresi menggodanya, ternyata tidak mudah untuk membuat gadis itu tersipu dan salah tingkah. Lalu mengingat-ngingat janji apa yang sudah di buat sivia. “aduh.. rayuan gue gak berhasil nih kayaknya.”

Sivia tertawa pelan.”jadi gimana? Udah baikan..”

“udah nih..” alvin duduk dari tidurnya.”ayook. gue siap..”



***



Ify mematut dirinya di depan cermin lagi. Lalu tersenyum bangga melihat pantulan dirinya yang begitu menawan sore itu, meski hanya di balut dress berlengan gelembung berwarna biru muda yang simple.

Ify lebih mendekatkan lagi wajahnya dari cermin, memberi sedikit polesan merah muda di kedua pipinya, yang ia pikir mungkin bisa menambah manis penampilannya. Dan benar saja, ia semakin terlihat sempurna.

“fy.. “ seseorang yang membuat ify berdandan secantik ini baru saja menyembul dari pintu putih kamarnya.”udah siap?..”

Ify bergelagat salah tingkah, khawatir pemuda tersebut melihat aksinya senyum-senyum sendiri di depan kaca. “udah kok io.. ayukk.” Ajaknya begitu berhasil menemukan tas yang juga sudah di persiapkan senada dengan warna dress yang ia pakai.

Ify menyusul rio yang sudah berjalan terlebih dahulu darinya, begitu dia sudah berhasil mensejajarkan langkahnya, ia genggam tangan pemuda itu dengan lembut.

Rio sedikit tersentak, saat tau-tau tangan ify menggenggam tangan kirinya secara tiba-tiba. Tapi meski begitu ia membalas genggaman tangan mungil itu juga, mengacak lembut pucuk kepala ify dengan tangan kanannya.”cantik banget sih princess blue siang ini..” ucap rio manis.

Ify hanya bisa tersipu malu. Entahlah, sudah 3 hari ini dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertingkah menjadi gadis yang lebih dari sekedar sahabat pada pemuda itu. ia bersikap malu-malu, berdandan secantik mungkin, bertingkah lembut, memberi perhatian lebih, dan sikap-sikap lain.. yang biasanya di lakukan seorang gadis pada kekasihnya.

Jangan salahkan ify atas perubahan sikapnya. melainkan salahkan pemuda ini, salahkan pemuda yang sudah 3 hari ini juga bersikap manis padanya, memberi perhatian-perhatian kecil yang membuatnya melambung, dan siap memeluk lembut tubuhnya jika hatinya sedang gundah gulana. Terhitung dari kejadian dia menangis frustasi di kamarnya tempo hari.

“silahkan masuk princess...” ujar rio bak pangeran yang membukakan kereta kencana untuk sang tuan putri.

Ify kembali tak bisa berkata-kata, hanya membalas perlakuan rio dengan tersenyum manis. Lalu mengikuti perintah pemuda itu untuk memasuki mobil rio, dengan anggun.

“kok tumben pake mobil ini. aston-nya mana?” tanya ify begitu rio sudah masuk dan duduk di belakang kemudi.

“yang itu kan cuma muat buat dua orang, ntar shilla nya taro mana?” Jawab rio santai, tangannya sudah bergerak lincah di gagang persneling.

Ify tersentak..”emm, dia ikut?”

Rio menoleh ify sekilas, tersenyum lebar sebelum membalas pertanyaan ify.”iya fy, dia udah ngebet banget pengen jengukin si Alvin.”

Ify membulatkan mulut sambil menganggukkan kepalanya pelan. Hatinya berdenyut nyeri, harus di ingatkan dengan kehadiran gadis lain di sisi pemuda tampan di samping kanannya. Menyadarkannya, bahwa sensasi kebahagiaan 3 hari ini ternyata tak abadi, tak konkrit. Hanya fantasinya yang berlebihan akan harapan kisah bahagianya dengan pemuda di sampingnya. Hanya khayalan, hanya imajinasi.... bodoh.


***


Shilla mendengus lagi, kepalanya di sandarkan di kaca mobil yaris yang membawanya memecah keramaian jalanan ibukota sore itu. Sesekali melirik kesal 2 anak manusia yang sekarang sedang bernyanyi bahagia di depannya, setelah si laki-laki berujar..”lagu kesukaan lo nih..” yang oleh si perempuan di jawab..”ayo kita nyanyi bareng, udah lama nih gak nyanyi bareng..” dan oleh si laki-laki di setujui dengan mengangguk semangat.

Do you hear me? I'm talking to you

Suara si laki-laki mulai terdengar, tanpa sadar shilla tersenyum mendengarnya, suara itu sedikit membangun moodnya yang sudah berantakan. ia tatap lekat-lekat si laki-laki yang menyenandungkan lagu lucky itu dengan manis.

Across the water across the deep blue ocean

Shilla semakin di buat hanyut dengan suara berat milik laki-laki tersebut. Rasanya semakin tidak rela berada dengan suasana seperti ini, suasana di mana tidak hanya dia perempuan yang berada satu mobil dengan laki-laki tersebut.

Under the open sky oh my, baby I'm trying

Aaaaa. Shilla memekik tertahan. Rasanya ingin bertepuk tangan sekeras-kerasnya. Memberi penghormatan tertinggi atas suara si laki-laki yang luar biasa indahnya.

Boy I hear you in my dreams

Shilla melirik cepat ke serong kiri depannya, menghentikan khayalannya. Menatap tidak suka perempuan yang kali ini bersenandung.

I feel your whisper across the sea

Shilla masih menatap tidak suka perempuan di depannya. Semakin tidak suka setelah menyadari si perempuan bernyanyi dengan terus menatap laki-laki -yang harusnya miliknya- dan dengan tatapan yang tidak biasa, seperti.. penuh makna.

I keep you with me in my heart

Shilla mengalihkan pandangan, saat ini sepertinya melihat jalanan yang selalu ramai jauh lebih baik ketimbang harus melihat perempuan yang nampak bahagia bersanding dengan pemuda yang mengaku mencintainya. Mencintainya? Apa dengan membuat orang yang di cintai menderita seperti ini bisa di katakan mencintai.

You make it easier when life gets hard

Dengan perlahan, shilla mengambil nafas dalam-dalam. Menyiapkan temeng sekuat mungkin mengingat perjalanan menuju rumah sakit sepertinya akan terasa semakin lama. Bisa saja, dia akan melihat kejadian yang lebih memuakkan untuk di saksikan.

