Rabu, 10 Juli 2013

Kamu Untuk Aku ( Part 14A)

Cinta itu akan selalu ada.
Hanya saja cinta tidak selalu di tunjukkan dengan cara yang sama.
Hanya caranya yang beda, bukan cintanya.....

Sore itu, salju turun di belahan bumi bagian barat, Canada. Manda dengan bersyal coklat tua duduk di  dekat jendela berkaca di apartment mewah miliknya. Mencoba sebisa mungkin menciptakan waktu santai untuk dirinya, Setelah seharian menemani suaminya kesana kemari mengurus proyek-proyek –yang entah kapan- akan ada ujungnya.

Manda memandang layar handphonenya lama. Memencet beberapa tombol untuk menemukan kontak seseorang. Sedikit ragu, ia tekan tombol hijau handphone tersebut, lalu menempelkan di telinga kanannya setelah nada menunggu mulai terdengar.

“hallo..” ucap manda segera, setelah suara tunggu tak lagi terdengar.

“hallo tan, ada yang bisa lyssa bantu..”

“ah.. tidak tidak.. kamu apa kabar ssa?..”

“ kabar lyssa baik tan, tante apa kabar?”

“tante juga baik, emm.. kalo Mario bagaimana? Dia gak kambuh-kambuh lagi kan?”

Terdengar helaan nafas yang tertahan, sebelum suara lembut di balik telepon itu kembali bersuara. “Mario baik tan, dia juga gak kambuh lagi dari terakhir dia kambuh 1 minggu yang lalu.”

Manda menghela nafas, lega. “syukurlah...”

“emm.. tan...”

“yaa..”

“emm.. maaf tan kalo lyssa lancang... tapi emm Kenapa tante gak nanya sendiri ke mario nya?”

Manda tercekat, tanya itu tepat menyinggung perasaannya. Iya. Memang itu yang harusnya ia lakukan, bertanya sendiri. Ia pun ingin. Sungguh. “emm.. gak pa pa ssa...“ Manda diam sebentar, berniat memberi alasan yang kiranya tepat agar si anak gadis di seberang telepon tak lagi menanyainya sekritis itu. “emm.. tante Cuma takut kalo Mario tidak jujur soal keadaanya.”

“tan.. Mario itu... gak pernah berani bohong sama tante. emm.. malah dia pasti bakal seneng kalo tante sendiri yang nanya kabarnya dia..”

Telak. Air mata manda luruh. ia tak bisa lagi mencari alasan untuk membohongi sahabat anaknya itu. ”Tante gak siap ssa...” manda diam sebentar, menarik nafas panjang untuk mencoba membenarkan suaranya yang makin bergetar.”tante gak siap setiap dia nanya mama kapan pulang, karena memang tante gak punya jawaban, Tante gak siap denger suara kecewanya dia... tante gak siap makin merasa bersalah sama dia. tante takut dia benci tante... “ manda tidak bisa meneruskan, ia tarik nafasnya panjang. Dadanya sangat sesak hingga rasanya ia sulit bernafas, sulit berkata-kata lagi.

“Tan, tante mesti tau, Mario butuh tante manda, tan... Mario sayang banget sama tante, Mario kangen sama tante.... Dan ... rasa kecewa mario yang tante ungkapin tadi, gak pernah sakali pun di tunjukkin rio setiap dia cerita sama lyssa kalo dia abis di telepon sama tante, rio berusaha tegar tan, Tante harus tegar juga, tante harus siap. Tante ngerti kan maksud lyssa?”

Manda hanya bisa diam, mencerna kalimat panjang dari gadis di seberang telepon. Ia tidak menyangka, anak laki-lakinya bisa tumbuh sekuat itu, sebaik itu.

Diam lama, hingga akhirnya suara di seberang telepon kembali terdengar. “emm, tante maaf kalo lyssa udah bicara gak sopan. Tapi lyssa harap tante paham maksud lyssa.”

Manda menarik nafas panjang sebelum kembali membuka suara.” enggak lyssa, tante malah ingin berterimakasih sama kamu, kamu jauh lebih muda di banding tante, tapi kamu jauh lebih bisa mengerti perasaan sesorang di banding tante... sepertinya tante harus banyak belajar dari kamu..” manda sudah bisa terkikik pelan di akhir kalimatnya, perasaannya sudah jauh lebih tenang, pengungkapan nya tadi ternyata sangat ampuh mengurangi beban batin yang sudah bertahun-tahun ini dia pendam.

Si gadis di seberang telepon ikut terkikik pelan,”lyssa makasih juga ya tan, udah percaya sama lyssa, tante udah mau ngungkapin semuanya sama lyssa. Lysaa harap setelah ini, hubungan tante sama mario menjadi lebih baik.”

“tante juga berharap seperti itu..”

“oya tan, besok senin kelas 3 ada Try Out, mungkin tante bisa sms mario buat ngasih semangat ke dia. pasti sangat berarti banget buat mario tan..”

“oya? Tante malah hampir lupa, kalo kalian ternyata sudah pada kelas 3.” Manda menghela nafas, dia ingin peduli padahal kenyataannya mengatakan dia sangat tidak peduli. “tante keterlaluan sekali yaa..” lanjutnya dengan suara lebih pelan.

“tan, penyesalan memang selalu dateng terakhir. tapi, tuhan juga selalu ngasih kesempatan kedua buat memperbaikinya...”

“iya.. lyssa. Terima kasih sekali lagi.... kalo begitu tante pasti bakal nyemangatin mario, kamu juga yang semangat ya lyssa, supaya kamu dan mario di lancarkan ujiannya...”

“hehe.. aminnn.. makasih tan..”

“yaudah, kamu sekarang ayo belajar.. gak boleh males-males.”

“siap tante. Iya ini juga mau belajar kok.”

“dan oya.. kalo bisa tante minta tolong sama kamu, kalo ada apa-apa lagi sama rio kamu ceritain ke tante ya, kayak pas rio kambuh terus kabur dari rumah seminggu yang lalu itu, soal itu dia gak bilang ke tante.”

“mungkin rio gak mau bikin tante khawatir, makanya dia gak cerita. Tapi lyssa siap kok untuk selalu cerita ke tante apapun yang terjadi sama rio.”

“makasih sekali lagi ya lyssa. yaudah kalo begitu tante matiin ya, bye lyssa.”

“bye tante...”

Klik. Manda mengakhiri Sambungan telepon antar negara itu dengan senyuman. perasaannya jauh-jauh lebih ringan saat ini. iya, memang dia sangat merasa menyesal dengan kesalahan yang telah lakukan pada putranya, tapi seperti kata sahabat dari putranya, selain penyesalan tuhan juga memberikan kesempatan kedua. Dan manda mengikat janji pada dirinya sendiri, takkan sekali pun menyia-nyiakan kesempatan kedua ini, takkan salah jalan untuk kedua kalinya, karna dia juga tak ingin menyesal untuk kedua kali nya.

“nda...” manda terjingkat pelan. Panggilan dari suaminya itu terlalu tiba-tiba. “kok belum siap-siap kamu? Sebentar lagi kita akan menghadiri acara Mr. Jhon, kamu gak lupa kan?..” tambah zeth-suami manda-

Manda mendekati zeth, memeluk pinggang zeth lembut.”iya pa, ini juga baru mau siap-siap.”


***


Tak berbeda jauh dengan manda, ify juga tak henti-hentinya tersenyum setelah percakapan via telepon itu di akhiri. Besar harapan ify jika nantinya hubungan rio dan keluarganya akan membaik. Kalo keluarganya sendiri... entahlah... memikirkannya saja ify sudah ingin muntah.


Drrt..drrtt.. dreett..

Ify tersentak. Ia ambil handphone yang belum lama tadi ia letakkan di meja kecil dekat kamar tidurnya. Dengan gerak cepat ify membuka 1 pesan masuk di handphonenya itu.

From    : Alvin
Fy, kasih gue makan -______-

Ify mengerutkan dahi. Lalu dengan gerak lincah, kedua ibu jarinya mengetik beberapa kata balasan yang kiranya pas untuk membalas sms sahabatnya.

To        : Alvin 
Lo kira gue nyokap lo -.-

Ify tertawa sendiri setelah membalas sms dari sahabatnya itu.


From    : Alvin
Ayolah fy, ortu ke luar kota mendadak nih.
Di rumah gak ada mkanan sama sekali,
Dan gue udh lemes bgt, gak sarapan dari pagi.
Udh gabisa kemana-mana.


Ify menghela nafas, ia tau posisi Alvin. Alvin anak tunggal, anak tunggal yang hidup di lingkungan keluarga harmonis. Mungkin karena factor harmonis itu mama Alvin memutuskan untuk tidak menggunakan jasa pembantu rumah tangga. Huuh, itu terdengar menyenangkan, dan cukup untuk membuat iri.

