Minggu, 10 Agustus 2014

Kamu Untuk Aku : Part 28



Mobil Cakka melaju pelan, lalu berhenti didepan gang kecil yang tidak bisa dilalui mobil. Ia matikan mesin mobilnya, yang Hal itu membuat gadis berambut panjang disampingnya mengangkat kepala, gadis itu Nampak menghapus airmata yang membasahi pipinya dengan cekatan .Cakka sangat yakin gadis itu menangis selama terus-menerus menunduk dalam perjalanan.

Gadis itu menoleh. Menatapnya sendu. “ Makasih yaa.” Katanya serak dan bergetar.

“Shill..” Ujar Cakka Khawatir. Namun dengan cepat Shilla meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, membuatnya harus mengurungkan niat untuk mengkhawatirkan gadis itu.

Lalu tanpa disangka gadis itu tersenyum lebar sampai membuat mata bulatnya terpejam. “Gak papa.” Katanya dengan suara yang lebih baik. “ Makasih ya sekali lagi. “ Lanjutnya lalu segera melompat turun dari mobil milik Cakka. Melambaikan tangan sekali lalu menutup pintu mobil itu.

Cakka masih diam, Ketika gadis itu dengan langkah pelan telah melangkah pergi menjauh darinya. Cakka tau gadis itu sedang tidak baik-baik saja, bahkan Cakka tau saat ini gadis itu tengah berjalan sambil menangis.

Cakka memalingkan wajah, tak kuasa melihat tubuh gadis itu mulai bergetar. Cakka memukul stir mobil emosi, wajahnya sudah merah padam. Ia marah, melihat sahabat yang paling Ia cintai diperlakukan seperti ini. Bukannya Ia pernah mengingatkan bahwa Ia akan murka jika lelaki itu menyakiti Shillanya.

Cakka mengambil ponsel dari saku seragam sekolahnya, menekan beberapa tombol lalu mendekatan ponsel itu ditelinga.

“Hallo bang. Cakka mau minta tolong. Ada yang perlu diberi pelajaran. Di gang deket lapangan. Cakka yakin sasaran pasti lewat sini. Iya. Segera ya bang. Bawa masa yang banyak bang kalo perlu. Jika perlu kita bikin sampai mati.”

***


Rio hampir frustasi memikirkan kenapa kesalahpahaman seperti ini bisa terjadi, Membuatnya sama sekali tidak berkonsentrasi saat mengendarai mobil.  Kenapa Shilla melihatnya bertindak seperti halnya pemuda brengsek.

Dari berbagai masalah yang sudah menimpanya, tidakkah semua ini cukup. Mengapa dunia begitu tidak adil untuk hidupnya.

Rio Menginjak pedal gas semakin dalam, melajukan mobil yang Ia pinjam dari Alvin secepat yang Ia bisa, membelah jalanan Jakarta yang sedikit lenggang seperti memihaknya. Ia harus segera menemui gadis itu, secepatnya. Hanya gadis itu tujuan hidupnya, jika Ia tak lagi bisa disisi gadis itu. Percayalah, Rio akan memilih mati sebagai jalan terakhirnya.

Rio menautkan alis, menyipitkan mata melihat setidaknya ada 6 pemuda yang dengan menantang berdiri di jalan yang akan Ia lewati. Ia mendengus kesal, apapun yang sedang terjadi saat ini, Ia tak sedang ingin bermain-main. Apa yang sebenarnya diinginkan mereka? Uang?

Rio menghentikan laju mobilnya. Menatap satu persatu gerombolan pemuda itu dengan penuh Tanya. Rio menautkan alis, merasa mengenali salah satu pemuda dari 6 pemuda itu.

“ TURUN!” kata salah satu dari mereka sambil menunjuk kearahnya.

Rio mendengus lagi, merasa ini benar-benar membuang waktunya. Ia turun, bermaksud memberi uang kepada mereka yang mungkin menjadi alasan mereka menghentikan perjalanannya.

Baru Rio membuka mulutnya untuk sekedar bertanya ‘ada apa’, salah satu pemuda dengan kemeja kebesaran menghampirinya dan menghantam rahangnya dengan keras. Membuatnya langsung terjungkal karena tidak siap.

Dengan perlahan Rio yang masih linglung berdiri, belum sampai tubuhnya berdiri tegak seseorang dengan cepat kembali menyerangnya dengan menendang perutnya keras. Ia kembali terjungkal hingga punggungnya membentur kap mobil milik Alvin.

Tidak sampai disitu, ada yang dengan berkali-kali menendang dan meninju perutnya. Ia hanya pasrah, benar-benar tidak bisa mengelak. Ia tidak terlalu suka berkelahi, bahkan dia tidak bisa berkelahi. Ia biarkan tubuhnya terasa semakin nyeri dengan serangan yang tidak ada habisnya, membuat dadanya sesak dan sangat menyakitkan.

Entah sudah serangan keberapa, yang Rio rasakan kali ini wajahnya yang menjadi sasaran. Seseorang sedang memukulnya dengan membabi buta. Rio tidak tau siapa yang melakukannya, bahkan Ia tidak ingin pusing memikirkannya karena Ia tengah sibuk memikirkan Ia akan mati sebelum meluruskan masalahnya.

Tubuh Rio terhempas menghantam aspal, setelah pegangan dikedua tengannya dilepaskan. Setelahnya dia merasa sekelilingnya hampir seperi tidak nyata. Orang berlari, orang-orang berteriak..

