Selasa, 03 April 2012

Kamu Untuk Aku (part 5)

Upacara rutin tiap hari senin, selesai di laksanakan. Shilla segera berlari cepat menuju kelasnya, memanfaatkan waktu dan kesempatan sedikit apapun untuk menyalin PR fisika yang akan berlangsung pada jam pertama, yang akan di mulai 15 menit lagi. yang memang belum sempat ia kerjakan semalam karena sudah terlalu malam sampai di rumah dan dia terlalu letih untuk mengerjakan soal fisika yang walau hanya 5 butir itu.

“aduh, 5 menit lagi... mana baru nulis 2 nomor lagi ...”

“ishh, nih soal satu! jawabannya kayak kereta deh..”

“ini gimana juga cara nya? masa’ gue gak ngerti, tapi nulis-nulis aja...”

“semoga pak teguh dapet panggilan alam di saat dalam perjalanan kesini, ya Allah...”

Kurang lebih begitu gerutuan2 shilla di acara manyalinnya. Dalam hati shilla bersyukur punya teman sebaik agni yang sudah berbaik hati bersedia membagi jawaban padanya dan terus memotivasi dirinya untuk tetap semangat menyalin PR meski sempat tertawa sesekali mendengar ocehan tidak jelas dari mulutnya.

“pak teguh, istri lo noh mau ngelahirin...” shilla kembali melontarkan kalimat yang kali ini membuat beberapa temannya yangmendengar terkikik geli.

“GAK BISA sambil diem ya nyalinnya!” suara itu terdengar tak seperti biasanya. Kali ini ketus dan sangat tidak bersahabat. Mau tidak mau membuat shilla dan agni dengan cepat menoleh ke belakang, menghadap asal suara.

“apaan deh cakk, nyante aja.. kayak gatau shilla kalo lagi panic aja lo.. ” agni yang menanggapi, karena shilla masih ternganga yang –mungkin- karena masih kurang percaya dengan yang sedang terjadi.

“kamu.. kalo gak mau panic gini. Kerjain tuh PR di rumah kemaren!, gak malah pergi sama dokter ke pasar malam!!” dan percayalah, ini ucapan –paling- tidak ramah yang pernah shilla dengar dari mulut cakka. Dan sekalinya dia dengar, ucapan pedas itu untuknya. Dan sangking pedasnya, sekali mendengar, shilla sudah langsung berada di tingkat emosi tertingginya.

“dan... kamu cakka.. kalo kamu gak suka liat aku NYONTEK. omongin terang-terangan! Gak usah bawa- bawa kak gabriel.” Shilla berucap kental dengan emosi, berucap dengan datar dengan tatapan tajam menatap tepat bola hitam mata cakka.

Tatap saling tatap itu tak bertahan lama, karena detik selanjutnya shilla segera mengalihkan pandangan kembali ke depan karena beberapa saat lalu pak teguh sudah memasuki ruangan dengan wajah bringas khas guru killer.

“nih, buku lo ag. Gue gak usah ngumpul. Tapi, makasih kamu udah baik hati minjemin Pr lo. “ shilla berucap tanpa memandang agni yang tengah menatap prihatin ke arahnya. untuk memikirkan shilla di bentak-bentak pak teguh saja agni sudah tak tega apalagi sebentar lagi dia akan menyaksikannya. Belum lagi hukuman yang akan di berikan oleh pak teguh untuk anak-anak yang menurutnya meremehkannya jika tak mengerjakan PR.

“tapi shill...”

“gak apa ag, tenang aja...” kali ini shilla menghadap ke samping kirinya, menatap agni. mencoba meyakinkan kalo dirinya baik-baik saja -meski sebenarnya dirinya pun tak yakin- dengan memberi senyum sebisanya.

“SIAPA YANG TIDAK MENGERJAKAN PR?” suara horror pak teguh menggelegar hebat mengisi ruangan XI IPA 2 yang membuat para siswa seketika ketar-ketir mengeluarkan buku fisika mereka yang sengaja di sampul serapi mungkin untuk memenuhi keinginan pak teguh dari dalam tas masing-masing. beda yang di lakukan dengan shilla, dia berdiri dengan menunduk.

Dan berdirinya shilla, mau tak mau Membuat pemuda jangkung yang duduk tepat di belakang shilla yang –mungkin- salah satu alasan membuat shilla nekad mengakui kesalahannya, merasa lebih bersalah lagi. Dia sudah merasa bersalah ketika dengan tiba-tiba membentak shilla tanpa alasan. Tambah bersalah lagi, ketika samar-samar mendengar shilla berucap pada agni bahwa dia tidak akan mengumpul PR pak teguh. Dan sakarang semakin sangat amat tambah bersalah, melihat gadis itu nekad berdiri dengan wajah yang sudah pucat pasi begitu,

“OW, JADI KAMU ASHILLA. SILAHKAN MAJU!!” shilla tanpa menunggu perintah kedua kalinya segera melangkahkan kaki nya mendekati guru yang hobby memelintir kumis tebal kebanggaannya itu.