To        : Alvin
Yaelah, melas amat idup lo vin.
Yaudah, OTW.


Ify mengambil tas slempangan warna hijau tosca kesayanganya, lalu memasukkan HP dan beberapa barang yang kiranya di perlukan. Lalu segera meninggalkan kamarnya setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal.

Tepat di undakan tangga terbawah, terlihat bi inah tengah sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kebetulan.

“bi, ntar kalo mama sama papa pulang terus nanyain ify kemana bilang aja ify ke rumah Alvin, ya tapi itu kalo mereka nanyain sih, palingan sih juga gak.”
Setelah memamerkan senyum hambarnya entah pada siapa dan memastikan bi inah mengangguk beberapa kali. Ify benar-benar melejit ke rumah Alvin. Yang hanya berjarak beberapa komplek dari rumahnya.


**


Gabriel menata buku-buku yang tadi ia gunakan untuk mengajar anak didik nya. Setelah merasa semua sudah masuk dengan rapi ke dalam tas hitamnya, ia melangkah gontai menuju terios silver yang selalu terparkir rapi di bawah pohon alkasia tidak jauh dari lokasi mengajar.

“kak Gabriel…” gabriel menutup kembali pintu mobil yang sudah ia buka , mencari-cari suara siapa yang baru saja meneriakkan namanya.

Setelah melihat gadis manis dengan ikat kuda yang tengah berlari kencang-kencang ke arahnya, ia menyangkal pikirannya bahwa yang memanggilnya tadi sesosok makhluk halus yang tengah mencari perhatiannya. “shilla ada apa kesini sore-sore?” tanya gabriel.

“kak..hh.. tolong hh,.. shilla..” Gabriel menautkan alis tidak mengerti, belum sempat membuka mulut. Shilla membuka suara seperti tak mengizinkan pria di hadapannya menanggapi ucapannya. “ ikut aku kak, SEKARANG!!”
 \

***


Tendang jauh. Oper. Lari. Oper lagi. shot. Tertangkap. Lemparan jauh. Di terima dengan baik. Oper. Tendang. Shot. Gagal. Heuuuh… KLIK!!

Sudah 82 menit pertandingan berjalan, tapi hasilnya tetap sama, tak menarik. hanya begitu saja.

“Niat maen gak sih. Sini gue gantiin kalo gak niat!!” Alvin mengatur nafasnya yang terasa ngos-ngosan, dia hanya seorang penonton yang tengah meluapkan rasa kecewanya pada sang team bola idola yang tak bermain sesuai keinginannya.

Boring nih. haus lagi. Hampir setengah hari alvin berada di rumah sendiri membuat pria itu terbiasa untuk bermonolog. 

Alvin berdiri dari posisinya yang tiduran di sofa empuk di ruang keluarga rumahnya. Rasanya berat meninggalkan sofa empuk yang hampir 3 jam tadi ia tiduri, bukan… ini bukan berat karena akan meninggalkan sofa nyaman nan mahal yang baru saja di beli, tapi ini berat yang Alvin rasakan, membuat Alvin hingga terfikir “apa tiduran hampir 3 jam mempercepat penambahan berat badan.” Rasanya badannya begitu berat.

Alvin berhasil berdiri……Putaran, dia di kelilingi putaran.Putaran yang terus berputar. Berputar, dan Terus berputar. Membentuk lingkaran-lingakaran hitam memusingkan.Putaran semakin cepat. Cepat, cepat sekali, lingkaran hitam semakin jelas, semakin menyempit, sempit ……… BRUUKK!

Alvin memegang lemah kepalanya yang seperti di timpa ribuan ton batu, berat, sakit, seperti akan meledak. Matanya di pejamkan, karena ia rasa pusingnya sedikit berkurang dengan memejamkan mata.

Alvin mencoba bangkit untuk kembali tiduran di sofa empuk nan lembut yang ia tempati tadi. Tapi gagal, ia terlalu lemah. Ia bahkan tak menyangka akan selemah ini, memang saat di sekolah tadi ia sudah merasa sedikit sakit kepala, tapi ia benar-benar tidak menyangka akan menjadi seberat ini.

“Alvin, lo ngapain tiduran di lantai…”

Alvin mengenali suara cempreng yang terdengar khawatir itu. Belum sempat Alvin mengerjapkan mata berusaha untuk membuka matanya. Ia merasa tubuhnya sudah di tarik sedikit di paksa untuk bangkit, lalu beberapa saat kemudian ia merasa empuknya sofa yang beberapa menit lalu menjadi teman setianya.

Setelah mengerjap beberapa kali, Alvin akhirnya berhasil membuka sedikit kedua matanya, pandangannya segera penuh dengan gadis manis yang terlihat grusak-grusuk meraba dahinya dengan raut gelisah.

“ternyata lo selain kelaparan juga sakit vin…”

Alvin tersenyum lemah. Tadi keadaannya belum separah ini. Mungkin pergerakan tiba-tiba saat ingin berdiri tadi membuatnya menjadi begitu drop.

“lo udah laper banget ya vin… atau gue kompres dulu kali ya… atau enaknya gue ngapain dulu vin??”

Alvin tertawa kali ini, tapi begitu lemah, bahkan lebih terdengar seperti merintih. Meski Alvin tidak bisa membuka kedua mata sepenuhnya, ia bisa tau bagaimana gelisahnya orang yang ia kenal 10 tahun terakhir ini, ia tahu bagaimana pedulinya gadis manis itu. Ia tau segalanya tentang gadis itu… Ify. “nyantai fy, terserah kamu deh, mau nolongin aku apa dulu?”


Ify mengangguk-ngangguk tanpa sadar, tidak menyadari ada yang berbeda dari tutur bahasa yang baru saja alvin gunakan.

**


Keduanya sama-sama membanting tubuhnya letih ke kursi bambu di teras rumah milik salah satu dari keduanya, sama-sama menselonjorkan kaki, lalu sama-sama menghela nafas keras-keras. Gabriel dan shilla.

“jadi, nenek maya kena gejala tipes kak, bisa sembuh kan?”

Gabriel mengangguk dengan senyum.”tentu, kakak sendiri yang akan melakukan perawatan khusus buat nenek maya.”

“makasih banyak ya kak…”

Gabriel menoleh, setelah tersenyum dengan usaha terbaik ia mengacak rambut shilla penuh kelembutan.

“kakak udah jadi pahlawan buat nenek maya, buat aku, dan buat orang-orang yang sayang sama nenek maya..”

“terimakasih sama tuhan shilla,” shilla menoleh gabriel yang nampak tenang “….karena masih ngijinin kakak nyampe sini dengan selamat  dan bisa bantu nenek maya, gak jungker balik karena di bawa lari kamu yang super kenceng. Haha…”

tawa keduanya meledak, bersaing dengan jangkrik yang mulai bersahutan karena hari sudah malam.

“tapi maaf juga ya kak, pasti ini bener-bener ngerepotin kakak, harusnya kakak udah istirahat di rumah sekarang. Tapi malah harus dapat kerjaan ekstra yang cuma di bayar terimakasih.”

Gabriel tersenyum lembut, kembali mengelus penuh sayang puncak kepala shilla. “ini sudah menjadi tugas kakak, shilla. kamu tau, ucapan terimakasih itu kini terasa lebih berharga, lebih terasa indah karena kakak melakukan hal yang lebih penting dan berguna daripada kakak nonton berita korupsi yang gak ada habisnya.”

Shilla tersenyum, di ikuti semu merah yang hadir begitu saja menghiasi pipinya. Hatinya berbunga, merasa sangat benar mengambil jalan untuk mengagumi bahkan menaruh hati pada pria di hadapannya. Pria dengan hati mulia dan segudang kelakuan baik lainnya.

“jalan yang kamu ambil ini sudah sangat tepat, kamu tangkas dan berfikir cermat. Kamu kapan-kapan bantuin kakak di klinik aja gimana? ” Gabriel berujar sungguh-sungguh.

“aku mau kak..” jawab shilla nampak bersemangat, dalam hati kalimat itu berlanjut “..aku mau melakukan apapun kak, asal itu selalu dekat dengan kak Gabriel, aku mau, mau banget….”

Gabriel diam sebentar dari tawanya, memandang shilla yang terlihat serius dengan ucapannya, lalu tertawa lagi setelah mengacak rambut gadis itu dengan gemas.


**


“vin, udah mendingan?..”

“eh. Udah selesai ngancurin dapur gue?”

Ify melotot. Lalu membanting cukup kasar nampan berisi semangkuk bubur, semangkuk sup, dan segelas besar air putih. “gue masak vin… gak nyusun strategi perang!!!!”

Alvin sudah bisa tertawa keras kali ini, kompres yang di pasangkan ify tepat di dahinya sepertinya cukup berhasil mengurangi pusing di kepalanya.

