Jumat, 09 Mei 2014

Kamu Untuk Aku : Part 25



Shilla menyikat rambutnya tanpa semangat, tidak seperti pagi-pagi biasanya. Pagi ini dia bercermin bukan untuk melihat apakah pakaian seragam yang ia kenakan sudah rapi. Dia di skor bukan? Padahal tak sampai 1 minggu lagi dia ujian.

Shilla mendesah. Tangan kirinya memegangi kantung matanya yang membesar. Kejadian hari kemarin memang terasa sulit bagi Shilla. Ia menangis hebat semalam ketika menceritakan semuanya pada bundanya. Syukurnya bunda bisa mengerti dan menenangkannya untuk sementara.  Karena tak lama dari itu, ketika Ia masuk ke kamarnya, Ia menangis lagi.

Huh. Shilla menjatuhkan tubuhnya ringan di atas kasur. Lalu seperti sadar akan sesuatu Ia meraih ponsel pemberian Rio. Ia aktifkan dengan kelewat berharap. Meski pada saat itu juga harapannya langsung menjatuhkannya. Ia berharap ada ucapan selamat pagi yang selalu Rio kirimkan tiap pagi untuknya.

Kenapa jadi berbeda? Dan setelah kejadian sore itu? apa yang dikatakan Dea ada benarnya?

“Shill..”

Shilla terjingkat kaget, reflek langsung berdiri. Ia mengembangkan senyum tipis. “ Iya bun..”

“ Ada yang nyari kamu tuh..”

Ina bisa melihat binar harapan yang terbit di mata Shilla, dan sontak merasa tidak tega. Tapi sebelum dia bisa menjelaskan lebih lanjut, Shilla sudah tergesa beranjak dari ruangan itu.

“Pasti kak Rio ya bun?”

“Eh Shill.. “ cegah Ina. Tapi Shilla sudah terlanjur berlari, menuju pintu depan, dengan binar harapan yang mencerahkan matanya.

Ina menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

*


Dengan hati yang melambung penuh harap, Shilla setengah berlari menuju pintu depan. Siapa lagi orang kurang kerjaan yang mencariya pagi-pagi begini kalo bukan Rio.

“Ri..”

Sapaan tadi tergantung tanpa terselesaikan di bibirnya saat Dia melihat sosok yang berdiri menunggunya.

“Eh…” kata Shilla akhirnya, sambil menelan rasa pahit atas harapannya yang ternyata sekedar mimpi belaka. Kenapa hari ini ‘harapan’ begitu jahat padanya.

***


Tanpa sadar Gabriel memegang taddy bear berukuran sedang yang Ia bawa terlalu kuat. Tiba-tiba Dia jadi gelisah, ada yang mengganjal. Dan Dia tidak perlu berfikir terlalu keras untuk hal mengganjal itu. Ia tau, Ia sadar, yang Ia lakukan saat ini salah. Ah bahkan Ia tau sejak awal Dia sudah salah. Ia mendesah, Dia hanya sedang berjuang untuk kebahagiaannya. Apa salah?

Gabriel sudah berdiri di depan pintu dengan senyuman paling menis ketika mendengar derap langkah terburu yang mendekat.

“Ri..”

Kening Gabriel berkerut.

“Eh..” gadis didepannya tampak salah tingkah dengan menggigiti bawah bibirnya.

“Pagi Shilla..” ucapnya mencairkan suasana, melupakan kejadian kecil yang berdampak besar di hatinya. Apa artinya? Ri? Rio? MaRio? Lalu apa maksudnya? Gadis itu berharap yang mengunjungi pagi ini si Rio? Lalu kenapa hatinya sangat tidak rela? Lagipula dia bukan siapa-siapa? juga bahkan tidak bisa lagi jadi siapa-siapa untuk gadis ini. Bukannya ada gadis lain yang sudah ia janjikan kebahagiaannya. Lalu bagaimana ini?

“kak Gabriel ada apa pagi-pagi kesini?” kata Shilla akhirnya, membuat Gabriel harus menghentikan sementara usaha otaknya untuk menemukan jawaban dari setiap pertanyaannya.

“Ini mau ngasih ini..” kata Gabriel tanpa basa-basi, Ia ulurkan taddy bear kearah Shilla. “ Tadinya mau kakak antar ke sekolah kamu, eh bukannya ketemu kamu malah dapat kabar kamu di skor.”

Shilla tidak menyahut, Dia hanya membalas dengan cengiran yang sedikit dipaksakan. Dia tidak terlalu bersemangat pagi ini.

“ Kok bisa?”

Ditanyai seperti itu, Shilla terlonjak kaget. Ia tidak mungkin jujur kan? Jika Gabriel cukup berperan dalam alasan yang menyebabkan perkelahian itu terjadi.

Gabriel tidak mengerti, kenapa Shilla tak langsung menjawab pertanyaannya dan malah tampak berfikir keras seperti itu. Mungkin gadis itu tidak ingin menceritakan alasannya, dan percayalah Gabriel bukan tipe orang yang suka memaksa. Akhirnya Ia usap puncak kepala Shilla sambil tersenyum.” gak papa kalo gak mau cerita.”