Dan detik berikutnya, pak teguh sudah berkoar-koar pada shilla yang hanya bisa menunduk tak berani menatap guru killer di hadapannya. Dan itu membuat agni, semakin iba dengan kisah buruk teman sebangkunya yang menjadi korban guru yang tak pernah di fikirkan dulu akan dampak dari ucapannya itu. tak beda jauh yang difikirkan agni, cakka pun memikirkan hal yang sama. Di tambah lagi dengan beban merasa bersalahnya.

Shilla melangkah perlahan keluar kelas, masih dengan wajah pucat dan keringat yang terus mengaliri pelipisnya. Kali ini ia akan menjalankan siksaan pak teguh  selanjutnya. Berdiri di depan kelas dengan kaki di angkat satu, dan kedua tangan memegangi telianga, hukuman zaman dulu.

Hilangnya shilla di balik pintu membuat agni tersadar akan sesuatu, ia segera menoleh kembali ke teman prianya, cakka. “jelasin ke gue cakk?”

Meski suara agni hanya sekedar suara bisikan, namun bisa terdengar cakka yang masih sibuk merutuki dirinya sendiri. “sorry ag, gue juga gak tau kenapa gue bisa kelepasan gitu. Gue.... lagi.... banyak pikiran..” cakka menghela nafas di akhir kalimatnya. Tak yakin dengan alasan yang ia lontarkan pada agni, dia banyak pikiran? Memang yang sedang ia pikirkan apa?.

“tapi ini tetep salah lo cakk....”

“iya gue pasti minta maaf, ag. pasti!!” cakka memotong cepat, dengan kesungguhan di tiap nada kalimat yang ia ucapkan. Membuat agni, segera mengangguk mempercayai kesungguhan cakka dan menyetujuinya.

“EKHEM... AGNI, CAKKA, SUDAH SELESAI BELUM PACARANNYA.. APA MAU NYUSUL TEMENNYA?”

“saya mau pak..”

“SILAHKAN KELUAR CAKKA...”

cakka segera melangkah cepat keluar kelas dengan ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan siswa kena hukuman pada umumnya. Dan itu membuat agni dan juga seluruh teman kelasnya,... sempat heran sebelumnya “gila aja di tawarin hukuman langsung mau?”


*


“Maafin gue...” shilla segera menoleh ke asal suara yang saat ini tengah melakukan posisi yang sama dengan dirinya. Dan itu membuat shilla tertawa, sungguh berbeda jauh dengan apa yang di pikirkan si pemilik suara sebelumnya.

“ngapain ketua OSIS, pose jelek gitu...” shilla menanggapi dengan terkikik melihat tampang dan pose bodoh yang mestinya tak akan di lakukan oleh seorang ketua OSIS.

Ketua OSIS yang di maksud shilla, yang tak lain dan tak bukan adalah cakka ternganga mendapati teman kentalnya yang harusnya saat ini marah seperti sebelumnya sudah berucap padanya dengan nada bayolan seperti biasanya. Tapi cakka belum lega..”maafin gue...”

Shilla tersenyum sekilas sebelum akhirnya menjawab,”nyantai kali kka, kita udah temenan juga gak sebentar, gue gak mau ngelakuin hal bodoh, bikin masalah Cuma gara-gara masalah sepele gitu..”

Senyum cakka seketika berkembang, “thanks ndut, tumben dewasa..”

Lalu keduanya tertawa, sudah kembali dengan suasana persahabatan hangat yang mengikat mereka 10 tahun ini.

“CAKKA SEBENARNYA KAMU MAUNYA AGNI APA SHILLA?..” pak teguh berujar keras dari dalam kelas merasakan keributan kecil yang di hasilkan 2 anak didiknya yang sedang melaksanakan hukuman darinya.

“DUA-DUANYA PAK.. “ cakka  menyahut tak kalah kencang, yang membuat shilla dan dirinya tertawa. Tanpa kecuali teman-teman yang tengah berkerja keras memutar otak 2 jam bersama teguh.


***



Jam 3 sore. Di taman biasa. Rio masih ingat betul janji yang dia buat dengan gadis kucel yang mengaku namanya shilla itu. shilla? kebagusan tuh nama buat dia, gak sesuai sama orangnya. Bagusan juga monyet. Lebih menjiwai karakter. Haha. Rio berfikir sendiri lalu tertawa sendiri. Sembari menunggu gadis yang baru saja dia fikirkan. Hei, tunggu dulu. Sejak kapan seorang mario menunggu, yang ada biasanya juga dia yang di tunggu. Gak bisa di biarin.