“ Kamu pantas mati.”

“ Ada orang. Ayo Kabur!”

“APA YANG KALIAN LAKUKAN!’

“ Ini karena.. sudah menyakiti Shilla.”

“Buruan Kka. Ayo lari.”

“ Kejar mereka! Kejar!”

“ Yo. Yo. Bangun yo.”

Rio tak ingat apa-apa lagi.

***

Manda  berdiri  di  depan  ruangan  perawatan  Rio  dengan cemas,  tangannya  menggenggam  tangan  suaminya setengah  menangis. Matanya  semakin  berkaca-kaca  ketika  mendengar  suara  teriakan  dari  dalam. Teriakan Rio.

“ Zeth..” hati Manda terasa di iris-iris, menyadari bahwa putra tunggalnya semakin menderita saat dia mencoba selalu berada disisinya.

“ Tenanglah manda. Anak kita kuat. “ ujar Zeth meyakinkan, merengkuh bahu istrinya itu semakin kuat. Meski dalam hati, Ia merasakan hal yang sama dengan manda. Ia khawatir, Ia kalut, ini untuk pertama kalinya. Selama ini pemuda itu tidak pernah melewati garis tembus pandang yang tanpa sadar Ia ciptakan, membuat putra tunggalnya itu selalu dalam batas aman, terlindungi. Dan Ia sadar, kini semuanya telah berubah, Rio telah melewati garis itu, dan Rio melewatinya terlalu jauh.

Alvin yang juga tengah menunggu dengan cemas di lorong rumah sakit depan ruang perawatan Rio, meringis nyeri mendengar ucapan ayah dari sahabatnya, Ia ingin menyangkal, karena Rio tak sekuat yang Pria dewasa itu pikir. Meski tidak pernah mengatakannya, Alvin selalu tau saat pemuda itu tengah kesepian, dan terkadang nampak terlihat sangat kecewa-entah karena apa. Rio benar-benar tidak pernah membagi keresahannya, ini hanya tebakan seorang sahabat 10 tahun.

Suara  teriakan  itu  terdengar  lagi,  begitu  serak  hingga  Alvin  hampir  tak mengenalinya. Tubuhnya menegang, merasa tidak becus menyandang sebagai sahabat Rio.

“ Berapa lama lagi ini Zeth?” Tanya manda lagi, menunggu di luar seperti ini terasa bagaikan siksaan yang paling mengerikan.

Zeth diam saja, memperkuat rengkuhannya pada bahu manda. Ia pun sama sakitnya seperti Manda.

Penantian  itu  terasa  begitu  lama,  lama  sekali  sampai  tim  dokter  dan  perawat keluar dan mengizinkan salah satu untuk masuk.

Dengan  hati-hati,  Manda  melangkah  masuk  ke  ruangan  perawatan  Rio. Hatinya semakin sakit, melihat Rio yang penuh luka, perban di pasang di beberapa bagian, dan banyak lebam yang mungkin ada disekujur tubuhnya sangking banyaknya.

“ Mario..” Panggilnya lirih. Airmatanya sudah siap untuk kembali menetes.

Membuat Rio yang tengah dengan pandangan kosong melihat jendela, menoleh cepat. Menatap Manda dengan begitu dingin.

Manda menghela nafas, mengulurkan tangannya bermaksud meraih tangan putra tunggalnya untuk Ia genggam. Namun dengan cepat Rio menepis tangan manda.

Manda terlonjak kaget dengan gerakan Rio yang cepat. Ia menatap Rio sendu, Rio membalasnya dengan tajam. “Jangan Sentuh saya..” desis Rio dingin.

Manda tersentak sebentar, karena detik selanjutnya Ia kembali mengulurkan tangannya untuk mencoba meraih tangan Rio. “Rio..” Panggilnya lagi.

Rio mengelak dengan menggeser sedikit tubuhnya, melupakan nyeri yang menyerang hampir di sekujur tubuhnya saat dia bergerak. “ JANGAN SENTUH SAYA!!” Ia marah, marah dengan dengan perempuan paruh baya yang saat ini tengah menangis didepannya, marah dengan suaminya perempuan ini. Ia marah, Marah dengan keadaan. Jika akan seperti ini, Ia lebih memilih orangtuanya yang nyatanya tidak peduli padanya tidak pulang untuk selamanya.

“ Ma.af.in. mama..” kata Manda di tengah Isakannya.

Rio melengos. Apa dia bilang? Maaf? Andai wanita ini melakukannya sejak 3 tahun yang lalu, ketika wanita ini mulai memutuskan untuk meninggalkannya sendiri, membuatnya kesepian, membuatnya harus terus-menerus merasakan sakit hati dan hanya bisa dipendam. mungkin Ia akan memaafkan dengan mudah. Tapi kini, setelah 3 tahun yang mengerikan, akan beda ceritanya. Hatinya sudah terlanjur sakit, hatinya sudah berlubang karena terlalu banyak menerima pesakitan.

“ Pergi.. “ kata Rio datar, tanpa melihat ke lawan bicaranya.

Hati manda semakin sakit, Ia bersumpah telah menyesali keegoisannya. Tidakkah Ia mendapat ampun.