Shilla malah jadi tidak enak. “ Aku Cuma mau coba-coba aja kok kak.. sekali-sekali kan. “ sahutnya, diakhiri dengan cengiran seperti biasa.

“Coba-coba ya? Oke..” kata Gabriel lalu tertawa.

Shilla ikut tertawa, meski tak sepuas tawa Gabriel.

“Jadi gimana rasanya?”

Shilla terkekeh. “Emm.. biasa aja. Gak cukup asyik untuk bikin ketagihan.”

Gabriel mengangguk-ngangguk. Lalu tiba-tiba mendapat ide cemerlang, keinginannya untuk mendapatkan kebahagiaannya semakin menggila. “ Well, gimana kalo kakak bikin coba-coba diskornya jadi gak terlalu ngebosenin.”

Shilla memiringkan kepala. “ Gimana?“


***



Rio merapatkan selimutnya, tubuhnya terasa begitu menyakitkan begitu Ia membuka mata pagi ini. Sekujur tubuhnya ngilu dan sudah dibanjiri keringat dingin.

Rio mendesah. Lalu dengan susah payah Ia menghampiri pintu kamar, membuat pintu itu agar tidak lagi terkunci dari dalam. Ia khawatir akan terjadi hal yang buruk pada dirinya, dan akan sangat naas jika tidak ada satu pun orang yang bisa menolongnya.

Setelah tubuhnya kembali berbaring nyaman di bed kingsize nya , Rio menghela nafas lega.

Semalaman Dia terus berfikir keras mencari jalan keluar dari masalah ini, Ia tidak tau dampaknya akan seperti ini. Mungkin di tambah Dia tidak makan dari kemarin siang, Dia bosan memakan makanan dari lemari pendingin dikamarnya.

“Rio gue nih. Masuk yaa. “

Rio mengangguk, meski Ia tau orang yang berucap tadi tidak bisa melihatnya.

“Kamu kenapa?” Tanya seorang gadis yang jika Rio tidak salah liat saat ini menggunakan dress biru yang terlalu mini. Panjang Dress itu hanya sampai pertengahan paha, dan sepertinya juga terlalu ketat untuk tubuh gadis itu yang kurus.

Jika saja dia tidak sedang drop begini, mungkin akan habis gadis itu Ia omeli. Rio berdehem sekali. “Kunci lagi pintunya fy..” ucapnya serak dan berat.

Ify menurut, berbalik kearah pintu untuk menguncinya lagi.

“Kamu sakit?” tanya Ify lagi, ia mendekati Rio. Mengulurkan tangan untuk bisa menyentuh dahi pemuda itu. “Demam nih kamu, Aku panggilin dokter ya?”

“No!” Sahut Rio cepat. Ia mengambil nafas berat. “Ambilin obat gue aja di laci. “ Lanjut Rio, tangannya menunjuk meja panjang di sisi kanan kamarnya.

Meski dalam hati Ify tidak menyetujui ide Rio, Ia hanya menurut. Ia menghampiri meja panjang yang atasnya berjejer pigura photo berbagai ukuran. Ify tersenyum melihat salah satu photo di pigura itu, photo dirinya dan Rio ketika di ulangtahunnya yang ke 11, dan boneka besar yang besarnya melebihi dirinya yang berada diantara mereka berdua itu hadiah dari Rio untuknya. Lucu.. manis.

Setelah puas menatap senang photo itu, Ify membuka laci teratas meja itu. Ia langsung dibuat tercengang. Ada banyak sekali obat disana. Ini tidak mungkin persediaan, pikirnya marah. Ia ambil sebanyak mungkin yang Ia bisa. Ia bawa ke Rio dengan amarah yang siap meledak.

“Obat mana maksud kamu?” Di tumpahkannya obat-obat yang Ia bawa sengaja di atas selimut yang menyelimuti Rio.

Dengan susah payah Rio melirik sesuatu yang menjatuhi tubuhnya pelan, Ia menghela nafas berat. Ia sadar, Ia sudah membongkar rahasianya sendiri.

“ Kamu gak pernah minum obat kamu?” tanya Ify lagi. “ Kamu gak mau sembuh?” Ify semakin menggila. Iya, dia marah. “ Kamu seneng liat aku khawatir terus tiap sakit kamu kambuh? ”

“Maaf.” Ucap Rio begitu lirih, nyaris tidak bersuara. Tubuhnya semakin lemah hingga rasanya seperti mau mati.

Air mata Ify menetes. Ia memalingkan wajah, Ia tidak suka melihat Rio dengan wajah pucat, Ia tidak suka melihat Rio yang terlihat lemah. Seperti sekarang.

“ Aku panggil dokter. “ kata Ify tegas, Ia langsung pergi. Dia tidak ingin luluh, jika nanti Rio memohonnya untuk tidak melakukan hal ini.