Rio setelah berfikir keras apa yang akan di lakukan untuk tak jadi penunggu di janji ketemuan mereka itu, akhirnya mengambil tindakan yang menurutnya tepat. Rio segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan bangku taman yang beberapa hari lalu dia duduki dengan shilla. dia terus berjalan, dan setelah menemukan pohon yang kiranya tepat untuk rencananya. Rio segera berdiri di balik pohon itu agar tak terlihat dari bangku yang sempat ia duduki tadi. Dan dia akan muncul jika gadis yang ia tunggui sudah muncul di tempat yang sudah di janjikan. Meski ini namanya tetap dia yang menunggu, tapi setidaknya dia tak menunggu secara gamblang. Dia tak mau menunggu, titik.


*


Shilla menghampiri bangku taman di salah satu taman yang akhir-akhir ini lebih kerap ia kunjungi, lalu segera duduk dengan pandangan beredar mengelilingi taman yang sore itu cukup banyak pengunjung. ia Sedang Mencari, siapa lagi kalo bukan pemuda sengak yang membuat janji padanya. “atau jangan-jangan, rio ngerjain gue, tuh anak kan iblis banget otaknya.. aduh shilla! bego banget, bisa gak kepikiran.”

Tapi detik berikutnya pikiran shilla berubah, tak lagi memikirkan kalo dirinya sedang di kerjai. Karena orang yang membuat janji padanya sudah muncul, dengan tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya tepat di samping kiri shilla.

“mau apa lo dari gue..?” kalimat ketus nan menyebalkan segera shilla lontarkan, kalo untuk pria sombong begini mah gak perlu basa-basi. Pikir shilla sebal.

Yang langsung oleh rio di sambut dengan tatapan tajam . “nih cewek nyebelin banget, sumpah...!! gak nyesel gue udah nyiapin kerjaan yang super sadis buat die..!”

Shilla mulai merasakan hawa tidak enak, saat rio mengeluarkan tatapan menyebalkannya. Semakin merasakan hal tidak enak, ketika pria di sampingnya dengan kasar mengobrak-abrik tas bermerknya tanpa sebelumnya menjawab tanya yang ia lontarkan. Dan meski ia tidak mengerti dengan 2 buku yang di lempar oleh rio padanya, dia sudah merasa lebih tidak enak.

“guru gue ngasih tugas buat ngumpul catatan sejarah....”

“ya tinggal kumpul aja kan...” shilla memotong cepat dengan nada ketus dan raut muka yang sudah menunjukkan kekesalan.

Dan rio tersenyum sinis mendapati shilla memotong kalimatnya dengan ucapan mudah seperti tak mengetahui jalan pikiran liciknya.”mau gue juga gitu, tapi sayangnya.... gue gak pernah nyatet materi sejarah.... dan gue pikir lo udah ngerti tujuan omongan gue..”

Shilla sudah melongo dengan wajah pasrah kali ini. Lalu menatap dua buku yang ada di pangkuannya dengan nanar.

“tulis yang rapi ya..” suara bariton tanpa beban itu sangat berhasil membuat shilla mengepalkan tangan geram. Siap kapan saja untuk menghantam pipi mulus terawat pemuda di sampingnya “...atau kamu gak tau terima kasih.”

“STOP!!... berhenti ngomong atau gak gue tulisin...” shilla memotong kembali, kali ini dengan amarah yang tertahan. Dan rio, dengan santai nya mengangkat bahunya acuh tak acuh mendapati gadis di depan nya sudah marah besar.

***



Ify menekan beberapa kali tlakson jazz birunya, lalu baru pada tlaksonan ketiga salah satu pembantunya membukakan pintu gerbang tinggi rumahnya. Setelah melewati halaman kecil rumahnya, ify segera memasukkan mobil nya ke garasi besar yang bisa memuat sampai 5 mobil itu.

“ck, itu ngapa mobil orang2 ada di rumah?” ify berucap malas, mendapati mobil freed hitam dan avanza hitam sudah terlebih dahulu ada di garasi mobil keluarganya.

Dan benar saja, yang membuat malas hanya sekedar memikirkan nya ternyata sudah terjadi hebat di dalam rumahnya. Pertengkaran.

“KAN SUDAH SAYA BILANG DANU ITU REKAN BISNIS SAYA, GAK LEBIH DARI ITU....” suara mama ify yang pertama kali mengisi gendang telinga ify yang tengah melepas sepatu converse nya di ruang tamu.