“oh… udah bisa ketawa..” Alvin melotot gemas kearah ify, gantian ify yang kini terkikik geli.”makan nih, dengan segenap jiwa dan raga nih bikinnya.”

Alvin susah payah akan bangkit dari tidurnya, tidak… dia bukan rio yang biasa bermanja-manjaan dengan sahabat wanitanya. Dan belum tentu wanita di hadapannya ini cukup welcome apabila dia bermanja-manja ria. Sudah cukup gadis ini berbaik hati merawatnya yang sedang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia takkan merepotkan lebih jauh lagi. Begini saja dia sudah bahagia, jauh bahagia dari yang gadis itu mungkin bayangkan.

“eh, lo mau ngapain?” tanya ify dengan raut khawatir bercampur bingung melihat Alvin dengan wajah pucat mencoba bangkit dari tidurnya.

“lho? Bukannya lo tadi nyuruh gue makan kan?”

“elah vin..” getokan sendok berhasil mendarat mulus di kepala Alvin yang sudah setengah duduk.”meski gue sadis begini gue gak jahat jahat juga kali, biarin lo makan sendiri dengan muka lo yang sepucet itu. Sini gue suapin …”

Alvin menghempaskan tubuhnya kembali, lega, dan kalo boleh… bahagia. lalu menerima suapan pertama dari ify setelah gadis itu memberi intruksi untuk membuka mulut dengan mengucap “aaaaa”

“buburnya enak gak vin?”

Alvin menautkan alis, “memang kenapa?”

“gue belum di ajarin bikin bubur di tempat les masak gue, jadi ini tadi cuma nasi gue masak dengan ekstra air.”


Alvin menghela nafas panjang. Di kepalanya penuh ide jahil untuk mengerjai gadis manis dengan segala tingkah baiknya.“Gue kira mulut gue lagi hambar, ternyata memang ini bubur rasa hambar..”

Ify menonyor kepala Alvin dengan cepat, membuat Alvin menggerutu hebat karena mengaku kepalanya masih pusing.

“tapi sop nya oke kok fy,…”

ify menghentikan aktifitasnya menyendok bubur dari mangkuk, lalu menatap Alvin dengan mata berbinar..” ah masa sih? Tapi kata ri….” Ify tercekat, kenapa harus bandingin sama omongannya rio. Harusnya kamu gak peduliin itu fy.


“emm, apa fy?”

ify mengerjap beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan alvin.“eng.. enggak kok.. emm, tapi lo gak lagi ngerjain gue kan vin soal sop gue yang enak..”

Alvin diam, mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk kanannya,”ya seenggaknya pujian itu buat balas kebaikan lo fy, makasih buat kompres dan makan gratisnya..”

Alvin tersenyum lucu, dengan memamerkan deretan rapi giginya yang putih, mau tak mau membuat ify turut dengan senyum itu. Dalam hati terjawab, “Kata rio, sop gue keasinan karena gue ngebet kawin. Haha dasar gak nyambung, tapi gue kangen lo rio."

“fy.. gue gak di suapin lagi nih? Bengong gitu...”

Ify tersentak.”eh iya... sorry kebawa suasana.”

“ha? suasana apaan?”

“suasana.... belajar.. iya suasana belajar.. tadi kan sebelum kesini gue lagi belajar.. nah pas gue diem tadi gue lagi belajar.”

“are you kidding me?” ify Cuma nyengir. Alvin menggelengkan kepalanya pelan.”buat try out besok senin?”

Ify mengangguk semangat.”iya dong... pasti kalo lo belum belajar deh.”

“ya belum lah. Please deh ini kan masih hari jum’at.”

“issh pemalas dasar...... Eh tapi tunggu deh vin..... ntar kalo lo nyampe senin belum sembuh gimana? kalo gak, periksa ke rumah sakit aja deh lo.”

“ya mungkin udah sembuh. Tapi ya liat ntar deh, kalo masih belum enakan, ntar gue minta anterin rio ke rumah sakit.”

“ya semoga cepet sembuh deh ya vin..”




***




Kamis, 27 Juni 2013

Cerbung : Kamu Untuk Aku (Part 13)




Rio menghisap dalam inhalasi yang sempat terbawa sebelum dia meninggalkan singgasana istana haling, sendiri, dengan keadaan yang di bilang tidak baik. Setelah itu, ia tarik nafas nya dalam-dalam dan di hembuskan perlahan, di lakukan berulang kali dengan ritme teratur.

“eeem mario, mama sama papa harus membatalkan kunjungan ke indonesia kali ini.”

“....”

“rio kenapa diam saja? apa kamu baik-baik saja?”

“eh, iya ma, gak papa kok ma, emm, tapi kalo boleh mario tau, mama sama papa ada keperluan mendadak apa?”

“oh iya, itu... papa dapat undangan makan siang dari rekan bisnis papa yang nomor satu. Kamu bisa mengerti kan mario.”

“....”

“emm.. kamu.... bisa mengerti kan mario?”

“oh, iya ma rio ee mario ngerti. Yaudah ma, mario banyak PR, semoga mama sama papa..... sehat selalu ya.”

“iya sayang, papa pasti seneng kamu giat belajar gitu . bye mario, i love you.... “ 

Klik. Percakapan via telepon itu berakhir.

Rio menghisap inhalasi nya lebih dalam. Dadanya lebih sesak dengan secuil memori yang harusnya tak di ingat.

“tok tok tok... “ rio mengangkat kepala, melihat ibu-ibu separuh baya yang lusuh di balik kaca mobilnya, sedang menggandeng gadis kecil bertampang polos yang dengan cermat memperhatikan usaha ibu paruh baya tersebut menarik perhatiannya.

”sedekah nya nak..” ucap ibu pelan yang di sertai senyum lemah di akhir kalimatnya.

Suara ibu paruh baya itu membuat Rio sadar, dia sudah terlalu lama mendiamkan ibu tersebut. sebagai gerakan awal, rio segera menurunkan kaca mobilnya, membuatnya bisa leluasa melihat wajah dua wanita berbeda umur tersebut yang nampak lebih lusuh dilihat secara nyata, “ini bu..”

Mata ibu paruh baya tersebut terbelalak dengan binar terang yang tidak dapat di sembunyikan. “eh, ini teh adek kasep tidak bercanda..” 

Rio memandang selambar 100 ribuan yang masih belum berpindah dari tangannya, memang salah memberi dengan nominal uang ini. atau dalam pemberian uang pada pengemis ada peraturannya tersendiri. Harus ada batas nominalnya, dan dia tidak tau.”iya, ini buat ibu sama si adek..”

Ibu paruh baya itu menerima dengan mata berbinar. Ketika rio kembali meyakinkannya bahwa uang itu benar-benar untuknya.”terimakasih nak, terimakasih. Semoga di balas lebih lebih sama gusti Allah.”

Keduanya pergi dengan senyum yang sama-sama sumringahnya, tanpa sadar rio turut dalam kebahagiaan tersebut,hal yang seperti ini baru pertama ia lakukan, dan ia merasa di gunakan. 

“hari ini kita makan enak dong bu...”

Rio kembali tersenyum, samar-samar mendengar suara cempreng gadis kecil yang berjingkat-jingkat kecil, kegirangan. Membuat rambut panjang nya yang di ikat ekor kuda, ke kanan dan ke kiri mengikuti gerak lincah tubuhnya. Gadis kecil itu mengingatkannnya pada seseorang, shilla.

Rio menstarter mobil astonnya sore itu, keadaan nya di rasa sudah membaik untuk melanjutkan perjalanan, dan... kini sudah ada tujuan.



***



“tadi tuan rio memaksa pergi, padahal belum seberapa pulih. Maka dari itu saya menanyakan Pada tuan alvin dan nona alyssa. Apa sedang bersama tuan mario” Pak kiki menunduk dalam, ingin menandakan bahwa penjelasan kronologi kejadian hilangnya rio kepada alvin dan ify yang langsung datang ke istana haling begitu mendapat pesan singkat dari pak kiki, perihal keberadaan rio yang sedang kambuh. “kami minta maaf tuan, nona,  karena tidak bisa menjaga tuan mario dengan baik.” Lanjutnya masih penuh hormat.

Alvin tergagap sebentar,”emm, gausah minta maaf pak, kalian sudah bekerja dengan benar. Mungkin rio sedang ingin sendiri.” 

“iya tuan. Tapi kami juga sudah mengerahkan beberapa penjaga untuk mencari dan memastikan bahwa tuan mario baik-baik saja.”

“ah itu bagus sekali hehe” alvin menggaruk belakang kepalanya.