“ PERGI !” Rio tak bisa lagi mengontrol emosinya, Ia ingin semua tau, betapa dalam sakit yang Ia rasakan.

BRAAK. Zeth masuk setelah mendorong pintu ruangan itu kuat hingga membentur dinding. “TARIK UCAPANMU MARIO!” teriaknya murka, Ia mendengar semuanya. Apa-apaan anak ini, berani-beraninya mengusir ibunya pergi. Pikirnya marah.

Rio diam sesaat, membalas tatapan murka ayahnya dengan tatapan sengit. “ Lebih baik aku mati.” Balasnya dingin.

“KAMU!..

“ JANGAN Zeth!” Manda memeluk tubuh tinggi suaminya, menahan lelaki itu yang sudah mengangkat tangan besarnya. “ Jangan.” Katanya lebih pelan, lalu mengeratkan pelukannya.

Zeth menghela nafas, melunakkan tatapannya pada Rio yang masih menatapnya sengit. “ Beristirahatlah.” Ujar Zeth dengan nada lebih rendah. Ia lepaskan pelukan Manda lalu mengangkat wajah istrinya itu dengan lembut.

Ketika Manda sudah menatapnya dengan mata basah. Ia memberi senyum kaku. “ Kamu juga perlu istirahat. Ayo pulang “

Manda mengangguk dalam diam. Membalikkan badan, membuka mulut untuk sekedar mengatakan pamit untuk pulang namun dengan kecewa Ia harus mengurungkan menyuarakan suaranya, karena Rio telah memutar kepalanya kembali menatap jendela disampingnya.

“Ayo..” ajak Zeth lagi, menarik Manda pelan dan manda hanya bisa menurutinya dalam diam. Meninggalkan ruangan dingin itu tanpa berkata apa-apa lagi.


***


Alvin menghela nafas, baru saja kedua orang tua sahabatnya berpamitan untuk pulang dan menitipkan Rio padanya.

Saat ini dia tengah berdiri mematung didepan pintu ruang rawat Rio, tangan kirinya menenteng kotak biru yang Ia temukan diatap gedung. Dan ketika melihat isinya, Ia langsung tau hadiah ini untuk siapa.

Alvin hanya diam didepan pintu cukup lama, sampai tangan kanannya meraih kenop pintu untuk membukanya, lalu dengan langkah pelan memasukinya.

Alvin duduk  di  sebelah  ranjang,  dan  Rio  langsung  menyadari  kehadirannya.

“ Hai.” Alvin diam sebentar, memberi jeda.“ Bad boy. ” Lanjutnya bergurau.

Rio memberi senyum miring untuk membalas sapaan Alvin.

“Apa berkelahi menyenangkan kayak yang lo pikirin?” Tanya Alvin kembali bergurau. Ia ingat kata-kata Rio ketika mereka masih duduk di kelas 1 SMP. Katanya “Berkelahi kayaknya nyenengin ya, jadi tambah keren juga.”

Rio tersenyum lagi, lebih lebar. Ia menggeleng pelan. “Rasanya gak sekeren yang gue pikir, Ini yang terakhir.. gue rasa.”

Alvin terkekeh, tidak lama. Karena detik selanjutnya, perasaan bersalah kembali menggelayuti hatinya. “Maaf.” Kata Alvin akhirnya.

Rio mengerutkan dahi, menatap Alvin dengan ekspresi bertanya.

“ Gue udah tau lama soal perasaan Ify ke lo. “ kata Alvin, berhasil membuat Rio tercengang. “ Maaf karena gak pernah ngasih tau lo. Gue takut kalo lo tau… Lo bakal berubah sikap ke dia dan bikin dia patah hati.”

Rio masih tidak menyahut, masih memperhatikan Alvin yang terlihat akan melanjutkan ucapannya.

“Tapi sekarang gue sadar. Gue salah. Karena dengan sikap lo yang selalu care ke dia padahal lo gak ada maksud apa-apa, bikin dia ngambil kesimpulan beda dari niat awal lo yang bertindak seperti halnya sahabat pada umumnya. Dia nyiptain harapannya sendiri.”

“… dan saat lo nemuin Shilla sebagai cinta sejati lo, mungkin itu bikin dia sadar harapan yang Ia pikir akan terwujud ternyata hanya sebuah harapan….”

Alvin diam sebentar. Merasakan tiba-tiba sakit menyerang hatinya begitu dalam. “…. Mungkin Karena itu dia nganggep kamu selalu bikin dia hancur…. Padahal, dia hancur kerena harapannya sendiri.”

Alvin menghela nafas panjang, menandakan Ia telah selesai bicara.

Hening sesaat, sampai Rio mendesah dan menyuarakan suaranya. “ Lo gak perlu minta maaf Vin. Ini bukan salah lo. Ini salah gue, harusnya gue sadar dengan Sikap Ify yang semenjak kehadiran Shilla lebih agresif ke gue. Tapi.. gue diem aja, gue masih berpura-pura kalo itu bukan apa-apa.”

Rio diam sebentar, kembali mendesah. “ Yang Lebih tepatnya gue tau dan pengen bertindak, tapi gak tau mesti bertindak gimana? Posisi gue bener-bener bikin gue frustasi. Posisi gue sulit. Bukan bukan.. Posisi kita sulit.”