 ***


Shilla merentangkan kedua tangan untuk meregangkan ototnya yang terasa kaku, sambil dalam-dalam menghirup udara segar khas pedesaan. Shilla tidak tau tepatnya dimana sekarang dia berada. Yang Ia tau hampir 3 jam waktu yang diperlukan untuk sampai ketempat ini.

“ Yuk.. “ Dengan cepat Dia mengangguk, memberi senyum. Lalu menyambut uluran tangan pemuda yang telah membawanya kesini. Kak Gabriel.

Dengan masih tersenyum, Shilla mengamati dengan sungguh-sungguh punggung pemuda jangkung yang menggiring langkahnya didepannya. Tak ada lagi kecanggungan yang menyelimuti keduanya. Euphoria hangat yang dulu Shilla rasakan, kini kembali. Bahkan rasanya lebih meledak. Disertai desiran halus dari sekujur tubuhnya. Menggelitiknya untuk selalu behagia. Bahagia? Apakah pantas? Disaat ada pemuda lain yang secara resmi memiliknya.

Entahlah, apa ini maksudnya. Tapi bagi Shilla pemuda ini hadir disaat yang tidak tepat. Disaat dia mulai ragu untuk melanjutkan cintanya pada pemuda lain itu.

Duk. “Aduh.. “ ucap Shilla, sambil mengelus dahinya. Ia menubruk punggung Gabriel yang berhenti dengan tiba-tiba didepannya.

“Sudah sampai..” Gabriel berucap sumringah.

Shilla mengerjap beberapa kali. Dia benar-benar tukang melamun yang handal, hingga tidak sadar sudah berada di tempat yang.. woow.. seindah ini.

“Keren banget.” Mata Shilla berbinar cerah. Ia sampai tidak berkedip melihatnya, seperti tidak ingin melewati tiap inchi keindahan tempat ini.

Saat ini dia berada di tengah sawah yang membentang luas dan sedang menghijau. Seakan tidak cukup indah, tidak jauh darinya ada sungai kecil yang membuat suasana semakin nampak asri dan nyaman.

“ Aku mau main disungai.” Teriak Shilla semangat. Tangannya mencari-cari tangan Gabriel untuk ditarik ikut bersamanya.


*


Dengan begitu bahagia, Shilla sudah duduk di salah batu besar ditengah sungai, kakinya dicelupkan ke dalam sungai yang dalamnya hanya sebatas lutut.

Gabriel ikut bahagia. Hanya dengan melihat Shilla tersenyum bahagia, Sederhana bukan kebahagiannya, jadi tidak apa-apa kan dia melakukan ini? eh.. apa benar-benar tidak apa-apa?..

Gabriel mengerjap, ada cipratan air yang membuatnya hampir basah kuyup. Gabriel melihat kearah Shilla lagi, dia langsung ikut tertawa begitu melihat Shilla tengah terbahak.

“ Jahil kamu..” seru Gabriel.

“ Abis malah melamun.. gak tertarik dengan beningnya sungai nih..” jawab Shilla lucu.

“ Tertarik sih, tapi lebih tertarik sama kamu tuh.”

“ Eh? “ Shilla reflek menundukkan kepala, dia tau jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tapi Ia juga tau, ini tidak seharusnya terjadi.

Shilla terjingkat. Entah kapan Gabriel melepas sepatunya? Lalu datang menghampirinya, dan kini tangan kanannya merangkul bahunya?

Gabriel mendesah. “ Maafin kakak. “ katanya. Ia tatap lembut mata bulat Shilla yang sedang menatapnya penuh kebingungan.

“ Ma.af apa?” kata Shilla, suaranya mulai terdengar gugup. Ia rasa, jaraknya dengan Gabriel terlalu dekat.

“ Sebelumnya, Kamu harus percaya Shill. Kakak sudah berusaha ngelupain kamu. Tapi sekarang ini.. Menjelaskan..... “ kata Gabriel. Ia diam sebentar, Memperdalam tatapannya ke mata Shilla yang nampak bersinar pagi itu.

Gabriel mendesah lagi. “ Kakak sudah gagal. Kakak masih mencintai kamu.”

Shilla ternganga. Jantungnya berdetak sangat cepat. Membuatnya reflek menyentuh sampai meremas dadanya. Berusaha meredam detak tidak wajar itu. Karena, adanya detak itu membuatnya sadar, cintanya tengah diuji. Bahkan dia belum tau kabar seseorang yang ia pilih untuk Ia cintai, dan apa yang sedang ia lakukan saat ini? Apa sebuah pengkhianatan? Karena hatinya berdetak tidak wajar untuk pemuda lain.

Astaga. Shilla mengerjap beberapa kali, untuk kembali menghadapi kenyataan. “ Maafin aku kak. Yang sekarang ini harusnya gak pernah terjadi. Maafin aku, atas adanya harapan palsu yang aku lakuin.. “

“ Apa benar-benar tidak ada lagi kesempatan?” Gabriel seperti bertanya pada dirinya sendiri, dan Ia tau jawabannya. Tidak akan ada lagi kesempatan. Tidak akan ada.