Cengiran alvin menyadarkan ify dari fikiran-fikiran buruknya. Ia tau apa yang harus ia lakukan. “dan kami juga akan membantu mencari rio kok pak.” Tanpa menunggu tanggapan pak kiki yang sudah membuka mulutnya, ify menarik tangan alvin cepat.”ayok vin..”

Alvin menuruti ify yang sudah mencekal tangannya kuat-kuat. Pasti gadis yang terburu di depannya ini sudah begitu khawatir.



**



Ina sedang melanjutkan membuat sweater merah muda yang dirajutnya khusus untuk shilla saat tahu-tahu ada yang mengetuk pelan pintu utama rumahnya. Dengan gerakan cepat, ina bangkit untuk membukakan pintu, tak mau membuat tamunya menunggu lebih lama.

“eh, nak rio ...”

rio mengangkat kepalanya yang menunduk, tersenyum lemah sekilas.”shilla nya ada tante?”

alih-alih menjawab tanya rio yang terdengar pelan, ina malah menajamkan pandangannya pada rio yang sore itu tak senyentrik biasanya , sore itu rambut rio lebih acak-acakan, bajunya kusut dan ... “astaga rio kamu pucet banget, ayo sini masuk dulu..”

rio menuruti ina yang dengan gerakan cepat menyingkirkan beberapa benang merah muda dan alat merajut lain dari sofa untuk dirinya duduk, tanpa mau menyangkal yang memang tak ada yang harus di sangkal. “ayo duduk sini..” rio duduk dengan manis dan masih tanpa suara.

ina dengan raut gelisah berkali-kali menempelkan tangannya ke dahi rio. Rio kembali hanya bisa tersenyum lemah.”aku gak apa-apa tante.”

Ina menghela nafas pelan, “sepucet dan sekalem ini bukan kamu banget rio.” 

Rio mengurungkan niatnya untuk membuka suara, ingin kembali menyakinkan ina bahwa ia baik-baik saja, ketika dengan gerakan penuh kasih ina mengelap keringat dingin yang mengucur deras di pelipisnya. Rio bisa merasakan hangatnya, hangat yang selama ini di nanti, di inginkan.

“ini shilla nya kebetulan lagi keluar. harusnya kalo kamu sakit itu istirahat di rumah aja. Nanti tante suruh dia jengukin kamu.”



**



“kak pricilla sering-sering kesini aja..” ozy berteriak semangat di sela-sela istirahat belajar mereka. Saat ini sekitar 9 anak 11 tahunan dan 2 orang dewasa tengah membentuk lingkaran kecil, sedang menikmati kue yang telah di siapkan oleh salah satu orang dewasa di sana.

“memang kenapa gitu? Memang nya kak gabriel gak mampu sendiri gitu maksudnya?” gabriel sebagai salah satu orang dewasa menanggapi argument ozy, pricilla yang sebagai topik pembicaraan hanya bisa tersenyum manis.

“ya gak gitu juga kak. Sensi banget sih kayak perawan, maksudnya Biar ada variasi gitu... “ ray angkat bicara.

“iya nih, apalagi variasi nya kak pricilla udah cantik, baik, sabar, pinter lagi.. kita kan jadi semangat belajarnya..” bastian berucap lucu, mau tak mau membuat tawa seketika membahana.

“bastian gombalin kakak nih.. kakak kan jadi malu bas..” pricilla berhasil membuat suasana menjadi lebih riuh. Sontak membuat gabriel nampak terkejut, ini benar-benar sisi lain pricilla yang belum pernah ia temui. Pricilla yang berani mengekspresikan dirinya, dan gabriel suka.

Gabriel tidak sadar tangan nya sudah bergerak mengusap puncak kepala pricilla, membuat si empunya kepala terdiam dengan pipi bersemu. Beberapa detik dunia terasa hanya milik mereka berdua, mereka berdua yang masih bertahan saling tatap dalam satu titik.

“cieeeee kak pricilla, cieee kak gabriel...” suara seketika kembali riuh, dan tawa ringan hingga membahana bersenandung. Dan terdengar indah tanpa beban. Benar-benar sore itu terasa sempurna, mungkin tidak untuk semuanya, tapi salah satu yang mengharapkannya. Ada harap bahwa hidupnya akan berlanjut sesuai keinginannya.



*** 





Shilla melompat-lompat kecil dengan bersenandung riang, melewati jalan setapak yang akan membawanya ke tempat dimana ada seseorang yang sangat ia rindukan. Shilla tersenyum sendiri, dia merasa dirinya sangat berlebihan dalam hal ini padahal baru 3 hari ia tak menemui sesorang itu , tapi kenapa sebegini rindunya.

Langkah shilla terhenti, dengan raut bingung ia tatapi 2 mobil yang terparkir rapi di hadapannya. Tempat yang niatnya ia kunjungi sudah tidak jauh lagi, sudah terjangkau dengan matanya.

dan ..... ada yang tau rasanya tangan teriris saat memotong sayuran. Ah, tidak tidak.. ini rasanya jauh-jauh lebih sakit. Di tempat yang akan di tujunya, seorang lelaki-orang yang akan di temuinya- tengah mengusap lembut puncak kepala seorang gadis yang langsung tersipu dengan perlakuan itu.

Tangan shilla reflek memegangi puncak kepalanya dramatis.”shilla kira Cuma shilla kak...” shilla menggeleng keras, ia usap kasar air mata yang sudah menetes tanpa di minta.”sadar shill sadar lo siapa?”

Shilla membalik badan, berniat untuk pergi. Toh, kotak kue yang awalnya akan ia ambil sebagai alibi untuk bisa bertemu pemuda di ujung sana juga bisa di kembalikan salah satu anak didik pemuda itu. buat apa ia capek-capek ke tempat yang tak ada satu pun yan mengharapkannya.

“shilla..” shilla reflek membalik badan sangking terkejutnya. Dan segera menutup mulutnya yang sudah menganga melihat pemuda yang akan ia temui sudah berjarak 1 meter dari ia berdiri. “mau ngambil kotak kue ya? Kok gak jadi?”

“emm, eng..gak kok kak, aku Cuma gak sengaja lewat sini. Gak mau ngambil kotak kue.. iya.. hehe..” shilla tersenyum sakartis di ujung kalimat. 

Gabriel tak merespon, menghela nafas. Seperti tidak rela mengetahui fakta bahwa ada shilla di sini bukan untuknya. dengan beralibi mengambil kotak kue untuk bertemu dirinya, seperti yang biasa gadis itu lakukan. Kenapa tidak seperti itu lagi.

“iel, aku udah kelar nih pamitannya.” Pricilla menyembul dari balik mobil gabriel, belum menyadari kahadiran sosok lain yang ada di sana.

“duluan kak..” shilla berlari begitu saja, tak menghiraukan pricilla yang memasang wajah bingung baru menyadari kehadirannya. Meninggalkan gabriel dengan kebimbangan.



***



“shilla beruntung banget ya tan, punya bunda sebaik tante..”

Ina tersenyum lembut, membawa tangan kiri rio kedalam genggaman kedua tangannya. Memberi keyakinan kukuh yang harus di tanamkan ke pemuda di hadapannya ini ”tidak ada bunda yang tidak baik rio...”

Rio diam sebentar, tersenyum lemah, lalu menghela nafas panjang sebelum memulai kalimat yang akan di lontarkan. “rio anak tunggal di keluarga haling, banyak yang bilang rio yang nanti akhirnya mendapat sebuah tanggung jawab besar. Dan mereka anggap rio orang yang beruntung dengan itu....”

“dan tanpa ada yang minta, tanpa ada yang memberi semangat, selama ini rio sudah berusaha keras untuk mempersiapkannya, untuk manjadi satu-satunya kandidat terbaik .”

“dan rio ngelakuin semuanya sendiri, tanpa ada mama yang meluk rio kalo rio lagi capek, tanpa ada papa yang ngasih pujian kalo rio berhasil.”

“mama sama papa masih hidup, tapi kayak udah mati..”

Mata rio memerah, bersamaan dengan dadanya yang semakin sesak. Dan tidak lama, anak sungai di pipinya mengalir deras, membuat ina yang melihatnya sedikit takjub di buatnya, tak menyangka mario yang di kenal bak pangeran dengan kebahagian sempurna ternyata memiliki sisi yang sangat rapuh.

“rio selalu melewati perayaan ulang tahun super mewah, tapi tanpa mereka. Siapa bilang rio seneng sama pesta mewah itu? Rio gak pengen itu , rio lebih memilih pesta ulang tahun rio gak mewah tapi ada mama sama papa di samping rio, ngasih ucapan ke rio, jadi orang-orang pertama yang rio suapin kue. ” Rio mengangkat salah satu ujung bibirnya.