“HALAH, MUNAFIK KAMU. KALO HANYA REKAN BISNIS BIASA, TIDAK MUNGKIN KALIAN SAMPAI BERMALAM DI HOTEL BERSAMA...” yang selanjutnya ify dengar suara berat penuh wibawa milik papanya.

“KAMU GAK USAH KURANG AJAR WIN, KAMU PIKIR SAYA WANITA APA?...”

“KAMU ITU.... GAK LEBIH DARI WANITA MURAHAN...”

“BERISIK WOI..” ify yang sudah tidak tahan dengan kegiatan rutin orang tuanya itu, dengan segera mendekati lokasi pertengkaran yang mau tidak mau membuat sarah-ibu ify- mengatupkan kembali mulutnya yang sudah bersiap untuk kembali membuka suara.”KALO KALIAN PULANG CUMA BUAT BERANTEM. GAK USAH PULANG SEKALIAN.... ORANG TUA SIALAN!!!”

“PLAAAAKKK!!!” tamparan keras mendarat cepat di pipi kiri ify, membuat pipi ify dengan cepat memerah.

Setelah di awali tertawa hambar sebelumnya, ify berujar datar.”haha, gue di tampar, lo gak mau bunuh gue sekalian?” lalu menatap tajam mamanya yang sudah mengepalkan kedua tangannya murka.

“KAMU, ANAK GAK TAU DI UNTUNG YA!!”

“MASIH NGAKUIN GUE ANAK LO!!!”

“DIAM KAMU!!!”

“DIAM?... SAYA DIAM KALO KALIAN DIAM!!! DAN KALIAN ITU GAK BISA DIAM!!!.... KALIAN ITU!! KALO GAK ADA KERJAAN LAIN SELAIN BERANTEM, CERAI AJA SANA!!! BUNUH-BUNUHAN SEKALIAN!!”

Baru tangan sarah melayang di udara untuk menampar anak tunggalnya kembali, tangan itu segera di cekal erwin yang sedari tadi hanya diam menyaksikan pertengkaran antara istrinya dan anaknya. Membuka suara, “ify, kamu masuk kamarmu sebentar nak, mama sama papa lagi ada yang ingin di selesaikan.”

“gue gak peduli... gue gak butuh penjelasan..” ify kali ini menatap papanya dengan tatapan sinis penuh kerapuhan. Lalu segera melangkah gontai menaiki tangga menuju kamarnya. “PANGGIL GUE KALO UDAH ADA YANG MATI..!!” ucap ify keras dengan airmata yang dengan cepat jatuh dari matanya.

“ANAK KURANG AJAR!!! LIAT ITU.... HASIL DIDIKAN KAMU... LIAT!!!.. DASAR LAKI-LAKI GAK BECUS..” suara keras mama ify adalah suara yang terakhir ify dengar sebelum memasuki kamarnya yang berada di ujung lantai dua.



***


“nyet, tulisan lo jelek banget sih, kasian buku gue...”

“nyet masa’ udah dari tadi, lo nulisnya baru nyampe segitu, mau selesai kapan coba!! Lemot..”

“rapiin dikit sih...”

“kok diem aja sih nyet, dari tadi di ajak cowok ganteng ngomong juga!!!”

Rio tak hentinya berucap ketus dengan susunan kalimat yang hampir sama, ‘ngejleb’ banget di hati shilla. dan shilla, saat rio berucap akan menatap sinis rio sebentar, dan rio membalas nya dengan tatapan yang tak kalah sinis. Lalu di lanjutkan dengan membatin, “sabar shilla, anggap pria ini tak ada dan suara menyebalkan itu suara jangkrik..” setelah membantin menyabarkan diri, shilla akan menghela nafas panjang dan tanpa membalas ucapan ketus rio dia akan kembali melanjutkan kegiatan menulis nya.

“ah, nyet, gue garing..” rio berucap prustasi, mendapati shilla yang tak bergeming sedikit pun dengan ucapan pedasnya, yang tak seperti biasanya akan melawan dengan tak kalah pedas.

“nyet!, apa!.. susahnya ngomong?...” rio masih tetap berusaha membentuk pertengkaran dengan shilla. Dia tak tahan untuk tak berbicara di dekat gadis ini. Berbeda sekali dengan ia biasanya, yang tak sudi mengeluarkan sedikit pun suaranya bahkan hal penting sekalipun jika itu di depan umum.

“aku gak punya pulsa..?” jawab shilla datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari deretan tulisan catatan sejarah yang entah kenapa tak ada habisnya. Dia menjawab itu hanya sekedar mengikuti trand iklan yang tengah buming.