Lucky I'm in love with my best friend

Dan benar saja. baru saja, dengan berani perempuan cantik berambut ikal tersebut menarik salah satu tangan si laki-laki yang lalu di genggam dengan dua tangan, dan lihatlah, si laki-laki meski awalnya terlihat terkejut, akhirnya membiarkan tangannya di dekap kuat-kuat dengan tangan mungil si perempuan. Aihh, sebenarnya laki-laki ini pacarnya siapa?

Lucky to have been where I have been

Shilla rasanya sudah hampir menangis. Merutuki 2 orang yang bisa-bisanya bahagia di hadapannya yang sedang menderita. Otak Shilla mulai memutar memori kenangannya bersama si laki-laki. Kenangan di mana biasanya dirinya yang duduk di samping kiri laki-laki ini, di tempat yang saat ini di duduki perempuan yang masih menampilkan senyuman bahagia. Rasanya jika ia hanya berdua dengan laki-laki ini, tak sebahagia seperti apa yang di lihat sekarang, rasa nya tak semenyenangkan ini. tapi.. atau.. sebenarnya bisa sebahagia ini, bisa semenyenangkan ini, tapi karena dirinya tak peduli, Akhirnya.. dia tak merasakan apa-apa. Membuatnya menjadi sekedar angin lalu, yang sekarang angin itu di harapkan untuk kembali, untuk bisa terulang.

Lucky to be coming home again

Jadi, jangan salahkan si laki-laki ini shilla. bukan kah laki-laki ini sudah sangat berusaha selama ini? ini sangat jelas untuk membuat kamu sadar, sadar dengan tekad laki-laki ini, sadar dengan usaha laki –laki ini. dan segala rasa memilukan di hati mu saat ini, SELAMAT MENIKMATI.

Shilla akui, ia merasakan sengatan perasaan aneh saat melihat pemandangan di depannya kini. Seperti sengatan perasaan marah yang membuat dadanya panas. Membuatnya terdorong untuk mengambil si laki-laki dari perempuan cantik di samping kirinya secara paksa. Dan lalu, berteriak galak kepada si perempuan.”dia punya gue, kalo lo mau rebut dia dari gue, langkahi dulu mayat gue..” Shilla menyerengitkan keningnya sambil tangannya memain-mainkan ujung seragamnya. Apa dia sedang di landa cemburu? Oh, astaga. Kalau benar-benar ia cemburu berarti dia mempunyai perasaan lebih pada laki-laki ini. apa dia sudah bisa mencintai laki-laki ini? itu.. mungkin saja. mungkin saja dia sudah mencintai laki-laki ini tanpa sadar. Tapi itu terlalu....

“lo belum makan shill?”

“ha.. apa?” shilla langsung bergelagat gelisah.”a..pa io?” ulangnya terbata.

“lo belum makan?” tanya rio-si laki-laki- lagi.

“emm udah kok. Emm memang kenapa?”

Rio tersenyum, melirik sekilas shilla dari spion mobilnya. Merasa ada yang tidak beres dengan shillanya yang sangat pendiam hari ini. “ya abis tumben kalem gitu, kirain belum makan jadinya gak punya tenaga buat nyolotin gue..”

Shilla memutar bola matanya sebal. Tidak ada niatan menanggapi –lagi- laki-laki ini. Well, stop untuk memikirkan hal yang tidak-tidak tentang laki-laki gila ini. Untuk arti perasaan tidak enak nya saat ini, akan shilla cari tau lain kali. Dan, juga. shilla tarik tentang pernyataan yang mengatakan ia sudah mencintai laki-laki ini. dan buat lo ify-si perempuan- peduli setan lo mau rebut rio..


***


Alvin mengedarkan pandangannya ke seluruh penonton di depannya, dengan senyuman ia pandangi satu-persatu malaikat-malaikat kecil yang saat ini tengah tertawa lepas, seolah tak ada beban. Ia baru saja selesai mendongeng tentang si kancil yang cerdik kepada mereka, mereka yang terlalu kecil untuk menanggung beban yang menurut alvin... terlalu besar.

Ia belum mengubah posisinya, masih duduk di salah satu sofa empuk berbentuk bola yang berada di pojok ruangan besar yang penuh dengan mainan itu. Meski, anak-anak yang baru saja melihat aksinya mendongeng kini sudah berhamburan untuk kembali bermain.

“hai kak..” alvin sedikit terkejut, sesosok gadis kecil saat ini sudah berdiri 2 langkah dari dirinya dengan memeluk boneka kancil yang tadi ia gunakan untuk mendongeng.

“hai cantik.. ada yang bisa kakak bantu?..” tangan alvin yang panjang menjangkau gadis kecil itu untuk lebih mendekatinya. Gadis itu mendekat dengan senyuman malu-malu.

“aku boleh duduk di sini?” tanyanya pelan, ia menunjuk ke pangkuan alvin.

Alvin tersenyum, lalu setelahnya mengangkat tubuh ringan gadis kecil itu ke pangkuannya.” siapa nama kamu cantik?” tanya alvin setelah memastikan gadis kecil itu sudah nyaman berada di pangkuannya.

Gadis kecil itu tersenyum malu-malu lagi.”aku lala. Aku suka dongeng kak alvin.”

Alvin tersenyum lembut.”terima kasih princess lala, kak alvin merasa sangat tersanjung.”

Lala terkikik. Benar-benar merasa terhibur dengan kehadiran alvin di ruangan ini.”kak alvin sakit apa?”

Alvin melihat arah pandang lala, menuju ke baju pasiennya.”demam berdarah la..”

“apa penyakit kakak bisa di sembuhkan?” tanya lala polos.

Alvin mengangguk.”iya lala.. demam berdarah bisa di sembuhkan..” jawabnya, meski tak mengerti maksud dari setiap pertanyaan lala.

Lala tersenyum senang.”apa.. aku... boleh minta sesuatu sama kakak?”

Alvin tersenyum. “tentu saja, princess lala mau apa dari kak alvin.”

“...lala, sini minum obat dulu nak..”

Lala segera merosot dari pangkuan alvin, lalu setelahnya segera berlari-lari kecil meninggalkan alvin, mengurungkan permintaannya yang belum sempat di sampaikan

“vin..” alvin lagi-lagi di buat terkejut, ia menoleh ke arah sivia yang sudah duduk di samping kirinya.”lala gadis kecil yang cantik ya vin?” sivia sempat melihat alvin dan lala terlibat percakapan kecil.