Rio diam untuk menyempatkan diri melirik Alvin yang ternyata tengah mendengarkannya bersungguh-sungguh, terlihat dari keningnya yang berkerut. “ Di sisi lain gue Cinta Shilla…”

“Cinta mati.. “ Alvin mengklarifikasi dengan memotong ucapan Rio.

Rio tersenyum kecil, lalu mengangguk. “ Ya. Gue cinta mati sama Shilla. Tapi gue juga gak bisa nunjukkin penolakkan gue ke Ify, yang padahal bisa aja gue lakuin. Karena gue tau, sahabat kita itu menghadapi kehidupan yang cukup sulit. Gue gak tega ninggalin dia sendirian, tapi di sisi lain gue gak pengen numbuhin rasa cintanya ke gue. Karena gue tau ada lo yang cinta dia.” Rio berhenti, untuk berdehem.

“ Cinta diam-diam lo. Yang buat gue mau gak mau harus tetep care sama dia. Tetap ada buat ngelindungi dia. menerima resikonya kayak sekarang. Dia jatuh cinta, tanpa gue bisa membalasnya.”

Alvin mengangguk, menyetujui Rio. “ Gue masih gak ngerti, sekarang gue mesti bersikap gimana? Gue pengen peduli sama dia, tapi gue tau gue udah terlambat. Tapi kalo gue diem aja, gue juga tau, gue harus berlapang dada menerima cinta gue gak akan terbalas.” Kata Alvin menanggapi.

Lagi-lagi Rio mendesah. “ Kenapa ya? Kita yang baru 18 tahun cobaannya udah berat banget. Tau gini, gue milih dihajar sampai mati.”

“ Jaga ucapan Mario.” Tegur Alvin marah. “ Kalo itu bener-bener terjadi, bisa aja lo nyesel udah ngomong gitu. “ lanjutnya.

Rio tidak menyahut, hanya mengembangkan senyum miring.

“ Bersyukurlah karena masih hidup. Karena setidaknya Tuhan masih ngasih lo kesempatan buat ngelurusin yang ini. “ Alvin melempar pelan kotak biru yang sedari tadi Ia pegangi di tempat tidur samping Rio. “ Ada surat didalamnya, dan gue... gak baca surat itu.”

Rio mengerutkan dahi, sebenarnya dia masih belum bisa menduga apa makna dari kehadiran kotak biru ini.

“ Gue kasih kesempatan buat lo baca surat itu dengan tenang.” Kata Alvin lagi, karena Rio tidak kunjung menyahut. “ Gue keluar.” Pamitnya. Lalu segera pergi meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Rio yang tengah menimang-nimang kotak biru berukuran sedang itu.

Ketika tubuh jangkung Alvin hilang dibalik pintu, dengan hati-hati Rio membuka kotak itu. Menautkan Alis melihat isinya, setidaknya ada 4 kue sussen yang sedikit hancur dibeberapa bagian.

Kue sussen adalah favoritnya. Setiap kali melihat kue itu didepan matanya, rasanya Ia ingin melahap habis semua kue yang disajikan. Namun kali ini berbeda, dia lebih tertarik membuka surat merah muda yang diselipkan dikotak itu daripada mencomot salah satu kue sussen yang terlihat menggoda itu.

“Hi Pacarku. “ Rio menyuarakan kalimat pertama surat itu. Pacarku? Pacar? Mata Rio dengan cepat mencari siapa penulisnya. “Shil.la” desisnya terbata. Astaga. Pantas Rio merasa tidak asing dengan kotak biru ini, Ia sempat melihat kotak ini dijatuhkan Shilla ketika gadis itu berbalik pergi untuk meninggalkannya.

Tubuh Rio bergetar, hatinya yang sakit mendesak airmatanya untuk berproduksi. Apakabar gadis itu? Apa gadis itu tau keadaannya saat ini? Jika tau? Apa gadis itu mengkhawatirkannya? Atau malah tidak peduli? Jika memang tidak tahu? Apa gadis itu mencoba mencari tau keadaannya?




Hi Pacarku J Rasanya masih sulit untuk dipercaya bukan? Apalagi kebersamaan kita belum terasa sampai kamu menghilang. Tapi tetap saja aku pacarmu kan? Dan kamu pacarku?

Kamu dimana Mario? Apa kabar? Aku merindukanmu, Dan kamu harus tau, rasanya sangat tidak menyenangkan, karena aku tidak bisa mengatakannya, karena kita tak bisa bertemu untuk sekedar mengobatinya.

Aku Rindu. Sungguh. Aku Rindu senyummu yang menyambutku didepan rumah. Aku rindu kata-katamu yang menyebalkan, aku rindu keributan dimobilmu saat berangkat sekolah, aku rindu dipeluk dengan begitu erat, aku rindu pesan singkatmu yang hadir diponselku setiap saat, bahkan… aku rindu kamu beri perintah. Lihat! Aku juga merindukan hal yang paling tidak aku sukai. Tidakkah itu membuktikan aku bersungguh-sungguh?

Rio, entah apa yang kamu rasakan? Apa yang sedang kamu lakukan? Aku hanya ingin bertanya. Apa kamu juga merindukanku seperti aku yang hampir mati merindukanmu?

Jika aku pernah berkata. Aku tak ingin bertemu kamu lagi. Aku menyesal telah mengatakannya. Aku tidak sadar, aku orang teraniaya, Yang katanya doanya selalu terkabulkan. Tapi aku bersumpah, aku tidak berharap bahwa bagian ini yang akan dikabulkan.