“haha, bego lo. Ngomong begini mah gak perlu pulsa. Sms sama nelfon noh butuh pulsa.. ketara banget kalo gak pernah mainan HP..” rio terbahak sendiri setelah menyelesaikan ucapannya. Entah dari segi mananya yang lucu, hingga membuatnya tertawa berbahak seperti begitu. Yang membuat shilla semakin tak tahan untuk tidak merealisasikan emosinya. “pas diem, di suruh ngomong. Pas udah ngomng di bilang goblok. Di hina lagi. Ngajak tawur banget ni orang..”

Lalu keadaan selanjutnya hening, rio yang memang sudah kehabisan bahan omongan memutuskan untuk berkencan dengan PSP terbarunya. Dan Shilla yang memang terlalu sibuk menulis, begitu menikmati masa masa hening tanpa ucapan bengis rio. Dan tak ada keinginan sedikit pun untuk membentuk percakapan. Atau lebih tepatnya pertengkaran. Kecuali, jika suara nya di perlukan.

“gue gak sanggup nih,,?” dan akhirnya si manusia berjenis kelamin perempuan-shilla- yang memecah keheningan, membuat rio segera menoleh dengan menyerengitkan dahi tak mengerti arah pembicaraan gadis yang sudah terlihat prustasi di sampingnya.”gue gak mungkin bisa nyelesaiin ini sekarang...”

Rio mengangguk-ngangguk mulai mengerti, lalu dengan tanpa beban hanya sekedar mengangkat bahu tak mau tau. Lalu kembali berkutik dengan PSP yang setia setiap saat ada di tasnya. Shilla menghela nafas menahan emosi dengan respon yang di tunjukkan rio. Tampak tak peduli.

“gue bawa pulang aja gimana?” shilla berucap sudah dengan muka memelas. dan rio mengangguk-ngangguk saja tanpa melihat shilla, masih tetap sibuk dengan PSPnya.”ngangguk-ngangguk maksudnya setuju lo?” rio kembali mengangguk-ngangguk.”RIO!!!... “kali ini rio tak mengangguk-ngangguk menanggapinya, tapi kali ini ia melotot kearah shilla, pasalnya PSP yang sedang ia mainkan di rebut paksa shilla.

“balikin...” setelah ada pertengkaran kecil merebutkan PSP, akhirnya PSP telah kembali pada rio, tapi yang di tampilkan layar PSPnya tak kembali seperti tadi, jika tadi 2 orang yang tengah saling berkelahi, kali ini yang tertera di layar psp rio adalah tulisan besar berwarna merah cerah “GAME OVER”, “kalah kan gue, lo sih...!!”

“ya terserah, makanya ada orang nanya tuh di jawab!!!”

“ck, memang nanya apa sih lo?”

“tuh kan, gue nanya aja gak sadar. Gue nanya... kalo tugas lo mau selesai, gue bawa pulang aja gimana?

“terserah..” jawab rio yang sebenarnya akan menambahkan beberapa kata lagi, tapi mengurungkan niatnya karena merasakan getaran halus di saku jeansnya.

“terus gue mulangin ke lo nya gimana?”

Bukannya menjawab rio malah senyum-senyum sendiri menatapi isi pesan dari kepala pelayan di rumaahnya-pak kiki- “gue mau pulang...”

“ha? Buku lo?...”

“ck, anter ke sekolah gue hari rabu. Pelajaran sejarah abis istirahat pertama...” rio mengeluarkan kartu pelajarnya dari dalam dompet kulit miliknya. “bawa nih kartu pelajar gue, biar lo bisa masuk.” Usai rio bicara dengan ketus dan terburu, Rio segera dengan lari kecil meninggalkan taman menuju bmw merahnya dengan tampang bahagia. Dia bahagia, Selain karena isi pesan dari pak kiki. Alasan lainnya, faktanya efek mengerjai gadis kucel yang saat ini tengah ternganga dengan tampang bodoh biasa itu juga masih membuat hatinya bahagia.

Shilla mengamati punggung tegap rio dengan tatapan letih dan amarah. “anak president lo??” pikirnya kesal. Dan kini menatap 2 buku yang 1 jam tadi bercengkrama dengannya, lalu beralih menatap kartu pelajar pemuda berotak iblis pembawa kesialan baginya. Mario stevano aditya haling.