Alvin mengangguk semangat.”iya.. she is like a little angel.” Ia mengamati lala yang saat ini sedang di bantu meminum obat oleh salah satu perawat di ruangan itu.

“iya.. little angle yang malang..” sivia mengucapkannya dengan sendu, alvin sampai tidak berani untuk menyela.”dia kanker otak, stadium akhir. Kata dokter umur dia gak lebih dari sebulan lagi.”

Nafas alvin tercekat di tenggorokan, mengetahui fakta gadis manis bertopi yang baru saja terlibat percakapan kecil dengannya memiliki kisah hidup yang memilukan. Ia menoleh ke kiri, melihat sivia yang saat ini tengah menunduk lesu di kirinya.

Tidak mendapati tanggapan dari alvin, yang malah menatapnya dengan tatapan yang sulit di tebak. Sivia mengabaikannya, mengambil kursi roda untuk alvin.“yuukk. kayaknya ini waktu nya buat lo kembali ke kamar lo.”

Lamunan alvin buyar. Tersenyum sekilas melihat sivia yang sudah siap dengan kursi roda untuknya. lalu menuruti ajakan sivia, Meninggalkan ruangan dengan cat warna-warni yang begitu indah. Ruangan yang di khususkan untuk tempat bermain bagi para anak-anak penderita kanker. Para malaikat-malaikat kecil itu.



*




Sivia benar-benar mengantar alvin hingga pemuda itu kembali berbaring di bednya dengan nyaman. Tidak berlama-lama, sivia pun segera undur diri dari hadapan alvin, karena mengaku punya urusan lain.

Tidak lama dari kepergian sivia, alvin sempat berfikir ia akan melalui jam-jam berikutya dengan bosan. Tapi ternyata fikirannya salah, saat kedua sahabatnya di tambah satu gadis manis kekasih dari salah satu sahabatnya, datang.

Sudah 4 hari ini alvin di rawat, sudah selama itu juga ketiganya tak berkumpul seperti sekarang. Berbagi cerita, tertawa bersama.

“gue kapan sembuh ya io?”

Rio mengangkat satu alisnya.”ya mana gue tau vin... kenapa? gak betah lo di sini?”

“iyanih, gue udah kangen banget tidur sama lo.”

“oh come on boy! kenapa dari sekian banyak hal yang bisa lo kangenin, kenapa lo milih tidur bareng gue untuk di kangenin.. obat-obat yang lo konsumsi gak bikin orang jadi homo kan?”

Dan.. semuanya. Kecuali shilla. tertawa.

Untuk shilla, Sebenarnya ia ingin ikut dalam tawa itu, mengingat rio sangat terlihat sebal mengucapkannya. Tapi dia belum siap menjadi perhatian jika dia melakukan tindakan yang pasti sangat memancing perhatian itu. Saat ini dirinya sedang duduk di sofa yang di sediakan untuk pengunjung ruangan rumah sakit itu, letaknya tidak terlalu jauh dari bed pasien, Setidaknya ia masih bisa mendengar percakapan tiga sahabat yang sejak tadi sebenarnya.... seperti menganggap nya tidak ada.

“nih yo...”

Shilla bisa melihat dengan jelas adegan itu, masih tentang si perempuan dan si laki-laki. Ify dan rio. Baru saja, ify menyuapi sepotong apel pada rio, yang lalu oleh rio di lahap setelah sebelumnya memberi senyuman sekilas pada ify.

“well, ini gue yang sakit, kenapa rio yang di suapin..” alvin membuka suara, berpura-pura merajuk.

“ya soalnya setau gue sih, lo gak suka apel vin..”

Alvin tersenyum senang, ify seperti mengerti banyak akan dirinya. “si ify perhatian banget ya io, nyampe tau gitu apa yang gak gue suka...”

Rio menyeringai. Ia genggam tangan alvin lembut.”si ify juga taunya dari gue. Jadi gue yang sebenarnya parhatian sama lo.”

Ify bergidik ngeri mendengar rio mengucapkan itu dengan nada yang terlalu manis.”oke sekarang kalian benar-benar seperti pasangan homo.”

Alvin tertawa pelan. “ya gak lah fy.. lagian kan si rio punya pac..” alvin menghentikan ucapannya, menoleh ke arah sofa kamar inapnya.” Shilla .. sini shill, diem aja.. nyampe hampir lupa kalo ada lo juga di sini.”

Shilla mendongak, dan tiga orang yang dari tadi ia amati kini balik mengamatinya. Ia Berdiri sambil menggaruk belakang kepalanya, dan dengan ragu melangkah mendekati bed alvin. lalu setelah sampai ia mengambil posisi di kiri rio, membuat rio sekarang di apit dirinya dan ify.

Rio mengamati shilla, lama. Benar-benar ada yang tidak beres dengan gadis yang tiba-tiba menjadi seperti orang bisu ini “kamu kenapa?” Shilla menoleh ke samping kirinya.”kenapa diem terus dari tadi? Beneran gak lagi laper kan?”

Shilla mengerucutkan bibir, pemuda ini ternyata tak berhenti mengejeknya. Tapi.. memang shilla sebenarnya tidak tau ingin memberi alasan apa.

“kenapa? Sakit?” gugat rio, tangannya di tempelkan sebentar ke dahi shilla, dan tidak ada yang aneh dari suhu tubuh shilla.

Shilla bingung, memang ia tidak punya alasan kuat mengapa bisa jadi sependiam ini, yang ia tau ia hanya jadi malas berbicara setiap kali... ah.. bahkan dia juga tidak tau ia malas berbicara karena apa. ”... gue memang sebenernya laper.” Ujar shilla asal.

Rio menyeringai, melihat sebal ke shilla yang masih menampilkan wajah tanpa dosanya. ”emm, yaudah vin, kita keluar bentar ya. “

Rio sudah menggandeng tangan shilla kuat, dan menggiring perempuan itu meninggalan ruang inap alvin, tanpa menunggu jawab dari si pemilik ruangan.


*



Shilla tidak menyangka, begitu dia memberi alasan yang bukan sebenarnya. Rio langsung menyeretnya kesini, ke kantin rumah sakit.

“ayo di makan, jangan di lihatin aja.”

Shilla mulai menyantap makanannya, pelan.”lo gak makan?”