Mario aku mecintaimu. Apapun yang akan terjadi, aku mencintaimu.

Jangan kembali, jika kamu memang tidak bisa. Karena aku juga tidak akan melangkah maju untuk mensejajari langkahmu.

Teruslah berjalan… sendiri. Tidak apa-apa kan? Ya! Tidak apa-apa Mario. Karena kamu tidak benar-benar sendiri, kita melangkah bersama. Hanya saja aku cukup dibelakangmu.

Carilah kebahagiaan dirimu sendiri, Rio. Tak perlu mengkhawatirkanku, karena aku berjanji, aku juga akan mencarinya. Kebahagiaanku sendiri.

Terimakasih Mario. Atas Cintamu yang suci. Maaf jika aku menodainya. Mulai sekarang, aku bukan lagi .. pacarmu.

Yang mencintaimu, Ashilla.

Air mata Rio menetes, hatinya sakit. Apa maksudnya? Mengapa?

“ Shilla.” Desisnya serak. “Apa maksudnya? Apa?” meski Ia bertanya berkali-kalipun tak akan ada yang menjawabnya. Keadaan Membiarkannya dalam kesunyian yang menambah perih luka dihatinya.

Ia menangis, untuk kesian kalinya… karena cintanya.


***


Tubuh Alvin menegang, mengintip Rio yang nampak sangat terluka ketika membaca surat di dalam kotak biru itu, entah mengapa membuat Ia merasakan luka yang sama. Ia tidak bersungguh-sungguh berkata bahwa dia tidak membaca surat didalam kotak itu, Ia membacanya dan Ia menyesal tidak berinisiatif membuang surat itu.

Alvin usap airmata yang mulai menetes satu persatu, melihat kearah Rio lagi yang kini tengah meracaukan sesuatu yang tak Ia dengar. Ia tau pemuda itu tengah kehilangan arahnya.

Dengan perlahan Alvin menutup pintu ruangan itu, yang sengaja tidak Ia tutup secara sempurna untuk bisa mengintip dan bisa tau bagaimana reaksi Rio setelah membacanya. Setelah tau Rio bereaksi sehancur itu, Dia tau, dia tidak bisa tinggal diam.

To be continued….

Jumat, 04 Juli 2014

Kamu Untuk Aku : Part 27



Shilla mengambil nafas berat. Duduk perlahan di kursi meja makan dengan tidak melepas pandangannya pada sebuah kotak diatas meja. Sebuah hadiah.

Semalaman dia menyiapkan hadiah itu. Tangan Shilla terulur, mengambil kotak berwarna biru itu lalu membukanya, Ia mengembangkan senyum tipis sebagai rasa bangga karena telah berhasil membuat kue sussen dengan kedua tangannya sendiri.

Ini hadiah untuk seseorang, yang Shilla baru ketahui sebagai kue favorit seseorang itu, untuk hadiah kelulusannya, untuk..

“ Shilla..”

Shilla menoleh, mendapati ibunya tengah menghampirinya dengan sebuah senyum teduh seperti biasa. “ Ada Cakka tuh..” kata Ina.

Kening Shilla berkerut, meski begitu dia bangkit dari duduknya dan segera menuju ruang depan rumahnya.

Shilla diam saja, sampai akhirnya pemuda itu menyadari kehadirannya dan langsung berdiri. “ Shill..” sapa Cakka canggung.

Shilla masih diam, ketika dirinya mendudukkan disalah satu sofa ruang tamunya. “ Ada apa?” tanyanya tidak basa-basi.

Cakka nampak menunduk, lalu mendesah keras. “ Gue mau minta maaf shill sama lo..” katanya sedikit bergetar.

Shilla tidak menyahut, sebenarnya shilla tidak benar-benar ingin memusuhi Cakka selama berminggu-minggu seperti ini. Soal Pengakuan Cinta pemuda itu, Shilla pun sudah tidak mempermasalahkannya. Kerana Cinta tidak tau kapan dan dengan siapa akan hadir, Cinta dating begitu saja bukan?. Tapi Ia menghargai Agni, dan semisal Cakka belum berbaikan dengan Agni harusnya dia tidak berbaikan juga.

Karena Shilla tidak menyahut, Cakka sedikit panik. “ Ee.. gue sadar gue salah. Gue tau harusnya Cinta ini gak pernah ada. Maaf, Please maafin gue..”

Shilla masih diam, Ia ingin menjawab. Tapi...

“ Gue bener-bener sadar dan pengen minta maaf, untuk bukti kalo gue udah sadar, Gue bakal bantu lo dapatin cinta lo yang semestinya, kata agni lo mau kesekolah pacar lo, kalo lo gak keberatan gue bisa nganter lo, sekalian gue mau ngingetin pacar lo Shilla punya sahabat yang siap murka kalo dia nyakitin lo..” kata Cakka lagi, tersenyum canggung pada ujung kalimat.

Air mata Shilla mengalir, begitu saja. Dia sudah terlanjur sakit. Shilla usap cepat airmatanya, sebelum Cakka menyadarinya.

“ Lo udah baikan juga sama agni?” Tanya Shilla.

Cakka mengangguk berkali-kali. Ia serius soal itu, pagi-pagi sekali dia sudah berada di teras rumah agni untuk meminta maaf.