***

Rumah mewah dominasi warna merah hitam milik keluarga haling, Nampak berbeda hari ini. Pelayan dengan seragam hitamputih yang jumlahnya mencapai puluhan itu terlihat lebih sibuk dan lebih rapi dari biasanya. Segalanya telah di persiapkan seapik mungkin, agar tak ada kesalahan sekecil apapun.
''ayo kerja yang cepat!!! Waktu semakin mepet!!!''
''gesit dan tetap teliti!!!''
''jangan sampai ada cela!!''
suara pak kiki sebagai kepala pelayan yang lebih dominan di rumah besar tingkat lima sore itu.
''pak kiki, tuan mario sudah datang..'' salah satu pelayan melapor dengan hormat pada kiki yang tengah sibuk mengatur segala keperluan, dan laporan itu membuat kiki segera berjalan mendekati pintu masuk utama rumah besar nan megah milik haling corcopation.
Kiki menunduk dalam, menciptakan suasana hormat sehormat hormatnya pada putra tunggal majikannnya, yang sore itu terlihat lebih tampan dengan senyum yang tak biasa. ''selamat sore tuan mario..''
rio tersenyum ramah, meski tipis. Tak bermaksud menjawab ia segera mengajukan tanya.''sudah di siapkan semuanya??..''
''sudah tuan!" kiki menjawab dengan jawaban pasti yang di sertai senyum ramah lalu kembali menunduk hormat.
''good, kalau begitu saya bersiap terlebih dahulu.''
''baik tuan... Panggil saya atau yang lain jika tuan memerlukan sesuatu.''
''iya.." jawab rio singkat lalu segera berjalan angkuh memasuki lift yang tersedia di istana besarnya, di ikuti kedua pelayan yang sudah membawakan tas dan jacket bermerk yang tadi ia kenakan.
Sebelum Rio benar-benar hilang di telan lift, dia menahan pintu lift yang tertutup otomatis. Dan itu membuat pintu lift kontan kembali terbuka, lalu rio berucap yang sekali pun tak pernah terlintas di benak para pelayan yang dengan giat bekerja di istana besar haling.''semangat semuanya!!'' ucap rio yang di akhiri dengan senyum garing yang membuat seluruh pelayan yang melihatnya ternganga lebar dengan ekspresi tak menyangka.
Senyum rio tak kunjung hilang dari bibir merahnya. Dia baru sadar, baru saja ia melakukan tindakan bodoh yang wajar saja membuat para pelayannya menganga tak percaya. Entahlah,dia hanya ingin saja berucap seperti itu atau mungkin pikirannya sudah terkontaminasi virus bodoh yang di tularkan oleh manusia langka yang ia temui beberapa jam lalu. Shilla. Ah, kenapa jadi kepikiran monyet bodoh itu.


*



Pukul 8 malam. Waktu yang sudah di janjikan pengirim pesan singkat kepada kiki. Yang harusnya sudah berada di ruang makan mewah bersama putra tunggal haling yang kini sudah duduk manis dengan setelan jas abu yang khusus di siapkan untuk makan malam yang jarang terjadi seperti ini.

Tapi kenyataannya, 2 orang yang sedang di tunggu itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya di saat jam yang sudah di tentukan. Membuat kiki mulai gelisah dan menatap prihatin ke arah tuan mudanya yang sudah sejak jam 7 tadi siap di tempatnya. “siapa tau mama sama papa, sampai lebih cepat..” begitu alasan tuan muda nya saat sebelum akhirnya memutuskan untuk bersiap lebih cepat 1 jam dari waktu yang sudah di janjikan orang tuanya.

Kiki mengeluarkan ponsel canggih pemberian majikannya, lalu mengotak-atik sebentar. Bermaksud membaca ulang pesan dari tuan haling siang tadi dan yang membuatnya segera mengirim pesan ke tuan mudanya setelah membaca pesan dari tuan besarnya.

From     : tuan haling
Kiki, saya sedang berada di indonesia sekarang.
Dan kami baru melakukan penerbangan ke eropa pukul 11 malam.
Nanti jika ada waktu,
Saya dan istri saya akan menyempatkan untuk makan malam bersama mario.
Kurang lebih pukul 8 malam.


To           : tuan mario
Tuan mario, tuan besar dan nyonya besar,
akan pulang untuk makan malam pukul 8 malam.
Harap tuan mario bersiap.


Rio kembali menatap jam besar karya negara pemilik menara eifel, paris. lalu kembali mendesah. Sudah 45 menit dari waktu yang sudah di janjikan. Lalu Selanjutnya ia menatap pak kiki yang sudah menampilkan raut gelisah, membuat rio kembali menghela nafas. Dia bertekad tak akan memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi selanjutnya.

1,5 jam berselang dari waktu yang di janjikan.

“emm, tuan... lebih baik tuan makan terlebih dahulu saja...”

“tidak, saya akan menunggu mereka...”

Rio melipat tangan di depan dada, memeluk dirinya sendiri kuat kuat. Memang angin di sekitar rumahnya akan berhembus lebih kuat jika sudah lebih dari pukul 9 malam. Dan ini sudah pukul
9.30. wajar saja.