Rio hanya menggelengkan kepala. “lo kalo lagi laper, ngeri deh shill.” shilla menyerengit. ” Ya bagi gue, dengan lo diem gitu , lo jadi dua kali lipat lebih mengerikan. Gue gak bakal bawa lo kemana-kemana deh kalo lo lagi laper.” Tambah rio, dengan terkikik pelan di akhir kalimatnya,

Shilla tersedak. Dia tidak menyangka rio bisa begitu percaya dengan alasan bohongnya. Sebenarnya ia menjadi merasa masalah. “ ...emm, yo. Memang kak ify gak papa, kita pergi berdua begini..”

Rio mengangkat satu alisnya. Merasa sedikit aneh dengan topik pembicaraan yang shilla angkat.

Shilla langsung bergelagat salah tingkah, menyadari rio yang langsung menatapnya aneh begitu dengan tiba-tiba dia menanyakan hal ini.“..ee~ gue ngerasa gak enak aja...”

“ify, sahabat gue. Sewajarnya sih dia gak masalah kalo sahabatnya pergi sama pacarnya.”

Shilla menghela nafas. Gimana kalo kak ify gak wajar. “ kak ify itu.. cantik banget ya io, anggun. Dia juga keliatan smart banget. Gue gak nyangka di dunia ini bener-bener ada cewek  yang perfect banget kayak dia.”

Rio masih belum bisa menerawang arah pembicaraan shilla. ia lebih memilih diam dengan alis yang saling bertautan.

“apa lo gak suka sama dia?.. ee~maksud gue suka dalam artian yang sesungguhnya.. emm~ sayang atau ee~mungkin cinta. Karena gue lihat kalian cocok banget, dan kak ify keliatan sayang banget sama lo..”

Shilla melirik rio sebentar, menghela nafas lagi saat pemuda itu malah tak bergeming, mungkin pemuda di hadapannya itu baru saja sadar, dan berfikir apa yang ia katakan ada benarnya.”jadi.. maksud gue.. ngapain lo milih gue. Kalo ada kak ify ee~ yang jauh lebih baik... gue- gak ada apa-apanya di banding kak ify.”

Rio menautkan alis, menatap curiga shilla. ia diam cukup lama, untuk memahami situasi saat ini. ”emm, jadi gini ya bentuknya kalo monyet lagi cemburu...” ujarnya dengan pandangan geli.

Shilla cepat mendongak. Melotot dengan mulut ternganga. ”enggak!! apaan sii.. lo kira lo siapa? gue cemburuin.. isshh. Gue mau nyadarin lo aja kok..”

Rio mengangkat bahunya. Terserah shilla mau bilang apa, yang pasti.. pemikirannya menyimpulkan jika gadis di hadapannya ini sedang.. cemburu. ”kalo memang gue dari awal milih ify, gue gak akan pernah coba-coba buat milih lo shill. gue cukup mengenali ify, gak perlu mengenali lo atau yang lain. Gue udah memilih di antara banyak pilihan, ify juga termasuk dalam pilihan itu. dan pilihan gue itu.. lo. dan di saat gue udah milikin lo, kesempatan memilih gue udah habis. Because you.. will be the only one and.. forever”

Shilla menelan ludah, tidak tau harus merasa senang atau merasa ngeri. Di beri pengikat yang begitu kuat oleh rio. Tapi yang ia tahu pasti, hatinya kini lebih ringan. Ia tiba-tiba merasa sangat lega.



***



Kepergian rio dan shilla dari ruangan itu, malah membuat ruangan itu menjadi sunyi. Ify dengan gusar lagi-lagi melihat ke arah pintu masuk, lalu menghela nafas kasar, setelah tau tidak ada tanda-tanda pintu itu akan di masuki seseorang.

“.. rio Cuma pergi sama shilla kok fy, gak lagi di culik atau kabur.. jadi.. kamu nya gak perlu khawatir banget gitu..”alvin membuka suara, mengangkat satu ujung bibirnya di akhir kalimat.

Ify menoleh ke alvin cepat, terkejut, dengan mata yang sudah melotot.”mm~ maksud kamu apa vin..?”

Alvin lagi-lagi mengangkat satu ujung bibirnya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan semua drama ini.”kalo kamu gak mau rio di miliki orang lain. Harusnya kamu berjuang dari awal, dan gak biarin rio sampai jatuh ke cinta yang lain.”

Ify semakin di buat terkejut. Apa ini artinya topengnya selama ini sudah terbaca? Ia bahkan sampai tidak bisa membuka suara untuk menyangkal, yang memang sebenarnya tidak ada yang perlu di sangkal.

“Perjuangan yang baru kamu mulai ini terlambat fy... rio udah di miliki, dan.. sepertinya kamu gak buta buat liat rio yang sekarang udah bahagia.. jadi.. harusnya kamu terima ini, dan berhenti.. mulai dari sekarang.“

Seperti di cambuk ratusan kali, hati ify berdenyut nyeri mendengar setiap kata yang keluar dari mulut alvin. hahaha ia terlambat.. tapi bukannya lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Orang yang sudah menikah saja bisa di rebut, apalagi yang masih pacaran. Itu jauh lebih mudah bukan?

“..atau... kamu memang cewek gak berperasaan yang bakal nerusin perjuangan sia-sia kamu ini?.. shilla terlalu polos untuk ngikutin permainan kamu.  “

Ify tak langsung menjawab, sedang memikirkan matang-matang jawaban yang akan di lontarkan. “YA.. aku bakal milih ngelakuin itu... jadi cewek yang gak berperasaan.. aku bakal rebut rio dari cewek polos itu.. “ ify memberi jeda, mengangkat satu ujung bibirnya, meremehkan. ” gadis itu gak polos vin, Cuma SOK polos, dan itu yang mungkin ngejebak rio. Jahat kan dia... cewek sejahat dia gak pantes buat rio.. cuma aku yang pantes buat rio.. jadi aku juga yang bakal nyelametin rio.”

Kilat perlawanan di mata ify membara. Dia bahagia dengan rio yang selalu di sisinya seperti 3 hari terakhir ini, ia hanya ingin mempertahankan kebahagiannya, bukankah itu sesuatu yang .. wajar. jadi, ia akan terus maju. Berjuang.

Alvin masih tidak bisa menyembunyikan ketekerjutannya. Berkata seperti itu dengan maksud  membuat sahabat perempuannya ini sadar malah sekarang perkataannya balik menikamnya. Seperti memberi ide sahabatnya ini untuk terjerumus percintaan yang rumit.