”tapi.. rio juga gak peduli.” Percayalah, suara rio bergetar hebat ketika mengucapkan kalimat itu, kalimat itu seperti menentang habis hatinya, kalimat nya itu yang nyatanya membuatnya terpuruk selama ini. kata peduli, tentang kepedulian mereka terhadapnya. kepedulian yang di ragukan keberadaannya.

“rio kangen mereka tante, pengen ketemu, pengen di peluk mama, pengen main PS sama papa, pengen jadi anak normal yang di sayang orang tua nya.”

“waktu ketemu sama mereka bisa di itung sama jari, rio juga udah lupa rasa masakan mama, yang rio inget Cuma teguran papa dari telpon kalo rio mulai nakal di sekolah. Kalo rio gak ngerjain tugasnya dengan baik, kalo rio..”

Rio menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tangisnya meledak. Namun dadanya tak sesesak biasanya. Tangis ini tak seperti tangis biasanya, tangis tertahan yang tak menghasilkan suara sedikitpun. Tangisnya ini tangis meledak yang tanpa perlu di sembunyikan. Tanpa perlu susah payah di tutupi.

Ina merengkuh tubuh tegap rio, cepat. Menenggelamkan tubuh tersebut kedalam pelukan yang mungkin jika boleh ina menyimpulkan pemuda itu rindukan. Pelukan seorang ibu yang lembut namun penuh kekuatan, penuh kehangatan dan... penuh kasih sayang.

***



“enak banget ya eskrimnya, nyampe serius banget gitu makannya...”

“apa??” shilla mendongak, menghentikan misi menghabiskan-eskrim-dalam-waktu-sekejap yang hampir saja tercapai. kini keduanya sedang berada di kedai eskrim sederhana di pinggiran taman kota.

Alih-alih menjawab tanya shilla yang penuh keterkejutan itu, gabriel malah sudah sibuk dengan kegiatan mengambil beberapa tissue yang di sediakan di meja bundar milik kedai eskrim tersebut, lalu secara lembut ia bersihkan sisa eskrim di sekitar bibir shilla.”mau cerita ke kakak??”

Belum lepas keterpanaan dari perlakuan manis gabriel yang dengan lembut membersihkan sisa eskrim di sekitar bibir nya. Lagi lagi shilla di buat terpana dengan pemuda yang mengajukan tanya dengan senyuman luara biasa manis di hadapannya.

“emm, tentang pura-pura gak jadi ngambil kotak kue, lari tiba-tiba dan kakak harus susah payah mengejarnya.”gabriel terkikik sebentar, lalu dengan tatapan yang lebih lembut namun penuh ketegasan menatap satu titik yang sama dengan gadis di hadapannya.”dan makan eskrim dengan gaya kesetanan. Ada yang perlu di jelaskan?”

Shilla bungkam, merasa terlalu cepat di tebak oleh gabriel tentang tingkah-tingkah anehnya dan ia juga tidak yakin untuk mengutarakan alasan sebenarnya.

Gabriel mengacak rambut shilla yang tak kunjung membuka suara. senyum sekilas, lalu menurunkan tangan kokohnya. “kakak bisa jadi pendengar yang baik.”

“yakin?” gabriel mengangguk semangat dengan cengiran menjawab tanya singkat dari shilla.”kakak janji dulu jangan ngomong sedikit pun sebelum shilla selesai ngomong.”

“oke janji...”

“janji kelingking.” Kelingking kedua nya sudah terkait, membentuk janji kecil di antara keduanya.



***



“lo yakin vin? Gak da tempat lain yang kalian tuju selain club kalo si rio lagi ada masalah.”

“iya fy, gue yakin.” Alvin memasukkan persneling dan menginjak gas saat mobil di depannya bergerak maju.

“ke mall gitu atau kemana gitu? Coba di inget-inget lagi deh!!”

Alvin melirik ify,”lo yakin fy nanyain pertanyaan kayak gitu, mungkin gitu tampang-tampang kayak rio pergi ke mall? Gue gakbisa bayangin, dia shopping super banyak kayak lo kalo lagi buang stress.”

“iya juga sih, gak mungkin,” ujar ify, kali ini lebih pasrah.”terus kemana dong rionya?”

“ya karena kita berdua gak tau, makanya kita nyari fy..”

Dahi ify mulai berkedut, merasa perkataan alvin barusan sama sekali tidak membantu mengurangi kekhawatirannya pada pemuda yang 8 jam lalu tidak di ketahui kabarnya.”gue khawatir vin, khawatir banget! lo tau kan? Dia gak bisa apa-apa kalo lagi kambuh gitu. Terus kalo sekarang dia lagi kambuh parah-parahnya lupa bawa obat, terus gakda yang nolong gimana??”

Alvin melirik ify lagi, lalu menghela nafas ketika melihat gadis di sampingnya sudah hampir menangis sangking khawatirnya.”iya, kita juga kan lagi usaha fy. lo jangan nangis dong,,,”

Untuk pertama kalinya ify melirik alvin yang sedang serius mengendarai mobil yang ia tumpangi.”gue belum nangis kok?”

“belum kan? Berarti bakal nangis kan dalam jangka pendek maupun panjang.”

“iya, tapi...”

“Yaudah yaudah, lo coba hubungi aja terus tuh HP nya rio, Siapa tau kan tiba-tiba aktif. Gue nya juga sambil nginget-nginget tempat-tempat yang biasa di kunjungi rio. Oke cantik. Deal ya?”

Ify menghela nafas panjang, lalu mengangguk pelan. Menyetujui usulan alvin yang di anggap mungkin bisa berhasil.



***



Dengan senandung kecil, dengan senyum yang lebar, shillla membuka pintu rumahnya dengan bersemangat. “IBU. SHILLA PULANG!!!!..”

“SSSTTTT..”

Shilla reflek langsung menutup mulutnya, “ada apasih bun?”ucapnya kali ini berbisik pada ina yang sedang sibuk menyiapkan makan malam. 

Ina tak menjawab tanya putri tunggalnya, hanya menggerakan dagunya ke arah sofa ruang tamu. 

Shilla mengikuti arah tunjuk dagu ina.”lha? ini orang gila kenapa bisa tidur di sini bun?”

Ina yang kali reflek, menempelkan jari telunjuk ke mulut nya. “shilla, udah di bilangin jangan teriak-teriak kok ngeyel.”

Shilla menutup mulutnya sekali lagi.”iya sorry sorry, shilla kan reflek. “ shilla mengambil 1 apel merah di meja makan, mengigitnya sekali. Dan kembali mengajukan tanya dengan volume yang sudah di kecilkan.”jadi gimana penjelasannya bun?”

“ hai shilla..”

Untuk beberapa saat shilla hanya bisa diam dengan mata tak berkedip sedikit pun. Menatap pemuda yang baru saja memutar tubuhnya untuk berbalik badan. Sedang ina, hanya tertawa kecil melihat tingkah pemuda yang nampak lebih baik dari keadaannya beberapa jam yang lalu.

Rio masih menatap shilla, dengan senyuman manis di bibirnyaa. Sedangkan shilla masih mempertahankan ekspresi melongo andalannya. “darimana aja?” rio menurunkan kedua tangannya dari pundak shilla yang masih belum bergeming, melirik jam dinding sekilas, sebelum mendudukan dirinya ke kursi meja makan.”kok jam segini baru pulang?”

Shilla melirik rio sebentar, lalu menoleh ke ina. “udah kayak setan ya bun dia, tadi masih tidur terus tiba-tiba udah ada di sini.”

Ina menghentikan aktivitasnya, melotot ke arah shilla sekilas. “ shilla. kok gitu ngomongnya! Yang sopan dong.”

Rio terkekeh sebentar. Melihat ekspresi melongo shilla yang kian merana. “iyatuh bun, marahin aja, kebiasaan tuh dia gak sopan gitu sama rio.”

Shilla hanya bisa diam, merasa ada yang ganjil dengan kalimat yang rio lontarkan. Masih berpikir keras, dengan gerakan pelan Shilla mendudukkan dirinya, alisnya bertaut menatapi rio lama. dan yaa... dia tau letak keganjilannya.”bun? bunda maksud lo?” 

Rio melirik shilla sebentar, mengangguk pelan sambil meneguk segelas air putih yang baru saja di tuangkan oleh ina untuknya.

shilla menatap sebal bundanya. Sebelum mengajukan protesnya lagi pada satu-satunya laki-laki di rumahnya saat itu. ”sejak kapan lo di angkat anak sama bunda gue?”

“emm, bukan di angkat anak sih lebih tepatnya, tapi karena bunda calon mertua gue jadi nya gue mau biasain diri aja.”

Shilla melongo. “ha? Calon mertua? PD banget lo?”

“iya dong, PD. bunda aja fine fine aja, ngapa lo yang repot?.”

“ya iya lah repot. Kalo bunda calon mertua nya berarti gue dong calon pengantin wanita nya.”