Shilla membalas tatapan Gabriel, dengan keyakinan. “ Aku udah milih kak. Aku cinta Rio, dan aku gak tau sudah seberapa dalam. Yang aku tau, aku rindu kehangatan Rio. Saat ada kak Gabriel yang lagi ngasih aku kehangatan.”

Gabriel tersenyum, sudah sepantasnya jawaban itu yang Shilla lontarkan. Untuk sekaligus membuatnya sadar. Ia tak bisa lagi melanjutkan kegilaan ini.

Gabriel tersadar. Saat tangan Shilla menepuk pelan pundaknya. “ Ayok pulang, aku baru inget aku ada janji belajar bareng sama agni. “ kata Shilla, sebisa mungkin memberi senyuman tulus diakhir kalimatnya.

 Gabriel membalas senyum itu, lalu hanya mengangguk. Tidak peduli dengan kecurigaannya dengan alasan Shilla yang sepertinya bohong. Ia hanya sedang sibuk mengatur hatinya agar selaras dengan pikirannya.


***


Rio harus mengerjapkan mata beberapa kali untuk dapat dengan jelas melihat seseorang yang duduk di sisi kanan ranjangnya, sambil menggenggam tangannya.

Ia menarik tangannya dengan gelisah. Ia tidak terbiasa dengan sentuhan itu.

Dan hal itu membuat seseorang yang menggenggam tangan Rio sadar, Anaknya sudah sadar. “ Rio kamu sudah sadar?”

“Hmm..” jawab Rio sekenanya. Lalu memalingkan wajah, melihat ada Alvin juga ada diruangan itu, ia memberi senyum singkat untuk Alvin.

“ Syukurlah. Apa ada yang masih terasa sakit.”

Rio menggeleng, “ Aku.. sudah baik-baik saja.”

Manda mendesah pelan, merasakan kecanggungan yang semakin membuat tidak nyaman. Ia tersenyum kaku, “ Baiklah, kalo begitu Mama sudah bisa tenang untuk meninggalkan ruangan ini. “ katanya. Lalu segera melangkah pergi.

Begitu manda hilang dibalik pintu kamar Rio, Alvin segera menghampiri Rio. “ Lo beneran udah gak papa Io?” tanyanya khawatir.

Rio tertawa pelan. “ Lo tanya gitu? beneran udah kayak patner homo gue aja vin.”

Alvin mendorong bahu Rio pelan. “ Lagi sakit masih gesrek aja lo..”

Lalu diam, sampai akhirnya Alvin mendesah keras. “ Gue jadi ngerasa gak pantes jadi temen lo. Gak dapet kabar lo 2 hari ini, dapet-dapet kabar lo udah hampir mati gitu. “

Rio tertawa lagi, “ Dapet kabar dari siapa lo?”

“ Dari Ify lah, siapa lagi? ..”

“ohiya.. tu anak kemana sekarang? yang gue inget terakhir sih dia ngomelin gue disini.”

“ Gaktau tuh, ada acara mendadak gitu katanya, makanya dia ngehubungi gue buat kesini. Padahal itu modusan dia aja buat manfaatin gue untuk selalu ngabarin dia setiap detik tentang keadaan lo.”

Rio hanya tertawa pelan. Dia belum terlalu pulih untuk terbahak.

“ Tapi nih yaa, gue mau tanya. Lo beneran lagi dihukum gak boleh keluar dari kamar lo?”

Rio diam dari tawanya, lalu mengangkat kedua bahunya tak acuh.

Alvin mengerutkan dahi. “ Sampai kapan?”

Rio mengangkat kedua bahunya lagi. “ Sampai mati kali. “ jawabnya.

Alvin tersentak, “ Busyet dah. Ngeri banget jawaban lo io..”

“Shilla apa kabar ya vin?”

Alvin mendesah lagi. Masih sakit juga, bisa-bisanya malah nanyain kabarnya orang. “ Urus dulu tuh kabar lo, baru Urus kabarnya Shilla!” kata Alvin galak.

“ Ntar kalo lo ketemu sama dia bilangin ya vin, gue kangen banget gitu sama dia. bilangin Rio lagi berjuang untuk cinta Rio dan Shilla selamanya berjaya.”

Alvin geleng-geleng kepala, sambil nyengir. “ Gresek bener ni bocah.”

Rio menatap Alvin serius. “ Gue seriusan kok. “ katanya, sebenarnya

Hal itu membuat Alvin harus berfikir keras. “ Jangan bilang lo di kurung gara-gara hubungan lo dengan Shilla ketauan bokap lo? dan gak di setujui? ”

Rio diam, menggulingkan badannya membelangkangi Alvin. “ Sayangnya dugaan lo bener vin.”

Alvin langsung ternganga. Ini terlalu drama. Dan sulit untuknya percaya, bahwa ini benar-benar terjadi. Astaga! Malang sekali nasib sahabatnya.


***



“Tok.. Tok.. Tok..”