“Makasih buat tumpangannya.” Kata Shilla, lalu mengembangkan senyum tipis yang tulus.

Cakka membalas senyum itu. “ Makasih ya Shill.” Ujarnya, mengerti kalimat itu sebagai penerimaan maaf darinya.

***

Rio mengembangkan senyum puas, ketika mobil Alvin yang Ia tumpangi berhenti dipelataran parkir sekolahnya. Ia menoleh ke arah kanan.“ Akhirnya Usaha kita gak sia-sia. Padahal gue udah pesimis pas bokap gue gak ngasih izin kemarin, syukur deh pagi tadi berubah pikiran, mungkin karena surat dari sekolah yang lo kasih. ” Ujar Rio terlihat senang dan lebih cerewet dari Rio biasanya.

Alvin tersenyum kaku, tiba-tiba saja Ia teringat Shilla yang Ia temui kemarin Sore. Entah mengapa, Ia yakin ada yang tidak beres. Dan dia benar-benar tidak bisa menduga-duga apa yang sedang terjadi.

“ Lo beneran udah ngehubungi shilla kan Vin?..”

Alvin tersentak. “ Ha?”

Rio memutar bola matanya. “ Si Shilla beneran bisa dateng kesini kan?” tanyanya lagi.

DOK! DOK! DOK!.

Alvin lagi-lagi harus tersentak kaget, menoleh ke kanannya dan mendapati Goldi tengah dengan panik menggedor jendela mobilnya. Ia menurunkan kaca mobilnya dengan kening berkerut.

“ VIN..” teriak Goldi Heboh. “ Eh YO, Kebetulan ada lo juga. “ katanya ketika mendapati Rio juga berada dalam mobil Alvin. Ia mengambil nafas dalam. “ Itu temen kalian mau bunuh diri.” Katanya masih dengan heboh.

Alvin dan Rio menautkan Alis. “ Temen? Siapa Ya?” Celetuk Rio.

Goldi menepuk dahi.

“ IFY!” teriak Rio dan Alvin serentak, Bahkan Sebelum Goldi menjawabnya.

Rio dan Alvin keluar dari mobil dengan cepat. “dimana?” tanya Rio panik.

“ Di Sana!” Jawab Goldi sambil menunjukkan arah dengan jarinya, detik selanjutnya dia berlari dengan diikuti Alvin dan Rio dibelakangnya menuju lokasi yang Ia maksud.

*

Alvin, Rio, dan Goldi berlari secepat mungkin, tidak sampai 1 menit mereka sudah berada pada gerombolan orang yang tengah mendongakkan kepalanya.

Rio ikut mendongak. Melihat gadis dengan swater biru berada di pinggiran atas gedung yang Ia yakini Ify, Ia mengusap rambutnya dengan kedua tangan Frustasi.

“ Nak Ify tolong untuk tidak bertindak gegabah, semua masalah pasti ada jalan keluarnya.” Suara kepala sekolah terdengar jelas dengan menggunakan toa. Membuat Rio semakin panik.

“ Dia ada masalah apa sih Vin?” tanya Rio, lalu berlari tanpa menunggu Alvin yang ditanyai menjawab. berlari secepat mungkin untuk mencapai atap gedung sesegera mungkin.

Awalnya Alvin masih linglung, masih sibuk menerka-nerka masalah apa yang membebani Ify  hingga memilih bunuh diri adalah jalan keluar terakhir. Tapi ketika Rio bertanya sesuatu yang tak Alvin dengar dan pemuda itu langsung berlari begitu saja, Ia sadar dari kelingungannya dan ikut berlari dibelakangnya.

***

Cakka mematikan mesin mobil, menatap bingung orang-orang yang bersliweran diarea sekolah tersebut dengan ekpresi panik. Kok ada polisi sama wartawan ya? Apa untuk pengamanan Kelulusan? “ Kok rame banget ya Shill, sekolah kita kayaknya gak gini-gini banget deh kalo kelulusan.”

Shilla tidak menyahut, Ia juga merasa bingung dengan apa yang dilihatnya. Ia membenahi rok abu-abunya, lalu turun dari mobil Cakka masih dengan keheranan.

Dengan nekad, dia menarik tangan salah satu siswa yang berjalan terburu-buru yang tidak sengaja lewat didepannya.

“ Ee.. Sorry kak. mau tanya, ini ada apa ya kok kayaknya pada panik gitu?” tanya Shilla santun.

Pemuda didepannya itu mengangkat kedua bahunya. “ Gue juga baru dateng sih, tapi katanya si Ify mau bunuh diri.” Jawab pemuda itu buru-buru, lalu segera pergi .

Ify? If.. Astaga, Shilla menutup mulutnya yang ternganga dengan satu tangannya. Kak Ify? Shilla berlari secepat mungkin, berharap tidak tertinggal pemuda yang Ia tanyai tadi yang mungkin tau lokasinya.

Cakka yang tidak tau apa-apa, hanya mengikuti Shilla.

Shilla menoleh ke kanan kirinya, Ia sudah berada pada gerombolan yang sebagian besar mendongakkan kepala, dengan perlahan Ia mengangkat kepala, mengikuti arah pandang gerombolan itu. “ Kak Ify?” desisnya. Dan Ia berlari lagi.


***


Ify menutup mata, menikmati hembusan angin yang membelai pipinya dan memeluk tubuhnya. Ify tersenyum pahit. Betapa hangatnya pelukan angin ini saat rasa dingin seakan telah menjadi sahabat bagi hatinya.