“fy..” tegurnya pelan. Bahkan alvin yang sedari tadi gencar menyerang ify dengan kenyataan-kenyataan pahit yang harus nya bisa di terima gadis itu, sekarang mengkerut. Dalam rencana awalnya, di harapkan akan ada hasil ify yang akan menyerah dan menangis di pelukannya. Tidak ada ify yang melawan, ify yang sekarang menatap nya penuh dengan kelicikan. Dan itu membuat alvin sadar, ify yang sekarang bukan ifynya  yang dulu, bukan ify nya yang ia cintai. Ternyata benar.. cinta bisa merubah segalanya.

“.. makasih vin buat saran kamu. Kamu buat aku sadar, untuk dapetin rio aku gakbisa lemah, aku harus kuat.. Cinta ada untuk di perjuangin kan. Jadi gak ada yang perlu ngalah dan nyerah di sini... gue pamit”

Dan detik berikutnya, ify sudah menghilang di balik pintu. Alvin masih mematung dengan segala rasa menyesalnya. Tidak. Bukan seperti ini akhir yang di harapkan.

Alvin meremas rambutnya, prustasi. Gadis yang ia cintai semakin jauh untuk di gapai. Bukan. bahkan tujuan utama dari rencana nya bukan sebuah taktik untuk bisa menggapai gadis itu, hanya untuk membuat gadis itu sadar, dan akhirnya.. tidak perlu menderita setiap kali harus melihat pemuda yang di cantai gadis itu sedang bersama gadis yang di cintai pemuda yang di cintainya itu. ah lihatlah, bukan kah itu begitu rumit.

Tujuan alvin baik bukan, mengakhiri cinta rumit yang membelenggu gadis pujaannya. tapi sekarang lihatlah, alvin mengacaukan segalanya. Tidak hanya hubungan rio dan shilla yang mungkin akan kacau. dia pun begitu, Karena mungkin setelah ini.. ify akan menjauhinya perlahan secara teratur. Lihatlah. Ia menjerumuskan dirinya sendiri ke lubang kesengsaraan. Cinta diam-diam, bukan kah akan indah jika bisa merasakan moment-moment bahagia bersama seseorang yang di cintainya diam-diam ?. Dan dengan begini, mungkin alvin akan merasakan cinta diam-diam yang terabaikan. Yang sangat pahit.


***


“sivia...” sivia menoleh mendapati kakaknya sedang berkutat dengan beberapa buku di meja besar ruang makan.

“kakak tumben udah pulang..” sivia saat ini sudah duduk di samping kanan gabriel.

“iya, kakak mesti nyelesaiin persiapan pesta ulang tahun mama.” Gabriel membalik lagi buku yang di bacanya.”kue nya yang mana ya vi?” tanyanya pada sivia, sudah 2 kali gabriel mengkhatamkan buku katalog kue tart itu tapi ia tetap saja tidak dapet ide.

Sivia terkikik.”sini aku aja yang milih kuenya.”

Gabriel mendongak.”really?” sivia mengangguk untuk menjawabnya.”oke.. itu sangat membantu sistaa..” gabriel mengacak puncak rambut kepala sivia, penuh sayang.

Dan tidak sampai lima menit. sivia menunjuk kue tart vanilla berukuran sedang bertingkat dua.” gimana kalo yang ini aja... ini sederhana, tapi tetep elegan. Jadi kayak nya juga bakal cocok sama tema.”

Gabriel mengangguk-ngangguk, benar-benar menyetujui ide adik perempuannya.”itu pilihan yang bagus.. makasih ya”

“oke, bukan masalah.  Ada lagi yang bisa aku bantu kak?”

“emm..gak ada kok.. semuanya udah beres. Cuman tinggal milih itu aja, yang ribet banget. Dan sekarang juga ikut-ikutan beres, karena kamu. Dan oya... dress kamu juga udah beres..”

“oya?” mata sivia berbinar.”mana kak mana, mau liat.”

“tuh..” gabriel menunjuk dua kotak berukuran sedang yang saling bertumpukan di tengah-tengah meja makan.

Sivia menghampiri 2 kotak itu dengan mengangkat 1 alisnya. Ia membuka keduanya, melihat ada dua dress yang memiliki ukuran hampir sama, namun memiliki design yang berbeda.” Kok ada dua?”

Gabriel mendongak lagi, melihat sivia yang saat ini sedang menenteng 2 dress yang baru di antarkan sore tadi –dengan kedua tangannya. ”satunya buat shilla..” ucap gabriel, tersenyum di akhir kalimatnya.

Sivia menangguk-ngangguk, mencoba menegrti. Ternyata shilla sudah masuk ke kehidupan kakaknya sejauh ini. sebagian besar hatinya mencoba untuk tak mengacuhkan itu, tapi tetap saja ada satu tanya yang sebenarnya mengusiknya.”apa benar kakaknya mencintai gadis itu? gadis manis yang bahkan umurnya hanya terpaut beberapa bulan darinya?”. Ah entahlah, demi tuhan sivia bukan orang yang mempunyai hobby ikut campur urusan orang. Lagipula ia mengenal kakaknya, Ia sangat tau bahwa setiap langkah yang akan di lalui kakak satu-satunya ini selalu di pikirkan terlebih dahulu. Jadi, sivia pikir dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun.



To be continued....

Part 17 : http://egaditya.blogspot.com/2013/09/kamu-untuk-aku-part-17.html


Sabtu, 20 Juli 2013

Kamu Untuk Aku ( Part 15B )


Shilla kaget bukan main, saat tau-tau mobil mewah rio sudah terparkir rapi di area parkir sekolahnya. Entahlah, ada rasa tidak siap di hati shilla menghadapi pemuda itu, mungkin ini efek dari salah satu kejadian di taman itu. ah itu menyebalkan untuk menjadi pengalaman pertama yang selalu teringat.

Ia melirik takut-takut ke arah cakka, rencananya siang itu shilla akan menumpang cakka untuk sampai ke rumahnya. “emm cakk...”

“iya gak apa-apa...” ujar cakka berusaha sebiasa mungkin.

“bukan.. bukan.. gue gak mau bareng dia kok, gue mau ngusir dia..”

Cakka menghela nafas, sekuat hati menahan egoisme akan gadis manis di hadapannya. Dia hanya merasa tidak pantas. ”gausah.. gausah.. lo bareng dia aja. Emm lagian gue baru inget, siang ini gue ada rapat OSIS buat bahas acara camping.”

Shilla mengangkat satu alisnya, merasa ganjil.”tapi lo tadi bilang bisa gue barengin.”