Ify mematung. Sebenarnya, Ia sudah berharap suara ketukan palu itu tidak akan Ia dengar. Karena kenyataannya ketukan palu itu yang akan membawaanya ke kenyataan pahit yang akan membuat hidupnya semakin kelam. Orangtuanya sudah resmi .. bercerai.

“ Ify.. “ Ify mendongak, menatap kosong seseorang yang memanggilnya dengan suara bergetar. Bahkan dia masih linglung dan tak melakukan apa-apa saat wanita setengah baya yang memanggilnya tadi memeluknya dengan kaku. “Mama akan merindukanmu..” katanya lagi, terdengar serak dan pelan.

Pelukan canggung itu tidak bertahan lebih lama, tidak sampai 10 detik. Setelahnya, tanpa mengatakan apa-apa lagi Sarah melangkah pergi. Meninggalkan Ify yang masih belum percaya dan tidak ingin percaya ini benar-benar terjadi.

Dan saat ada yang menarik tubuhnya, lalu menenggelamkan tubuh mungilnya kedalam pelukan yang lebih hangat. Tangis Ify akhirnya pecah. Membuat seseorang itu semakin mengeratkan pelukannya. “Maafin papa fy. Maafin papa..”



To be continued..

Jumat, 18 April 2014

Kamu Untuk Aku : Part 24

Dan.. yang sebenarnya, akan baru dimulai
Saat tidak hanya diri sendiri menjadi alasan
Ada orang lain yang dengan sengaja menjadikan diri alasan

Pagi ini cerah, tapi sepertinya tidak dengan perasaan Shilla. Ia terlihat gelisah dengan berulang kali melirik jam tangan merah muda yang selalu ia pakai kemana-mana. Sudah hampir jam 7. Dan si pemuda yang sudah 1 minggu ini selalu muncul di depan pintu rumahnya, menampilkan senyum menyebalkan setiap ia membuka pintunya. Lalu akan mengantarnya tidak hanya sampai gerbang atau halaman parkir sekolahnya, tapi akan mengantarnya hingga ia duduk manis di bangku kelasnya. Astaga! Kamu Kemana Rio?

“Shilla... belum berangkat?”

Meski sedikit terkejut dengan kehadiran bundanya, Shilla menggeleng, akan membuka mulutnya tapi diurungkan. Tiba-tiba ragu untuk berkata “kak Rio belum jemput” karena pada kenyataannya tidak ada peraturan yang mewajibkan Rio untuk menjemputnya?

Seperti mengerti apa yang dipikirkan putrinya, Ina mendekati Shilla. “ Mungkin kak Rio lagi sibuk shill. Jadi gak sempet jemput kamu. Berangkat sanaa. Nanti telat.”

Shilla hanya mengangguk, mencium tangan ibunya lalu memilih mengikuti dan mencoba mempercayai yang dikatakan ibunya. Ia akan menunggu bus di halte yang berada di ujung gang rumahnya.

***

Gabriel menyipitkan matanya, lalu setelahnya membelalakkan mata. Dari sekian banyak kebetulan kenapa harus kebetulan yang seperti ini yang ia alami.

Entah sejak kapan, pegangan tangannya pada stir mobil menguat. Dia pun merasa tetes demi tetes keringat mulai melewati pelipisnya. Setelah semuanya terjadi apa yang sebaiknya dia lakukan untuk menghadapi kejadian yang seperti ini.

Gabriel tau, semakin lama ia berfikir semakin mempersempit jarak dengan sesorang yang ia lihat sedang berjalan kaki membelakanginya. Oh ayolah gab, apa yang kamu pusingkan? Kamu bukan lagi anak kecil.

Ciiitt. Gabriel menginjak rem mobilnya, membuat mobil teRios silver itu berhenti agak mendadak. Tepat disamping si pejalan kaki itu.

Setelah jendela kaca mobilnya terbuka, ia bisa melihat ekspresi terkejut yang diam-diam ia rindukan. Gabriel mengembangkan senyum, “Selamat pagi.. “ begitu sapanya.

Seseorang itu melongok bingung. Lalu terlihat menelan ludah satu kali.

Membuat Gabriel kembali tersenyum, kali ini karena geli melihat tingkah orang itu. “Mau sekolah kan? Bareng kakak yuuk. .”

“ha?”

“ayuukk. Entar keburu telat lho..”

“ eh..” dengan gelisah orang itu melirik jam tangan merah muda yang dikenakan.

Gabriel tersenyum sendiri, menggelengkan kepala. Ia keluar dari mobil, menghampiri gadis berkuncir 2 yang masih berdiri di samping mobilnya. Ia bukakan pintu penumpang, mendorong pelan gadis itu. “ Jangan kelamaan mikirnya shill.. atau kamu bakal bener-bener telat.”

Shilla mengangguk sekali. mengikuti perintah Gabriel. Dan kini dia sudah duduk di bangku penumpang.


*


“kakak.. apa kabar?”

Dengan satu kalimat itu, Gabriel menegang. Suara itu masih sama, masih terdengar lembut, membuatnya tenang.