Kaki Ify sedikit gemetar ketika semakin mendekati tepi atap gedung sekolah berlantai lima itu. Pandangannya tiba-tiba sedikit kabur. Tiba-tiba saja rasa sesak menyeruak kembali di dadanya, berkejaran dengan isakan yang terus Ia tahan sambil terus melangkah. Dan tiba-tiba saja, dia hanya berjarak dua langkah dari tepian atap.

“ Nak Ify tolong untuk tidak bertindak gegabah, semua masalah pasti ada jalan keluarnya.” Ify bisa mendengar suara galak yang khas itu, milik kepala sekolahnya.

Ify mematung. Pandangannya jatuh jauh ke bawah sana. Deretan kendaraan yang terparkir di halaman sekolahnya. Titik-titik manusia yang menggerombol untuk menyaksikannya diatas sini. Ah, mereka masih lebih beruntung, mereka masih memiliki…apapun yang mereka miliki saat ini. Sementara dia? Apa yang masih tersisa untuk Ia genggam, untuk sekedar Ia jadikan miliknya?

Ify gerakkan kakinya, tak sampai satu langkah. Tiba-tiba saja kedua kakinya terasa begitu berat, seakan tak setuju dengan apa yang kini tengah berputar di benaknya. Ia tak lagi menatap kebawah.

“ ALYSSA.. “

Tubuh Ify menegang. Bersamaan dengan itu air matanya menetes satu persatu. Ia mengenali suara itu tanpa harus melihat pemiliknya.

“ Kenapa?” Suara itu kembali terdengar.

Ify diam saja, masih menangis dalam diamnya.

“ Kenapa ssa?” Tanya suara itu lagi, terdengar semakin dekat darinya.

Ify yakin dengan pelan-pelan pemuda pemilik suara itu tengah mendekat kearahnya. Dengan cepat Ia membalikkan badan. “ STOP MARIO!”

Rio nampak, terjingkat kaget. Dan benar saja pemuda itu sudah berjarak tidak sampai 1 meter darinya.

Ify menatap mata itu tajam dengan matanya yang basah. “ Stop. “ desihnya lagi lebih pelan. “ Atau aku bakal lompat sekarang juga.” lanjutnya mengancam.

“ No.. please.. kamu gak boleh ngelakuin itu, Jangan pernah melompat ssa. Aku mohon.. atau kamu mau bikin aku hancur..” kata Rio lembut.

Diam sesaat. Sampai Ify memalingkan wajah.” Aku akan mati dalam kebahagiaan , jika ini memang buat kamu hancur.” Katanya, kembali menatap Rio dengan tajam. Pemuda itu juga tengah menatapnya, namun dengan kebingungan.” Karena aku ingin sekali membuatmu hancur seperti halnya kamu yang berkali-kali membuatku hancur.”

Rio masih menautkan alis bingung.

“ Perceraian orang tuaku sudah membuat ku hancur mario. Tidakkah kamu tersentuh untuk berhenti menyakitiku.” Tangis Ify pecah, bersamaan dengan itu otaknya memutar kejadian kemarin sore ketika dia berkunjung ke Istana Haling, mendengar percakapan antara ayah dan anak dari awal hingga akhir. Percakapan antar Zeth-Mario. Percakapan yang membuatnya menangis semalaman, membuatnya menyerah pada kehidupan. Karena tujuan hidupnya tak memiliki tujuan hidup yang sejalan dengannya, tujuan hidupnya memiliki tujuan hidup lain.

Rio menegang, bukan karena gadis didepannya mengaku Ia selalu menyakiti gadis itu. Untuk yang itu Rio masih tidak mengerti. Tapi itu karena perceraian orang tua ify. Ia baru tau. Bukannya Hampir dua minggu ini dia dikurung dan tidak bisa menjamah dunia luar melalui media apapun itu?  Ia melirik Alvin sekilas, melihat Alvin mengangkat kedua bahunya, Ia yakin Alvin juga tidak tahu tentang hal itu. Apakah benar seberat itu cobaan gadis yang terlihat semakin kurus didepannya ini? dan Ia sama sekali tidak tahu?

“ Fy.. “ Ucap Rio, tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia langkahkan kakinya.

“STOP!” teriak Ify, bahkan Rio belum melangkah sampai satu langkah. “ Aku mending mati dari pada di sentuh kamu.”

Rio tersentak kaget mendengar kata-kata ify. sebenarnya dimana letak kesalahannya? Apa benar Ia sejahat yang Ify katakan?

“Karena aku gak butuh sentuhan yang semakin buat aku sakit, sakit yang hanya dengan mati aku tidak lagi merasakannya.”

“ Fy.. aku... gak.. “ Rio bingung akan berkata apa, Ia terdiam beberapa detik, lalu Mendesah. “ Maafin kalo aku selalu nyakitin kamu fy, jadi please, tetap hidup buat ngasih aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Kesalahan apapun itu..”

“ Kamu gak membalas cintaku. Itu salah kamu mario..”

Jawab Ify telak. Dan dari berjuta-juta dugaan, Rio tidak pernah menduga kalimat itu yang akan keluar dari mulut Ify. Kalimat yang juga menjadi alasan gadis itu menyerah pada keadaan dan berniat bunuh diri? Rio menatap gadis kurus di depannya dengan sungguh-sungguh, Ia bisa melihat tubuh itu berguncang karena menangis.