Cakka tergagap, pusing sekali mencari alasan yang lebih tepat untuk mengelabuhi shilla.”ya... namanya juga orang lupa shill... udah deh sono.. gue harus buru-buru nih soalnya, pasti anak-anak udah pada nungguin. Bye shilla..” tanpa menunggu shilla menjawab, cakka sudah berlari kembali ke area gedung sekolah.

Shilla mendengus kasar. Kenapa gue harus selalu di posisikan seperti ini ya tuhan. Dengan langkah ragu shilla menghampiri mobil mewah rio. Itu artinya.. Mempersempit jaraknya dengan rio yang sedang melihat dari balik kaca dengan senyuman.. emm manis, hatinya semakin berdebar, ingatan akan kejadian yang harusnya di lupakan itu pun... semakin kuat. Ayolah shill, kamu jauh lebih kuat dari ini.

Rio membuka kaca jendela mobilnya, menyambut kedatangan shilla.”ngomongin apa dulu tadi sama cakka.”

Shilla melengos, sepertinya dia sudah berlebihan dalam mengambil sikap, buat apa dia merasa tidak enak segala gara-gara kejadian kecolongan itu, sedangkan pemuda lancang yang melakukannya saja bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“kalian ngomongin gue?” tanya rio lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari shilla.

Shilla yang masih berdiri di samping mobil rio. melipat dada.”lo ngapain kesini?” ucapnya ketus.

“Yang pasti bukan buat liat lo ngobrol lama-lama sama cakka. Soal nya...... itu bikin gue cemburu..”

Shilla melengos-lagi-.”memang nya lo udah sembuh? Harusnya lo di rumah aja, gak perlu susah-susah kesini, lagian gue juga seneng kok kalo lo gak kesini.”

Rio mendengus kesal. Harapannya tentang hubungannya dengan shilla menjadi baik setelah kejadian di taman itu, ternyata memang hanya bisa jadi harapan. ”masuk lo..”

Shilla tak bergeming. Masih berdiri tegap dengan kedua tangan masih di lipat di depan dada. Kilat matanya menantang abis-abisan tatapan tajam rio. Hanya sedang Berusaha melawan, agar tidak selalu tunduk. Tidak selalu patuh.

“Shilla..” rio memberi jeda sebentar, menajamkan tatapannya yang sudah tajam. “MASUK..” gertak rio lebih keras, lebih galak, lebih penuh perintah.

Shilla menghentak-hentakkan kakinya, tak bisa lagi membantah. Lalu melangkahkan kakinya memasuki mobil mewah silver itu dengan berat hati. Selalu begini, dia tidak pernah bisa atau mungkin tidak-akan-pernah bisa membantah keinginan rio yang harusnya bisa saja ia bantah.


***


Cakka menyandarkan tubuhnya lemas di balik dinding. Menghela nafas, lalu tubuhnya merosot hingga terduduk. Mengacak-ngacak rambutnya kasar, prustasi.
“...Lo bego cakka, lo pecundang....”

“kka...” cakka mendongak cepat. Mengenali satu-satunya orang yang memanggilnya seperti itu, kka. Ia menoleh ke kiri. Dan benar, seseorang itu sekarang sudah berdiri 2 meter darinya, mengapit bola basket dengan tangan kanannya.

Cakka berdiri, menampilkan senyum sebisanya. “hai.... ag.” Seseorang itu.. agni

Agni diam. Mencoba memahami apa yang sedang terjadi, tanpa ada yang harus menjelaskan. Karena  mungkin memang hanya satu alasan yang bisa membuat pemuda jangkung di hadapannya bisa bertingkah seperti ini, prustasi. Agni membalas senyum cakka sekilas. Tidak . dia tidak akan berbasa-basi untuk menanyakan apakah pemuda itu baik-baik saja. dia yang akan berusaha membuat pemuda itu baik-baik saja. ”mau main basket...?” ujarnya, bola orange itu di lempar pelan ke arah cakka.

Cakka menerima dengan sigap, meski dia berprofesi sebagai atlet futsal di sekolahnya, kemampuan nya dalam basket tidak terlalu payah, mungkin ini efek berteman dengan agni yang merupakan bintang basket putri di sekolahnya. Cakka mengangguk pelan. Di ikuti senyuman yang lebih bersemangat dari sebelumnya

Lalu keduanya, berjalan beriringan, dalam diam. menuju lapangan basket outdor milik sekolah mereka.


***



“Kenapa gak bawa sepeda sendiri? Sepeda BARUnya rusak?” tanya rio, sengaja menyebut kata baru dengan nada lebih menyebalkan.

Mampus lo shill. Mau jawab apa lo? Jujur, mati. Atau... tidak jujur, mati. Oke, bersama rio memang selalu tidak ada pilihan. Karena sama-sama berujung ... mati. Mati dengan jujur setidaknya tidak plus menambah dosa.”gue dianterin kak gabriel...” Jawab shilla di buat seketus mungkin.

Sedikit menerawang, rio masih belum menanggapi jawaban shilla. Merasa tidak asing dengan nama gabriel yang di sebut-sebut shilla. dan ya...”oh.. Om-om yang pergi ke pasar malem sama kamu itu.” ujar rio, santai, satu ujung bibirnya sudah terangkat angkuh.

Shilla melotot, sangat tidak terima dengan pernyataan rio mengatakan gabriel : OM-OM dengan ekpresi yang super duper memuakan.”enak aja. Dia bukan om-om!! Dia itu Dokter muda yang baik hati dan bijaksana. Kayak raja. Tapi dia memang raja sih, Raja nya hati.. gue.” Shilla tersenyum tak kalah angkuh, merasa sudah mengambil langkah tepat sudah berkata seperti itu, dan akan lebih baik lagi jika itu membuat rio sadar kalo dia tidak cinta –bahkan- suka pada rio yang dengan seenaknya mengklaim dirinya sebagai pacar. Lalu dengan begitu ia akan di lepaskan, seperti  burung yang di lepas dari sangkarnya, BEBAS.

Rio menghela nafas pelan sekali, dengan harapan shilla tidak menyadarinya. IYA. Memang benar perkiraan shilla, itu membuat rio semakin sadar shilla belum –atau mungkin- tidak mencintainya. Tapi langkah melepas burung dari sangkar itu sama sekali tidak terlintas di pikiran rio. Melainkan, tekadnya semakin bulat, yaitu tekad menjadikan dirinya satu-satunya orang yang memiliki shilla. dan di jadikan satu-satunya orang yang harus shilla miliki.