Tidak mendapati jawaban, Shilla menggigiti bawah bibirnya. Kembali merasa canggung. Ia berdehem sekali, akan kembali mencoba. “Darimana kak? kok ada disekitar sini?”

Gabriel mengembangkan senyum, mengulurkan tangannya untuk mengusap gemas puncak kepala Shilla. “ masih bawel ajaa..”

Shilla merengut, meski setelahnya ia ikut tersenyum. senyum yang tak berkurang keindahannya sedikit pun.

Dan.. Gabriel melihatnya, senyum yang begitu tulus dan pipi bersemu yang selalu menyertai setiap kali senyum itu muncul. Gabriel menghela nafas, dia tau, dia sudah kalah dengan cintanya.

***


Suara ruangan itu begitu hening, hanya terdengar suara desahan nafas yang semakin berat si pemilik ruangan. suasana hati pemilik ruangan itu sedang sangat buruk, ini hari keduanya di kurung di kamarnya sendiri. Baru hari kedua tapi rasanya sudah sangat lama.

Ia tendang kursi putih yang selama ini ia gunakan ketika belajar, lalu seperti belum cukup emosinya tersalurkan guci besar di salah satu sudut kamarnya menjadi sasaran. Ia tendang guci itu hingga hancur, seperti dirinya. IYA. Dia memang sedang hancur berkeping-keping.

“MaRio! Apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan? Buka pintunya nak!!”

Rio mendengus, dia bersyukur mengunci pintunya dari dalam. Biar sekalian puas orang yang sudah mengurungnya. Lalu tanpa menghiraukan teriakkan khawatir itu, Rio beringsut ke bed kingsize miliknya. Dengan posisi tengkurap ia menutupi kepalanya dengan bantal, sebagai bentuk usaha agar tak mendengar teriakkan apapun dari siapapun. Ia memilih untuk kembali tidur.

**

“... ini tetap saja keterlaluan Zeth, pikirkan lagi hukumanmu untuk Rio, lagipula kamu belum mendengar penjelasan darinya.”

Zeth tak bergeming. Setelah cukup lama diam, ia menoleh, menatap Manda –istrinya-. “ untuk apa? jika saya sudah tau kebenarannya? Lagipula belum tentu dia menjelaskan kebenaran.”

Manda menghela nafas berat, dia nekat memprotes suaminya yang selama ini ia turuti kemauannya. Kekhawatirannya memuncak begitu mendengar kegaduhan dari kamar Rio pagi tadi. Ditambah pintu kamar anaknya itu kini tak bisa dibuka dari luar.

Setelah beberapa menit hanya diam, Manda memandangi Zeth penuh permohonan. “ Untuk mengetahui alasan dia melakukan sesuatu yang bisa kamu ketahui itu Zeth. Alasan yang dari dirinya, yang ada dihatinya? Apa kamu tidak ingin tau? Apa kamu juga bisa tau dengan sendirinya. “

Manda diam sebentar. Memejamkan mata, dan airmatanya luruh. “ jika iya. Beritahu aku. Aku juga ingin tau apa sebenarnya diinginkan anakku. Karena aku tidak tau.. dan aku sangat ingin tau.“

Zeth menatap istrinya dengan bersungguh-sungguh. Ia mengalihkan pandangan, tidak ingin luluh dengan airmata itu. karena keyakInan yang ia lakukan adalah yang sebaiknya. “ Sudah jelas dia hanya bermain-main. sudahlah Manda, keputusan saya sudah bulat. Tidak ada yang bisa merubahnya hingga dia mengakui kesalahannya.”

Zeth lalu pergi. Karena dia tidak yakin keyakInan itu akan bertahan lebih lama lagi. Dia mengaku, dia menghindar.


***


“.. jadi apa yang sebenernya terjadi? Kok bisa lo ke sekolah dianter kak Gabriel? Kemana kak Rio lo? dan kenapa lo keliatan mikir mulu dari tadi? Kenapa?”

“huh..” Shilla mendengus dan menekan kepalanya dibawah lengan. “Gue juga gak tau ag?”

Agni berfikir sejenak.” Kok bisa? Gak tau gimana? ”

Shilla mengangkat kepalanya, meniup frustasi poninya sekali. “kok tiba-tiba gue kangen Cakka ya.” Shilla langsung berdiri. “ Nyamperin Cakka yuk ag.. “ ajaknya.

Agni memicingkan mata. Ia mencekal tangan Shilla. “ Kali ini lo gak bisa kabur. Lo harus cerita. Atau persahabatan kita cukup nyampe disini. Buruan cerita!” Agni menghentakan tangan Shilla, melipat kedua tangannya di depan dada sambil merengut hebat.

Huh. Shilla ikutan merengut. Jika Agni sudah mengancam dengan membawa-bawa  persahabatan seperti ini, Shilla memilih mengalah. Ia duduk lagi di tempatnya.