Rio menghela nafas panjang, Ia tau secara tidak langung Ia sedang diberi pilihan, pilihan yang membuatnya harus memilih antara gadis yang  jelas-jelas sedang Ia perjuangkan atau gadis yang 10 tahun ini selalu ada disisinya, mengisi kesepian yang menyerangnya hampir seumur hidupnya.

“ Kenapa kamu gak jujur dari dulu.” Kata Rio, membuat Ify segera mendongak dan menatapnya dengan mulut terbuka.

“ Maksud kamu?”

“ Awalnya, kupikir itu terlalu tidak mungkin.”

Ify diam, menatap Rio dengan curiga. Orang seoptimis Rio merasa ragu? “ Kamu ingin menghancurkanku lagi dengan kebohonganmu?”

Rio terperangah sekilas, dengan cepat Ia menguasainya agar Ify yang sudah menatapnya curiga bisa kembali percaya. “ Seorang Mario tidak pernah berbohong, Ssa. Kamu tau itu. Aku akan membuktikannya..”

“Kiss me..” potong Ify cepat, mancuri pandang sekilas pada seseorang yang baru saja muncul dari balik pintu besi.

“ Apa?” tanya Rio tak terkontrol.

Rio masih diam mematung, ketika Ify dengan perlahan berjalan kearahnya.

Ketika Ify sudah dalam jarak tidak sampai 1 langkah didepan Rio, gadis itu tersenyum miring. “ Buktikan. Atau kamu bener-bener mau liat gadis 10 tahunmu ini mati didepanmu. Dan Mati karenamu. ”

Tanpa disangka dengan sangat tegang dan kaku Rio mendekatkan wajahnya pada ify, meraih pundak gadis itu lalu mengecup bibir mungil Ify lembut. Hanya sebatas itu. pikir Rio.

Rio sudah akan melepas bibirnya dari bibir Ify, ketika dengan tiba-tiba tangan kadis itu melingkar dilehernya, menarik tubuhnya kuat hingga dalam sekali tarikan tak ada lagi jarak antara mereka berdua.

Rio terpana dengan yang dilakukan Ify, Hal itu memberi kesempatan pada Ify untuk mencium semakin dalam, seluruh tubuhnya menempel pada tubuh Rio. Ia cicipi seluruh rasa bibir merah pemuda itu.

Suara  percakapan  yang  sayup-sayup terdengar membuat  Rio terperanjat,dengan secepat kilat  didorongnya tubuh Ify yang semakin mendesak tubuhnya sedikit kasar dan membuat gadis itu hampir terjungkal ke belakang.

Rio tidak peduli, Ia yakin mendengar suara seseorang yang sangat Ia kenali. Dan rasanya Rio memilih mati, ketika Ia membalikkan badan dan melihat seseorang itu tengah menatapnya dengan mata basah dan sangat terluka.


***

Shilla menatap pintu besi didepannya, setelah mengangguk satu kali untuk memberi keyakinan dengan tenang Ia membukanya, melakukan sepelan mungkin dengan harapan tidak ada yang menyadari kehadirannya.

Ketika pintu itu baru terbuka sebagian Ia menoleh kebelakang kearah cakka, menempelkan jari telunjuk didepan bibirnya, untuk memberi kode pada Cakka untuk tetap tenang.

Baru ketika Cakka mengangguk setuju, Ia melewati pintu itu.

“ Kiss me..”

Tubuh Shilla menegang, usahanya untuk membuat orang-orang yang ada diatap gedung itu tidak menyadarinya memang berhasil. Tapi dia tidak pernah berharap akan melihat pemandangan yang seperti ini.

Setengah mati Shilla menahan tangisnya, hingga dadanya terasa sesak.

Ia menunduk, ketika Cakka merengkuh bahunya, lalu mengelus bahunya pelan-pelan. Yang sedang terjadi didepannya sekarang Ia tak tau dan tidak mau tau.

Cukup lama, sampai Cakka bertanya dengan berbisik. “ Kamu gak papa?”

Membuat Shilla reflek mengangkat kepala, melihat sekilas pemuda yang katanya mencintainya tengah berciuman dengan begitu intim dengan gadis lain, dengan cepat Ia menoleh. Menatap Cakka yang menatapnya khawatir. “ A..Ku. Mau.. pu.lang.” katanya berdecit karena tangis, membuat suaranya terlalu nyata untuk mengundang perhatian. dan benar saja Alvin yang juga berada di tempat itu menoleh belakang, dan tidak lama dari itu Rio juga menatapnya dengan keterkejutan.

Shilla membalas tatapan itu dengan penuh luka.

Tubuh Shilla melemah, dia sudah siap merosot jika Cakka tidak merengkuh bahunya kuat-kuat. Ia berbalik cepat, melangkah pergi sebelum Rio sadar dari keterpanaanya.

Ia pergi begitu saja, tanpa berhenti, tanpa menoleh kebelakang, meski Ia mendengar Rio  meneriakkan namanya berkali-kali.

Semuanya cukup, hanya sampai disini. Bukannya sejak awal takdir pun tak memihaknya? Ini benar-benar akan berakhir. Karena keinginannya, bukan karena seseorang telah memerintahnya.

To be Continued...