Kiki pun merasakan hal yang sama dengan tuannya dingin yang amat luar biasa. Dan dia sangat mengerti akan kondisi tuan mudanya, dengan langkah cepat ia segera memerintahkan salah satu pelayannya untuk mengambilkan selimut lembut nan hangat untuk tuannya yang sudah pucat di tempat yang sama dari 2,5 jam yang lalu.

2 jam berselang dari waktu yang sudah di janjikan, keadaan nya tetap sama. Rio dan pelayan-pelayannya tetap berada posisi dan suasana yang sama. Hening, dingin, dan penuh kepiluan.

Kiki semakin menatap tidak tega ke arah tuan mudanya yang semakin pucat dengan tubuh yang sudah beberapa kali menggigil. Sama hal nya yang di fikirkan beberapa pelayan yang bertugas dan menyaksikan keadaan tuannya malam itu. baru saja tadi sore mereka menyaksikan sebuah keajaiban dari tuannya kini mereka kembali menyaksikan kerapuhan tuan mudanya yang mereka yakini sebenarnya memiliki hati seputih salju itu.

“tuan, mungkin tuan dan nyonya besar tidak akan datang. Saya akan meminta para pelayan membereskannya...”

“jangan, tunggu mereka datang..”

“tapi tuan, mereka akan ada penerbangan ke eropa pukul 11...”

Rio menghela nafas berat, lalu semakin merasa sesak melihat jam besar di depannya sudah menunjukkan pukul 22.30. “ kalo begitu, tunggu sampai pukul 11..”

“tapi tuan...”

“ikuti perintah saya...” keputusan terakhir, meski perintah itu tak terdengar sinis dan ketus seperti biasanya. Tetapi itu tetap perintah tuan mudanya, yang harus di turuti dan di patuhi.


*


Rio merosot lemah di balik pintu kamarnya, terlalu sinetron memang, tapi dia tak peduli. dadanya terlalu sesak. Padahal dia sudah beberapa kali menyemprotkan inhalasi ke dalam mulutnya. Nyatanya, sesak di dadanya tak berkurang sedikitpun, sesak macam apa yang ia rasakan saat ini? hingga sesak itu kebal dengan obat dari dokte pribadi pilihan keluarga haling.

Dan perlahan sesak itu berkurang, bersamaan dengan air matanya yang sudah dia coba bendung kuat-kuat luruh lalu dengan cepat mengaliri pipinya hingga menetes setelah sampai rahang. Cowok macam apa dia? hanya karena begini saja menangis. Jangan menangis mario! kamu hanya batal bertemu dengan orang tua mu yang sudah 8 bulan tak kamu lihat dan tak pernah sekali pun kamu dengar suaranya. Itu hal biasa, sudahlah.

“hhh.. ma..hhh.. pa...hhh..mario ...hhh... di sini.. sendiri...”rio berucap lirih dengan nafas sesak dan tersengal, dan selanjutnya ia tak ingat apa-apa.


to be continued...


PART 6 : http://egaditya.blogspot.com/2012/04/kamu-untuk-aku-part-6.html


Senin, 02 April 2012

mear diary : mantan 4Lay

ok, kali ini saya akan memposting story dengan judul "mantan 4Lay". bukan maksudnya ini tentang cerita saya mantannya si 4Lay, sumpah saya gak kenal sama si 4Lay.(-.-")jadi yang mau saya cerita kan kali ini, adalah sebuah fakta, realita, akurat dan terpercaya. oh, god. gue mesti senam jantung karena harus mengetahi kenyataan seperti ini, jadi sebenarnya maksud dari judul "mantan 4lay" adalah, *deng deng deeeennggg* ternyata saya adalah seorang mantan -ekhem- anak 4Lay. -showeran.. kenaaapppah.. kenapaahh T-T


banyak bukti yang menguatkan saya, kalo saya ini mantan 4Lay. bukti itu, antaranya :
1. photo, bebarapa hari yang lalu, saya iseng bukain HP kakak ke-3 saya yang sudah di miliki 4 tahun lamanya, saya masih ingat memang dulu saya pernah bikin folder dengan nama "riris" (riris = nama panggilan saya) di album photonya. tapi, pas saya pinjem kemarin, saya amat yakin tuh folder pasti udah gak ada, alias udah di apus. tapi, ternyata dugaan saya salah pemirsa, folder itu masih ada!! lengkap!! utuh!! dengan isi-isinya. dan photo-photo di dalam folder itu membuat saya ingin muntah hanya dengan sekali lihat!! -saya bego, muntah karena photo sendiri, itu keterlaluan hahaha-.- njirrr, pose saya kagak nahan man, dan akhirnya saya ngakak sejadi-jadinya (gak jadi muntah, haha). nyampe si kakak saya yang di kenal irit ngomong itu berkomentar pedas,

 "pethok!! photone dewe di geguyu, nek ngeyek i, ra ngeyek photone dewe" 

(translate : "bego!! photonya sendiri di ketawain, kalo ngehina tu, gak ngehina photonya sendiri-.-) --> kakakku sial -__-
Yasudahlah, lagian benar juga yang dia utarakan. well akan saya tunjukkan beberapa photo ngalay ala saya. ini di ambil kira-kira 3 tahun yang lalu. cekidot... :D








tobat, tobat!!! apa maksud tangan-tangan dan senyum di photo-photo itu-___- kenapa dari dulu saya tak menyadari kalo itu alay.