“tiba-tiba gue butuh hiburan nih.. enaknya kemana yaa?”

Shilla mendengus kasar, rencananya.... GAGAL.

“kalo lo lagi pengen kemana?”

Shilla melirik rio sekilas, lalu memilih menggeleng dalam diam.

“ke mall aja deh. Soalnya kalo anak alay kayak lo gini pasti seneng di ajak ke mall.”

Shilla melotot garang ke arah rio. “alay bilang alay.” Gerutunya pelan, lalu melengos.”lagian kita masih pake seragam kali, ntar di tangkap ah males...” tambahnya.

Rio tak menanggapi, hanya menatap tajam ke shilla cukup lama. Lalu baru melepaskan tatapan tajam itu setelah shilla mendengus keras. Sudah menyimpulkan ekpresi pasrah gadis di sampingnya sebagai bentuk pernyataan saya-tidak-bisa-membantah.


***


Sarah menggeret kopernya dengan terburu, air mukanya keras dengan mata memerah. Ia Marah. Ia muak. Hingga rasanya ingin membunuh laki-laki yang sekarang tengah mengekor di belakangnya.

“sarah.. coba kamu pikirin lagi keputusan kamu... jangan pake emosi rah.. pikirin perasaan ify..”

Sarah menghentikan langkah tiba-tiba, membalikkan badan tanpa mengurangi ekpresi kemarahannya. Menatap murka lelaki yang 19 tahun ini sudah membina rumah tangga dengannya.”saya akan segera mengirimkan surat perceraian kita.” Ucapnya telak.

Tak ada bantahan, erwin- lelaki itu- hanya bisa menunduk, membiarkan begitu saja sarah yang dengan gerak cepat memasuki mobil lalu meninggalkan halaman besar rumahnya.

Tak jauh dari tempat terjadinya percapakan panas itu, seseorang yang tadi namanya ikut di sebut-sebut masih diam mematung, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar, apa yang sedang terjadi, ada harapan.. ini semua hanya mimpi.

***



“huaaahhh..” shilla menjatuhkan dirinya di kasur empuk kesayangannya..”capek..” eluhnya, entah pada siapa.

“monyet jelek sayang, buruan buka sms! ..”

Shilla langsung duduk  dari tidur-tidurannya, meraba-raba saku celana jeans yang di belikan rio untuknya. Lalu mengambil benda elektronik yang baru saja mengeluarkan suara aneh di sertai getaran halus.

From : Mario sayang
Jadi.. untuk mengurangi resiko terjadi perselingkuhan di hubungan kita.
Selama gue gak anter jemput lo, karena lagi sibuk buat ujian
Lo di anter sama anak buah gue lagi.
Dan ini.. ya kamu tau lah shilla, GAK BISA di bantah

Shilla mendengus keras, meski setelahnya ia senyum-senyum sendiri. Ia pandangi lekat-lekat HP baru yang baru ia miliki beberapa jam ini. ini.. dari rio. HP nya dan segala keanehan yang ada di dalamnya. Benar-benar dari rio.

*Flashback on

Shilla akhirnya memilih celana jeans panjang berwarna dongker dengan kaos oblong pendek sebagai atasannya. Rio mengajaknya ke salah satu toko yang menjual pakaian wanita sebelum memulai aksi yang tidak-bisa-dibantah di mall siang itu.

“berantakan.. tapi cantik.” Komentar rio begitu shilla keluar dari kamar ganti.

Shilla mendengus, tak peduli. Lalu hendak mengikat rambut terurainya yang berantakan, tapi harus tertunda saat tau-tau tangan rio mencekal tangan kanan nya yang sudah siap untuk mengikat ramabut panjangnya.

“gue bilang lo cantik.. jadi gak ada yang perlu di ubah.”

“tapi ini berantakan... “ gerutu shilla. namun meskipun begitu ia tetap menuruti si manusia tidak-bisa-dibantah itu. Sekarang, ia hanya mengikuti langkah rio yang tak berarah.

“harusnya tadi pagi, lo ngabarin gue kalo mau pergi sekolah sama orang lain.. jadinya kan gue gak perlu repot-repot ke rumah lo...”

Shilla melirik tajam pemuda jangkung di samping kirinya. Siapa yang suruh coba? “iya. Besok-besok gue kabarin pake pos. Ya kurang lebih seminggu lah nyampe nya. Kalo yang kilat.. 2-3 hari lah nyampe.. atau boleh juga pake tiki, katanya bisa lebih cepet.” Celoteh shilla asal.

Rio terkikik sebentar. Baru ingat gadis manis di sampingnya tak memiliki telepon seluler pribadi. Tiba-tiba rio teringat sesuatu, janjinya membantu mewujudkan 16 keinginan gadisnya. Ada. Salah satunya. BIRTHDAY WISH “(6) biar aku bisa ngehubungin papa di surga, aku mau handphone tercanggih sedunia.” Rio menarik tangan shilla paksa, punya tujuan akan membawa shilla kemana.

“Mau yang mana?...” shilla menganga, selalu tidak mengerti dengan jalan pikiran tuan muda di hadapannya. Saat ini dirinya sudah berada di salah satu stand yang menjual berbagai model telepon seluler.

Rio menoleh, melihat shilla yang dengan tanpa ekspresi juga sedang melihatnya.”handphone nya mau yang mana shilla?” ucap rio lebih detail, lebih keras, lebih jelas.

“ha? Gue gak bilang mau beli handphone kok.”

“iya memang bukan lo yang mau beli, tapi gue..”

Shilla mendengus lagi untuk ke sekian kalinya.”terus ngapa nanyanya ke gue? Gue kan jadi bingung tiba-tiba di tanyain begitu.”

“ya soalnya, gue mau belinya buat lo. Dan tolong gak usah banyak complain, segera pilih dalam waktu lima detik. Kalo dalam lima detik lo gak milih, gue yang bakal milih. Pilih....”

Shilla diam, mulutnya sudah pasti dalam posisi menganga. Baru ia akan membuka suara....

“oke. Waktu lima detik habis.” Rio memalingkan wajah nya ke salah satu penjaga toko. “Mas saya beli HP paling canggih sedunia yang ada di sini..”

Shilla tersentak, merasa kebetulan-kebutalan yang di lakukan pemuda yang sekarang sedang fokus bertransaksi jual-beli di hadapannya ini tak hanya kebetulan yang mengalir begitu saja, seperti terencana. Tapi...

“yuuukkk. Cari tempat buat belajar HP barunya..”