“ itu tau..” rio mengacak rambut shilla penuh bersemangat.” Tumben pinter..”

Shilla menapis tangan rio, yang tanpa perasaan mengacak rambutnya.”apa-apaan sih ini?”

“udah-udah, makan dulu yuuukkk.” Ina yang sedari tadi hanya tersenyum mendengar pertengkaran kecil 2 remaja di hadapanya akhirnya membuka suara, mencoba menengahi.

“tapi bun...” belum shilla menyelesaikan ucapannya, harus ia urungkan ketika piring putih tiba-tiba memenuhi pandangannya.

Shilla menoleh ke kiri, ke satu-satunya objek yang melakukan hal tidak wajar itu. rio sudah memasang senyuman termanis ketika shilla melihat kearahnya”calon istriku yang baik ambilin dong.”

Shilla bergidik ngeri, kata ‘istri’ yang di ucapkan rio menggelitik indera pendengarannya. Membuatnya tidak tahan. Membuatnya ingin muntah, membuatnya ingin berteriak. ”tidaaaakkkkkkkkkkkkkk!!!!” dan itu hanya bisa di lakukan tentu hanya dalam hati.

Puas menatap tajam penuh murka pada rio, shilla memalingkan pandangan penuh harapnya pada ina yang sudah siap menyantap 1 porsi makan malamnya. Bila tatapan bisa berbicara, kurang lebih begini arti tatapan shilla pada ina. “Please bun tolong shilla, ini cobaan terberat bun, ini siksaan, tolong anakmu yang malang ini.”

Ina membalas tatapan shilla, tersenyum sekilas. “ shilla ..... ayo tolongin kak rio.”

Shilla mendengus. “BUNDA TEGA!!!!” teriaknya dalam hati, hanya dalam hati.



***


Alvin sudah benar-benar kehabisan ide, dimana saja tempat yang biasa ia dan rio kunjungi. Dan karena rio masih saja belum di temukan akhirnya  atas permintaan ify mereka terus mencari namun kali benar-benar tanpa tujuan, hanya berusaha mencari acak dan berharap berpapasan atau tidak sengaja melihat mobil rio terparkir di suatu tempat.

Alvin memelankan laju mobilnya, lalu benar-benar menghentikannya ketika apa yang di lihatnya tidak salah.”kayaknya satu-satunya orang yang punya mobil itu Cuma pangeran kita deh fy..”

Ify langsung mendongak, ikut melihat apa yang di lihat alvin. Dan ya.. Cuma rio yang punya mobil aston martin one-77 seindonesia. Atau meskipun ada orang indonesia lain yang punya, pasti itu masih sangat langka, dan kesimpulannya kemungkinan itu mobil rio SANGAT besar.

Ify tanpa berkata apa-apa, keluar dari mobil dengan senyum yang sulit di artikan, antara senang, terharu dan takut. Entah takut karena apa, tapi memang benar itu yang dia rasakan.

Alvin mengikuti ify yang berlari menghampiri mobil aston silver itu dengan langkah pelan. “ada orang di dalamnya fy?” tanya alvin begitu dia sudah berada di samping ify, yang masih melongok kedalam mobil.

Ify tidak menjawab, masih terus mencoba mengintip ke dalam mobil berharap yang di lihat nya salah, “gak ada siapa-siapa di dalam mobil”.

“fy, udah. di dalem gak ada siapa-siapa..” alvin menegakan tubuh ify yang belum berhenti menunduk-nunduk untuk melihat ke dalam mobil.

Ify menunduk, terisak.”terus rio kemana vin?”

Dan kalo sudah begini, alvin bakal kelimpungan mesti ngapain? Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari rio yang mungkin saja berada di sekitar situ. “fy udah ya jangan nangis, kamu lihat deh di situ ada gang, dan itu satu-satunya gang yang ada di sekitar sini, kita coba cari kesana yaa, kalo bener ini mobil rio, ada kemungkinan kan rio ada di sekitar gang itu.”

Ify mengusap air matanya, sekali. Masih diam melihat ke arah gang yang baru saja di tunjukkan alvin padanya.


“udah.. ayuuk.. lets go...” 


**


“bun, itu sayapnya masih satu lagi buat aku yaa...” 

“boleh..”

“yeay..” shilla dengan sumringah mengambil satu-satunya potongan sayap yang tersisa di meja makan. Lalu menyantapnya dengan semangat semur ayam masakan bunda.

“kenapa harus bagian sayap, kenapa gak bagian paha, dada atau bagian lain, yang lebih banyak dagingnya.” Rio nyeletuk , memandangi heran shilla yang makan tanpa aturan.

Shilla melirik rio sekilas, lalu tanpa menjawab apa-apa kembali melanjutkan makan malamnya.

“shilla suka banget makanin bagian sayapnya io..” ina menjawab tanya rio, seperti sudah tau niatan shilla yang tak ingin menjawab tanya rio.

Rio memperhatikan ina sekilas, lalu kembali menoleh ke shilla,”kenapa?”

“banyak tanya banget sih lo eh kak..”

“bilang aja kamu gak punya alasan, kamu gak perlu nyolot... dasar gak punya landasan, hidup macam apa gak ada landasannya?”

“rrrrRR... berisik tau gak..”

“ya jelasin, kalo gak mau gue berisik..”

“aku udah bun, tiba-tiba kenyang..” shilla membanting pelan sendok makan yang tadi ia gunakan. Lalu dengan cemberut meninggalkan meja makan.

Rio menatap ina masih dengan raut muka bertanya-tanya. Ina tersenyum sebentar sebelum akhirnya menjawab dengan berbisik, ”katanya dia pengen bisa terbang, makanya dia banyak-banyakin makan sayap. Imajinasinya shilla memang selalu aneh gitu io..”

Rio menghampiri shilla dengan kikikan kecil.” jadi... apa hubungannya makan banyak sayap sama bisa terbang..”

Shilla melongo, kok udah tau aja nih anak.” Bunda kok di kasih tau sih bun..aku kan..

“BRAAAKk..” seperti di aba-aba 2 wanita dan 1 laki-laki yang ada di ruangan itu serempak menoleh ke pintu utama yang baru saja di dobrak tanpa ampun. Di sana ada empat pria berbadan besar berpakaian serba hitam.

“maaf.. ada keperluan apa di rumah saya..” ina yang sama terkejutnya dengan anak gadis yang sekarang tengah erat memeluknya memberanikan diri untuk membuka suara.

“kami di sini di tugaskan untuk menjemput tuan mario..” salah satu dari segerombol pria itu menjawab dengan penuh ketegasan.

“kalian pergi sekarang, saya bukan anak kecil yang perlu di jemput kayak gini..” rio berbicara tanpa melihat lawan bicaranya, ia menunduk menahan amarah, merasa di permainkan dengan ulah para pengawalnya.

“maaf mario.. untuk kali kami tidak bisa menuruti kemauan tuan, karena ini juga demi kebaikan tuan.”

“SAYA BILANG PERGI..”

“maaf tuan, kami tidak bisa.” Pria yang sepertinya leader dalam segerombolan itu kemudian menoleh ketiga kawannya.”bantu tuan mario kembali ke mobil.”

“BERHENTI.. saya bisa pulang sendiri.”

Rio masih berontak saat tiga pengawal berbadan besar mulai memegangi tangannya. “LEPASKAN. ATAU .. kalian saya pecat saat ini juga..”

“ tapi maaf tuan, kalo tuan tidak pulang sekarang, terpaksa hal ini akan di laporkan pada taun dan nyonya besar.” Dan diam, itu argumen mati. Tidak bisa di bantah. Tidak di harapkan adanya pelanggaran.

Rio pergi. Begitu saja. Tanpa ucapan-ucapan selamat tinggal atau berpamitan pada ina dan shilla. Harus mengubur dalam ejek-ejekan jahil yang sudah ia siapkan untuk shilla. mengubur kebahagiaannya. Yang tidak tentu, tidak konkrit.

Shilla menelan ludah, tidak menyangka melihat adegan sinetron langsung di depan matanya. “kelakuan orang kaya suka aneh-aneh ya bun..”

Ina tersenyum sebentar. Dan selanjutnya, ia kembali termenung menatap pintu utama yang baru saja di lewati pemuda tampan dengan para pengawalnya. Mengingat, menghapal, dan menyimpan kuat-kuat raut wajah takut dari pemuda yang tadi sore menangis di pangkuannya begitu salah satau pengawal, balik mengancamnya ” maaf tuan, kalo tuan tidak pulang sekarang, terpaksa hal ini akan di laporkan pada taun dan nyonya besar”

***

“fy..”

“hmm..”

“apa gak lebih baik kita biarin rio pulang sendiri aja... emmm.. tanpa nyuruh pengawal rumah rio jemput..”