Shilla menceritakan kejadian yang di mulai siang kemarin ketika dia sedang belajar bersama Rio di cafe depan sekolah, lalu para bodyguard Rio yang tiba-tiba datang dan memaksa Rio untuk pulang, dan setelahnya Rio hilang kabar sampai pagi tadi. Bahkan pemuda itu juga tidak datang menjemputnya seperti biasa, jadi akhirnya dirinya memutuskan untuk berangkat dengan bus, dan ketika dalam perjalanan menuju halte bus, entah darimana datangnya Gabriel datang bak malaikat yang menawarkan diri untuk mengantarnya.

“.. oh gitu ceritanya..” Shilla dan Agni terjingkat. Mereka yakin suara cempreng nan centil yang menyerobot di sela percakapan itu bukan berasal dari salah satu mereka.

“ eh busyet Dea! Nguping ye lo! “

“ ih apaan sih Agni.. su’uzon deh! Gue gak sengaja denger kali.. makanya kalo curhat kalo gak mau di denger orang lain di sono noh di WC berduaan.”

Shilla yang emosinya sedang tidak stabil, berdiri, menggebrak meja. “udah deh de, itumah akal-akalan lo aja. Bilang aja lo nguping buat lo sebar ke seluruh penjuru dunia. Dasar biang gossip lo..”

Dea melengos jahat.” Elah, shill, korban di campakkan aja belagu lo.”

Shilla nampak berfikir sebentar.”Maksud lo?” tanyanya tak mengerti.

Dea tertawa sinis. Melipat tangan di depan dada. “ Pura-pura gak ngerti lagi lo?”

Shilla tidak menyahut. Perdebatan Ini hampir tidak penting. Meski diam-diam dia penasaran dengan apa yang sebenarnya dimaksud Dea.

Dea melengos. “ Gak ngerti juga lo? jadi begini ya tuan putri aShilla, lo kan yang bilang sendiri si maRio lo itu hilang kabar setelah di jemput para bodyguardnya. Well, itu udah jelaslah, itu suruhan keluarganya yang nganggep lo orang kumuh bin miskin gak akan pernah Pantes bersanding dengan pengaran mereka...”

“Eh ati-ati tuh mulut ya kalo bacot!!” Agni sudah menghantam Dea dengan pukulannya, jika Shilla tak menariknya untuk mundur.

“ Gue ngomong kenyataan kaliii.. cocokkan juga gue kali ya, meski gak sekaya Rio, seenggaknya gue gak miskin kayak lo”

Shilla tidak tahan, ia maju selangkah.

PLAK! Dea langsung diam, mengelus pipinya yang di tampar dengan begitu keras. “ Kurang ajar lo..” teriak Dea emosi.

Dea mendorong tubuh Shilla, hingga Shilla terjengkang jatuh.

Shilla tau sekujur punggungnya terasa sakit karena menabrak meja saat Dea mendorongnya. Tapi semua rasa sakit itu belum ada apa-apanya dibanding sakit di hatinya. Karena diam-diam dia memikirkan perkataan Dea, dan sangat sakit membayangkan jika apa yang dikatakan Dea adalah benar. Dia menangis. Dan dia sadar cintanya untuk Rio sudah begitu dalam.

Dan perkelahian itu berlanjut. Antara Dea dan Agni.


***


“... kok bisa sih ag?” Cakka mondar-mandir di depan Agni yang sedang duduk sambil melihat lebam dipipinya melalui cermin kecil yang selalu ia bawa.

“ Ya bisa.” Jawab Agni tak acuh.

“ Lo kapan tobat sih?”

“ Tauk! Gak bisa tobat kali.”

“ Ag!” Cakka merampas cermin yang dipegangi Agni, membuat Agni langsung menlihat kearahnya.” Serius dulu dong. Lo gak bisa gini terus.”

Agni mendesah, menyandarkan tubuhnya di bangku taman sekolahnya. Begitu keluar dari ruang BK, Cakka langsung menyeretnya hingga ke tempat ini. “ Ya terus gue mesti gimana?”

Cakka mendengus. “ Ya gimana kek? di rubah jadi lebih baik gitu?”

Agni berdecak.” Apanya yang dirubah jadi lebih baik? Teknik berkelahinya gue?”

“Ag!” tegur Cakka.

Agni malah tertawa.

Membuat Cakka semakin kesal.“Terserah deh ag! Lo emang gak bisa ya di omongin! Sekarang terserah lo mau jadi preman kek! Mau jadi brandalan kek! TERSERAH!”

Tiba-tiba tubuh Agni menegang. Terserah? “ Yaudah, berarti masalah beres kan?” sahutnya datar.

“IYA beres! Kalo lo gak bawa-bawa Shilla!”

Agni tau, hatinya mulai mendeteksi akan adanya pesakitan.

“ Lo tau sendiri kan ag? Shilla gak pernah bikin masalah nyampe dihukum begini? Dan sekarang lo malah bikin Shilla di skor bareng lo! Kasihan Shilla ag! Gimana kalo dia dimarahin bundanya?”

Air mata Agni sudah siap tumpah, karena sakit dihatinya ini tidak ada tandingannya.