“ha?” shilla masih sulit mencerna, ini terlalu cepat, terlalu absurd. Akhirnya.. dia lagi-lagi hanya bisa menuruti langkah pemuda yang menggandeng kuat-kuat tangannya.

“ke cafe itu aja kali ya..” shilla masih belum bisa membuka suara, membiarkan saja pemuda itu terus menggiring dirinya, dirinya yang ia tak yakini dirinya sedang di dunia nyata.

“ayok sadar dulu..” ucap rio, tangannya menepuk-nepuk pelan pipi shilla. dan itu baru membuat shilla benar-benar sadar saat ini ia sedang berada di salah satu bangku cafe beraksitetur menawan.

“lho kok kita bisa ada di sini?” tanya shilla, raut mukanya benar-benar menunjukkan kebingungan.

“shill sumpah lo hebat banget, ngelamun nyampe gak sadar sejauh ini..” rio menggelengkan kepala dramatis.”tau gitu, gue perkosa lo tadi.”

Shilla langsung melotot. Melengos sebal saat pemuda di depannya, terkikik-kikik sendiri.

Dan siang itu mereka berdua menghabiskan waktu untuk mempelajari HP baru yang di belikan rio untuk shilla.


*flashback off

Shilla tersenyum lagi. Sambil memandangi wallpaper HP barunya, tidak ada yang spesial, hanya fotonya yang sedang menjulurkan lidah dan rio yang tersenyum lebar di samping kanannya. tentu rio yang mengaturnya. wallpaper, nada sms khusus, nada telephon khusus, nama kontak rio. Benar-benar murni rio yang mengaturnya. Dan ia pikir, itu ... lucu.

Lucu? Apa? Wait wait, Apa baru saja shilla menyebut itu lucu. Ekhem. Rio lucu gitu maksudnya. Sadar shill sadar. Rio? orang sejahat itu lo bilang lucu. Rio itu bencana shill, membahayakan. Shilla menepuk-nepuk dahinya, lalu kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Semacam ritual yang ia harapkan bisa membenarkan otaknya yang mungkin terjadi kesalahan.

Shilla menghampiri meja belajarnya setelah membanting pelan HP barunya di tempat tidur,  di meja belajar itu ada benda yang terlihat nampak lebih terang di banding benda lainnya, kota bekal merah muda.. pemberian gabriel pagi tadi.

Shilla lagi-lagi tersenyum, dengan alasan berbeda. Kali Ini karena sikap manis pangeran hatinya, yang dengan manis memberi bekal pagi tadi yang katanya di buat sendiri.  Lihat. kurang perfect apa lagi si pujaan hatinya, sudah baik, dermawan, ganteng, dan..... pinter masak. Shilla harus mengakui nasi goreng buat gabriel tidak bisa di bilang biasa. Itu luar biasa enak.

Shilla mengelus kotak bekal itu penuh sayang, membayangkan bahwa kotak bekal itu adalah gabriel. Lalu setelah puas mengelus-ngelus si kotak bekal merah muda itu, ia peluk kuat-kuat kotak bekal itu, masih membayangkan itu adalah gabriel. Dalam hati mengukuhkan, ini yang terbaik, ini yang paling benar. Takkan berubah, dan tak akan ia izinkan untuk di ubah. Kotak bekal merah muda itu.. yang berharga. Seperti pemberinya yang berharga.


***



            Ify masih meringkuk di sudut kamarnya yang luas. Ia melipat kakinya di depan dada dan memeluknya erat dengan kedua tangan pucatnya. Airmata nya pun tak henti-hentinya berproduksi sejak 1 jam yang lalu.

            Harapan hati kecilnya yang menginginkan ini tidak nyata, membuatnya semakin terpuruk. Pukulan-pukulan keras yang ia tujukan untuk dirinya sendiri, nyatanya terasa sakit, memilukan. Ini nyata fy. Dan kamu bisa berbuat apa? Hanya menangis seperti ini, bahkan ini juga tidak bisa mengubah apapun. Keluargamu yang sudah hancur, akan semakin hancur.

            Dada ify semakin sesak, mengingat mimpi buruknya akan segera menjadi kenyataan. Jika biasanya ia selalu bilang pada orang tuanya untuk segera bercerai jika tidak bisa lagi sejalan. Percayalah, hati ify bertolak belakang dari itu semua. Hati ify menentang habis hal itu, perceraian.

            Lalu, kenapa tidak ada yang peka dengan hatinya. Kenapa semuanya tak berjalan sesuai kemauan hatinya yang terpendam. Kenapa orang tua bangsat itu harus mewujudkan ketakutannya. Benarkah? Tidak adakah yang mengerti hatinya? Tidak adakah yang peduli dengan hatinya, dengan dirinya.

“..lyssa..” ify masih membenamkan wajahnya, terlalu berat hanya untuk sekedar mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang baru saja memanggil namanya.

Lalu beberapa detik setelah itu. ify merasa ada yang memeluk kuat tubuhnya, dan ify merasa jauh lebih tenang, bisa kembali tersenyum di balik lukanya. pelukan kokoh itu, harum parfum ini, ify tau. Ia peluk balik tubuh kokoh pemuda itu. Dan dari hatinya terdalam, memang ini yang ia inginkan. Pemuda ini, masih mempedulikannya.

*


Rio memparkir mobilnya dengan sembarang. Tidak peduli dengan beberapa pot bunga yang hancur karena tertubruk mobilnya, ia segera berlari memasuki rumah yang tak kalah mewah dari istananya, menaiki undakan tangga untuk mencapai lantai dua, lalu membuka pintu dengan bertuliskan alyssa’s room dengan kunci cadangan yang ia dapat dari salah satu pembantu disana.

“lyssa...” rio semakin kalut, ia hampiri dengan langkah panjang seseorang yang meringkuk di pojok kamar besar itu.

Rio segera memeluk tubuh mungil yang tengah bergetar hebat itu, menyalurkan energi-energi positif yang kiranya membuat gadis berdagu tirus itu lebih kuat, lebih tegar.”lyssa, it’s gonna be OK, i’m here.. for you.... calm down”

Rio terus mengelus punggung gadis itu lembut, bermaksud untuk memberi ketenangan.

“..aku.. gak.. mau.. me..re..ka ce..rai...” dan tubuh ify lemas. Ify tak lagi sadarkan diri.



To be continued....


Part 16 : http://egaditya.blogspot.com/2013/08/kamu-untuk-aku-part-16.html