Ify menoleh ke kanan, melihat lawan bicaranya yang juga sedang melihatnya “memang kenapa vin..”

“Ya bukannya kita cukup tau dia baik-baik aja. Dan kita udah tau.. terus buat apa di jemput sama pengawal segala, kalo pun butuh di jemput kenapa gak kita aja?, atau dia di suruh balik sendiri.”

“aku cuma takut dia sebenernya gak lagi baik-baik aja.”

“tapi.. dia tadi keliatan ... seneng..”

“CUKUP vin. Lagian kalo mau protes udah telat. Kali tu para pengawal juga udah nyampe sana.”

“lo udah..

“IYA. Please gakusah bahas ini lagi.”

Dan.. hening. Alvin benar-benar tak lagi membuka suara. ia tidak ingin memperburuk suasana, yang harusnya ia tau betul alasannya karena apa. 

Sedang ify, ia semakin betah melihat keluar jendela. Masih belum bisa menghapus memori beberapa menit lalu. Saat ia akhirnya mengikuti langkah alvin menyusuri gang kecil, menemukan sesorang yang dicari di satu rumah sederhana yang tirai jendela kacanya di biarkan terbuka, mendekati jendela tersebut dengan perlahan, berharap bunyi heels ghost nya tidak mengusik siapapun, lalu mendekatkan telinga ke jendela kaca.


”sejak kapan lo di angkat anak sama bunda gue?”

“emm, bukan di angkat anak sih lebih tepatnya, tapi karena bunda calon mertua gue jadi nya gue mau biasain diri aja.”

Tik.. satu air mata menetes dari matanya. Rio bukan orang yang suka bercanda. Dan itu artinya... haha ify you was die.


to be continued....



oke. akhirnya saya post juga. dan semoga berkenan di hati para pembaca.
ya saya minta maaf atas keterlambatan posting nya. dan terimkasih untuk request2 kalian untuk terus melanjutkan cerita ini. itu semangat tersendiri untuk saya, terimakasih sekali lagi. love you :3 Happy reading!!

Selasa, 30 April 2013

mear diary : Kenapa mesti kenapa?

andasekalian : kenapa judulnya kenapa mesti kenapa?
saya              : karena kenapa kalian mempertanyakan kenapa judulnya kenapa mesti kenapa?
andasekalian : kenapa kamu juga nanya kenapa aku mempertanyakan kenapa judulnya kenapa mesti        kenapa?
saya         : ya karena kenapa kamu kenapa-in kenapa kalian mempertanyakan kenapa judulnya mesti kenapa?
andasekalian  : kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa-in kenapanya aku?
saya              : yuk kejang bareng...

saya kembali... dan tolong di tanyakan "kenapa saya baru kembali?" BUKAN ... "kenapa saya MESTI kembali"-zZZZZ

jadi bahasan kali ini, sesuai ke absurd-tan yang ada di atas jengjereeeng "KENAPA MESTI KENAPA?. dan untuk mengetahui makna dari judul yang sudah tercantum? akan saya beri beberapa contoh "kenapa" yang ada di hidup saya.

Sebelumnya nih ya saya tanya dulu kepada saya. menurut saya apasih kenapa itu?
baiklah, akan saya jawab, jadi menurut saya, kenapa itu adalah kata yang di awali dengan huruf k dan di akhiri huruf a yang yang terdiri dari 6 huruf abjad, yaitu K-E-N-A-P-A. -oke meg, jawaban iku enak ee di cetak njur gae ganjelan mejo. sadar meg iku ra mutu..

sadar~

jadi ya, kenapa itu kan sebuah kata untuk membentuk kalimat tanya kan yaa. dan kenapa saya milih tanya kenapa ? karena barusan saya mengkenapakan diri saya milih kenapa, nah, begitu maksudnya....
kenapa itu menurut saya kata tanya yang paling spsesial, meski kenapa sejenis dengan mengapa , tapi kalo menurut saya tetep hidup saya lebih akrab sama kenapa di banding mengapa. soalnya, temen atau siapapun akan lebih mungkin nanya "kenapa sih kamu?" di banding "mengapa sih kamu?" karena saya juga akan lebih memilih jawab, "gak kenapa2 kali.. santi aja.." di banding. "ah, tak mengapa.. kau tak usah mengkhawatirkanku.." ya seperti itulaaah...

dan dari segi cara menjawabnya tanya 'kenapa' itu sendiri, saya sudah mengelompokkannya menjadi dua, yaitu jawaban kenapa di lilihat dari tingkat kegaulannya dan  kejujurannya..
jika di lihat dari tingkat kegaulan. ini akan saya beri contoh, pertanyaan yang sama telah di tanyakan pada D G dan O dan berikut jawaban mereka...

pertanyaan   :  kenapa kian santang bisa terbang??

D  : yaelaah, itu cuma di serial drama kali ...       (TIDAK GAUL)
G  : karena kian santang itu.... kian santang...     (GAUL)
O  : karena kian santang temenan sama si elang  (GAUL BANGET)


dan jika di lihat dari tingkat kejujurannya, jadinya begini.

pertanyaan   : sayaaang, kenapa kamu mutusin aku???

A  : karenaa... kamu terlalu baik buat aku.  (SANGAT TIDAK JUJUR)
B  : karenaa... aku mau fokus belajar (TIDAK JUJUR) -seminggu dari itu, berpacaran dengan COWOK LAIN. karena niat yang sebenarnya adalah "karenaa... aku mau fokus CARI COWOK BARU..
C  : karenaa... aku capek pacaran sama kamu, capek kamu marah-marahin, capek mesti ngalah terus dan cuma di manfaatin. (JUJUR) dan jleb.
D  : karenaa... selingkuhanku gak mau terus-terusan di duain (JUJUR BANGET)

dan juga ada kategori kenapa yang gak ada jawaban, karena kadang memang dari kita masing-masing, kita gak punya alasan, buat ngelakuin something, karena memang kayak ngalir gitu aja. dan kebanyakan kenapa di hidup saya tidak memliki jawaban, hidup saya absurd, dan semua jawaban absurd. semua yang saya lakuin gak pernah ada alasan. ya begitulah.. intinya saya absurd. dan itu kongkrit. sebenarnya saya bingung sama hidup saya.


KENAPA KENAPA-NYA SAYA.

Tanya kenapa yang mungkin menjadi dasar setiap orang yang ada di dunia ini, KENAPA SAYA TERLAHIR MENJADI SAYA?
gimana? pernah nanyain itu ke diri sendiri atau.. karena kamu sangking gaulnya pernah nanya ke orang lain.
simpel banget sebenernya buat jawab pertanyaan itu. kenapa saya terlahir menjadi saya? karena saya tidak terlahir menjadi luna maya. begitu pula untuk menjawab pertanyaan kenapa yang lain.

kenapa hidup saya begini?
karena hidup saya tidak begitu

kenapa saya menderita?
karena saya tidak belum bahagia.

kenapa telur angsa besar-besar?
karena kalo kecil-kecil itu telurnya kaum hawa burung puyuh.


TAPI, andai semua tanya kenapa bisa di jawab dengan sesimpel itu dan selalu bisa di terima. KENYATAANNYA kan tidak, selama ini tanya kenapa itu maunya harus di jawab benar, serba masuk akal, dan harus pasti. dan buat orang yang nuntut hal-hal yang kayak gitu, saya tanya deh, memang gak pernah ngelakuin sesuatu yang alasannya gak normal, abstrak. dan apa yang kalian lakuin kalo alasan abstrak kalian itu di tanyai kenapa? kalian bisa jawab?
kita meski ngakuin dong, kadang kita ngelakuin sesuatu itu tanpa alasan, kayak cinta kan?.
jadi kesimpulannya kenapa mesti kenapa itu karena cinta. TIDAK TIDAK-______-

tuh kan, tulisan ini belum menemukan ujung. padahal ini kan sudah tiba masanya.. oke langsung ke inti maksud dan tujuan. sebenernya kenapa bisa tercetus judul tersebut karena itu cara alus dari otak bulus saya untuk menjelaskan kenapa saya baru muncul sekarang?

well, kenapa di buat skenario yang seperti ini, biar kesannya saya gak keliatan kePDan seolah-olah bakal penting gitu buat kalian tau alasan saya kenapa baru kembali dari dunia absurd saya yang suram. padahal gimana pun bentuk nya tetep keliatan bulusnya. soalnya barusan saya ngaku, lalu buat apa adanya skenario bulus. dasar BULUS lo meg.