“Iya. gue Cuma bisa bikin onar, bikin sahabatnya di hukum. Gue.. bukan siapa-siapa.”

Ada yang tidak beres. Memang Agni mengatakannya dengan menunduk, Tapi Cakka bisa tau suara Agni bergetar, tubuh mungilnya berguncang. Agni menangis. Kenapa?

“Ag?” panggilnya lebih lembut.

Agni menepis tangan Cakka yang akan menarik tangannya. Dia mendongak, menatap tajam mata Cakka, dengan matanya yang penuh dengan air mata. “ jadi Cukup kka! Lo juga bukan siapa-siapa untuk repot-repot ngurusin hidup gue!”

Agni pergi, meninggalkan sejuta tanya. Membawa bersayat-sayat luka dihatinya.


***


Shilla sudah siap menyegat Agni yang berlari kearahnya, sebelum tau bahwa Agni sedang berlari sambil menangis. Shilla mematung, tiba-tiba kaku untuk berteriak menyebut nama Agni untuk membuatnya berhenti. Ia biarkan Agni melewatinya begitu saja.

Setelahnya, “.. Ag, berhenti ag..” teriak Cakka, terlihat panik mengikuti Agni.

Dan Shilla baru sadar, ada yang sedang tidak beres. Dia memutuskan untuk mengikuti dua orang sahabatnya itu berlari.

Shilla bisa menangkap kejadian demi kejadian, saat Cakka menghampiri Agni yang sudah masuk ke mobil yang menjemputnya. Lalu tak berapa lama, mobil Agni pergi.


*


Cakka mengusap rambutnya, terlihat prustasi. Hampir 10 tahun Cakka berteman dengan Agni. Dan percayalah, ini pertama kalinya dia melihat Agni menangis. Dan itu membuat hatinya tak tenang, ia tidak suka.

“Cakk..”

Cakka mendongak cepat, lalu mematung untuk beberapa saat. “Shil-la...”

Shilla menarik tangan Cakka.” Cerita di basecamp deh. “ ajaknya, Shilla hanya tidak ingin kejadian pagi tadi terulang. Dia hanya sedang belajar dari pengalaman.

*

“.. Lo keterlaluan cakk, lo tau apa? gak harusnya lo bilang gitu ke Agni sebelum tau ceritanya!”

Cakka menghela nafas, dia sudah tau, Shilla pasti akan ikut memarahinya, menyalahkannya. Apa ini memang sepenuhnya salahnya? Lagipula sampai sekarang dia juga tidak tahu kenapa Agni bisa semarah itu... hingga menangis. “ Gue cuma mau Agni jadi lebih baik aja. Gue gak ada maksud lain/ “

Shilla menajamkan matanya, masih tidak terima dengan alasan Cakka. Emosinya langsung meledak begitu Cakka menyelesaikan ceritanya. “ Ya tapi gak gitu cara nya cakk. Lo gak bisa nyalahin Agni. Ini sama sekali bukan salah Agni. Lo kekanak-kanakan tau gak cakk, lagian gue gak pernah kan nyuruh lo buat ngomong gitu ke Agni..”

“ Gue cuma peduli sama lo !”

“Ya iya. Memang lo gak peduli sama Agni? Peduli juga kan? Kita kan sahabatan udah lama, ya memang harus saling peduli.. ”

“ Iya. “ potong cakka. Mungkin sekarang waktunya, pikirnya.”  Gue memang peduli sama lo dan Agni. Tapi Gue cinta sama lo dan gue gak cinta sama Agni.”

Shilla ingin menyahut untuk meminta penjelasan, tapi lidahnya kelu. Hatinya mulai sakit karena terpaksa harus mengerti maksud dari semua ini. Persahabatan antara perempuan dan laki-laki tidak bisa selamanya akan jadi sahabat. Dulu Shilla berkoar-koar yakin akan mematahkan statmen itu, tapi ternyata salah satu pelakon persahabatan ini kalah. Cakka sudah terlanjur mencintainya.

“shil-la.. aku minta ma-af. Tapi aku bener-bener cinta kamu, udah dari dulu.”

Cakka maju beberapa langkah menghampiri Shilla, tangannya terulur bermaksud mengangkat wajah Shilla yang menunduk.

Shilla yang menyadarinya, langsung mundur. Ia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, menatap langsung mata Cakka yang Shilla akui memiliki keteduhan yang menenangkan-tapi tidak untuk kali ini-. Entah kenapa, emosinya kembali meledak, perasaannya kali ini mungkin sama sakitnya dengan dikhianati sahabat sendiri.

Shilla mengangkat sebelah tangan dan melayangkan tamparan keras pada pipi kanan Cakka. “gue kecewa sama lo..”

Shilla langsung pergi dengan berlari. Ia tidak pernah menyangka semua ini benar-benar terjadi. Setelah kehilangan Rio, ia kehilangan Cakka. Ia tidak pernah mengharapkan semua ini, memimpikannya saja tidak.



 To Be Continued....