udah deh lah~

jadi, saya ulang lagi pertanyaannya kenapa saya mesti baru kembali?
jawaban : karena saya kayak ikan yang berusaha tinggal di darat.-lo kan tadi bulus meg <-- IKLAN -___-
ya gak akan bisa kan ya, ikan di darat, sama kayak saya, anggep nulis ini sebagai airnya, air dunianya ikan, dan hilangnya saya selama ini, anggep aja si ikan lagi ke darat, saya lagi mencari something lain buat dicoba. tapi ikan gakbisa nyesuaiin daratan, akhirnya dia butuh air juga buat ngelanjutin hidup nya, ngerasain suka duka jadi ikan. ikan yang dunianya air, bukan darat.
jadi seperti itu. entah penjelasan itu memperjelas apa membuat kalian harus di bawa ke ICU. tapi memang saya gakbisa njelasin nya lebih baik lagi dari itu.
jadi tulisan ini, kayak di tekenin sama si ikan, kalo ikan itu di air, kalo dunia saya itu tulis menulis. MUNGKIN, mulai dari sini saya akan lebih konsisten dengan dunia ini, lebih setia kayak yang di butuhin cinta. 
yang mungkin selama ini saya mikir nya setiap nulis itu rasanya takut ini lah, takut itulah. tapi saya kayak baru sadar, ini tulisan saya, suka gak nya orang sama tulisan saya itu hak mereka masing-masing, saya coab tekanin di hati tujuan tulisan saya untuk pemenuhan hasrat batin saya, kalo pun orang suka, itu tambahan kebahagiaan dari Allah, kalo pun enggak, hidup memang harus gitu, harus ada seneng dan gak senengnya. berarti buat bukti kan, kalo hidup saya normal. bisa seneng dan bisa gak seneng.
saya tulis apa yang rasanya pengen saya tulis, dan oya, kalo selama ini saya juga takut2 gitu kalo semisal exBF, gebetan atau siapapun lihat tulisan saya yang kadang bikin ilfeel dunia persilatan, sekarang saya udah gak peduli. saya cuma mau jadi apa adanya aja sih. lagian selain GAK BUTUH ALASAN dan BUTUH SETIA, cinta kan butuh TERIMA APAADANYA. anggap saya lagi nunjukkin sisi2 yang mungkin kalian selama ini gak tau, mau tetep maju atau mundur nya kalian, bukan urusan saya gitu lhooo...


oke jadi itu, perbincangan termutu yang pernah saya lakukan. soal jawaban dari judul KENAPA MESTI KENAPA?
itu sama artinya kenapa mega terlahir seperti ini?
kenapa okta nyeblak banget kalo ngomong?
kenapa tini hobby banget negepo orang yang sama sekali bukan urusannya?
kenapa kentut itu di namain kentut?
kenapa kalo belok kanan itu kita mbelok kanan?
atau kenapa kenapa lain....

udah di bilang kan di tengah2 tadi, gak selamanya kenapa itu ada jawaban, ada alasan, karena kadang itu memang ngalir gitu aja, nyampe kadang kita gak sadar itu terjadi di diri kita, dan tiba-tiba hadir tanya kenapa dari diri kita or dari orang lain. coba ngertiin diri kita dulu guys, kenapain diri kita baru kenapain orang lain.

oke. ini selesai. makasih udah nyempetin waktu buat baca ini. aku lagi UAS dan nurul teman kami ulang tahun. minta do'anya untuk semua :D byeee...

Selasa, 19 Maret 2013

mear diary : spesial untuk kalian (A3)

males berkata kata langsung aja jadinya...


yang ingin memiliki di izinkan untuk mendownload kok :)) love love buat kalian semua ({})

Senin, 28 Januari 2013

mear diary : Gue ulang tahun, 2 hari yang lalu.

oke guys udah pada tau gue ulang tahun, 2 hari kemarin iya 2 hari kemarin. 26 januari 2013 dan ini yang ke 19. cukup tau bentar lagi mau jadi 20 dan gue masih gini-gini aja, oke bakal banyak target yang mesti di capai ternyata. dan itu apa aja. itu urusan gue, lo ngapa tanya-tanyaa ha? *cukup me dari tadi juga gak da yang tanya..

oke dah. dan pada tau gaaaakkk? ternyata banyak hal spesial yang luar biasa di balik tanggil lahir gue di tahun 2013 ini. gue aja nyampe gak nyangka. yaAllah, saya tidak menyangka yaAllah, TIDAK MENYANGKA< -ekhem- yuk lanjut ....
1. tanggal 26 januari 2013. bersamaan dengan gue OSCA di kampus. gue tau banget nih, ini akal bulusnya kampus gue aja. mereka tau kan gue ulang tahun di tanggal itu, dan mereka pengen ngasih gue sesuatu yang spesial karena mereka secara diam-diam tau kalo gue mahasiswa paling kece di situ, dan ya finally mereka sengaja menjadwalkan OSCA pada hari itu, terus ngasih gue nilai yang kece-kece banget. supaya gue seneng dan mereka gak perlu repot-repot ngasih kado lain. dan yaa, mereka berhasil dengan kebulusan mereka.
tapi liat dulu, di balik nilai yang -ekhem-lumayan ada cobaan di baliknya, bagi udang di balik batu-sebenarnya mereka tidak ada hubungannya dengan cobaan gue-.
cobaan : kunci motor kebawa mas romi pergi dan gue gaktau, hingga akhirnya gue dengan meraung-raung mencari di setiap sudut rumahku. dan finally kamarku...

gak nyangka? lagi nangis masih kepikiran ngambil foto juga :'))

2. tanggal 26 januari 2013. hari sabtu, dan itu hari sabtu terakhir di bulan januari, haha maksudnya njurus ke malem minggu terakhir di januari gitu. secara gak langsung hari lahir gue membawa kebahagiaan bagi orang yang memiliki pacar. inget ya yang PUNYA pacar. hahaha tapi tenang buat para jombloers semua, ini sebagai bukti, gue, lo, dia, kita, mereka, bahagia-bahagia aja tuuuhhh di malem ini, ada dan gak ada pacar. yeegaak? :D dan itu haru gara-gara ulang tahun gue. titik.
3. tanggal 26 januari 2013. siti nurjanah anak nya si nassar-muzdalifah KETEMU guys, gue ga ngerti apa maksudnya yang jelas ini gak nyambung.
4. tanggal 26 januari 2013. pengunjung blog gue mencapai 122. dan yaaa, itu pengunjung tertinggi dalam 1 hari . haha

banyak harapan di umur 19 tahun ini. semoga tercapai amin yaAllah..
dan oya, segala ucapan terimakasih saya tujukan kepada kedua orang tua saya yang telah melahirkan saya pada tanggal seberuntung 26 januari 1994, terimakasih sama mas romi buat kuenya, terimakasih sama mas oba udah setia menyueki ku :') bajunya dari mas oba, aku suka banget :D, terimakasih buat okta, monica, naning, tini dan tika, yang memberi surprise namun kebaca gerak-geriknya oleh ku hahaha. makasih buat my best friend in the SMA dulu (cium ah :*) , terimakasih buat sahabat-sahabat di kampung aku juga. buat ex haha, buat brondong2 haha, aku gila. -_- terimakasih buat semua temen Fb juga, temen twitter, temen jejaring sosial semua lah pokoknyaaaaa....
terimakasih semuanya atas ucapannya,  do'a-do'anya, semoga di kabulin Allah . amiiiiinnnnn. :')

dan yaaa ini dokumentasi nyaaaaa....

dari mas oba lochhhh ;*

yeee!! kue dari mas romi tersayang :*

surprise yang terbaca ha to the ha, HAHA!
potong kue :D

makan-makan dong di jeJamuran :D selamat menikmati ..

memonta dengan jamur-jamur haha :*

dan terakhir.... jadi sebelum lihat foto ini ya guys, gue cerita dulu boleh?. jadi, tadi abis makan di jeJamuran, ngumpul lagi di rumah gue dan berencana mau pergi lagi gitu, gue gak ada motor, dan gue memutuskan nebeng setelah ganti baju sebelumnya. di karenakan pake baju dari mas oba ternyata panasnya luar biasa jika di paki di siang bolong. -_-"
tapi di saat gue udah nangkring di motor. gue mikir dengan otak gue yang udah karatan ini, lha gue sih kenapa mau ikut? gak ada motor juga, memang gue mau kemana sih? memang gue punya tujuan? tujuan hidup aja gue gak punya kan? terus kalo gue gak ada tujuan gue ngapa ikut? gue pulang ntar sama siapa? gue gak cukup tega ngerepotin okta buat jauh-jauh nganterin gue.. dan ya blah blah blah setereusnya --"
dan intinya gak jadi ikut. tapi karena gue gak pengen merasa di rugiin karena sudah repot-repot ganti baju, dan mengotori baju gue akhirnya tercipta foto ini, foto gue berumur 19 tahun 2 hari, selamat melihat guys :D


merekalah si alay dari jembatan ancol. . . 

baiklah, akhir kata terima kasih buat semuanyaaa, love you  :)) dan GWS buat @amalyalio ({})