2. ketikan SMS, setelah melihat photo-photo 4Lay saya, saya jadi menerawang tentang masa lalu, dan saya kembali tersadar. kalo dulu -sekitas SMP kelas 3 saya mengetik SMS dengan ketikan aturan PLAT kendaraan, yaitu tulisan hasil perpaduan antara angka dan huruf, dan saya variasi dengan membesar-kecilkan tulisan. example : Qm L91 4pA yaA?!!? *LOL.. 
OMG, saya terlalu memenuhi syarat CIRI-CIRI orang 4Lay. 

Saya benar-benar shock setelah mengetahui kenyataan ini, sangat shock-.- pasalnya jika lihat di jejaring sosial seperti Facebook dan twitter. anak-anak 4Lay terkesan di gunjing, di cemooh, dan mungkin ada beberapa orang menganggap itu sesuatu yang menjijikkan, podo ngece lah pokok e. dan akhirnya saya lama-lama jadi mikir, secara gitu kan saya termasuk -mantan- orang 4Lay, jadi secara tidak langsung saya turut andil di dalamnya. memang apa sebenarnya yang salah dari orang 4Lay, mereka udah menghina lo lo pada, atau ngerugiin lo lo pada. kagak kan!!, so what the hell. kenapa segitunya gitu loh. 

saya searching di mbahnya google (?), seputar anak 4Lay. dan di situ apa yang salah dari mereka, mereka hanya mencari sensasi dan ingin di perhatikan. kurang perhatian meraka itu? mereka butuh perhatian oi. bukan malah di gunjing coi. jadi, itu hanya salah satu dampak salah gaul mereka. hanya sedang tengah berpetualang mencari jati diri. itu jalan yang mereka pilih, apa yang salah dengan jalan itu. kalo ada yang gak suka yaudah gak usah di urusin mereka nya, anggep aja tak ada. gak nulis status dengan skandal meremehkan dong. hehe udahan ah.

yah, itu hanya pendapat saya. hahaha.. pemikiran orang beda-beda. saya setuju itu. 
just for have fun guys,
bye.




Minggu, 01 April 2012

mear diary : suka ketawanya kamu lho !!

ciee, cieee!!! kali ini saya bahasa soal cowok lho. yang saya sukai ketawa-nya, :D

ini saya jujur pake banget!! saya gak bohong kalo bilang ketawa kamu tu bagus, dan saya tu suka!!-.- gak ngerti juga saya, kenapa saya bisa suka dengan sebuah tawa. alasan nya simple aja sih, enak aja denger ketawa kamu. kedengernya renyah, dan nampak ikhlas. well, memang saya denger cuma dari telephon. tapi suer, gak ngurangin segala keindahan yang ada.

jadi, ayolah. sering-sering telpon saya dan tertawalah dalam setiap pembicaraan, dalam setiap kesempatan. saya serius soal tawa itu. saya suka. :D
saya cemen, emang!! masa nya saya gak pernah bilang tentang kesukaan saya sama ketawa kamu. saya juga gak pernah nyuruh kamu buat terus-terusan nelponin saya. padahal saya harepin.haha :D well, mungkin ini faktor cewek. so, saya cuma berharap tiap harinya, ada niat di hati kamu buat nelponin saya tiap malem. tidak perlu memikirkan akan membicarakan apa biar saya gak bosan, just laughed for me. itu sudah lebih dari cukup buat saya bertahan telponan lama-lama sama kamu.

hahaha, blak-blakan banget ni postingan. tapi yasudahlah!
iyeeeii, udah ah. jadi malu.
bye ya. laptop saya mau di pinjem sang kakak lah-_-

Sabtu, 31 Maret 2012

Kamu Untuk Aku (part 4)

Pertemuan pertama, kedua, dan ketiga mungkin masih atas dasar ketidaksengajakan.
Tapi jika sudah pertemuan –yang di fikiran tidak sengaja- ke empat dan seterusnya.
Apakah di fikir karena ketidak sengajaan?
 atau mungkin tuhan sudah turut andil dalam semuanya?.


*


Ify dan alvin tak hentinya terbahak bahagia menikmati segala permainan murah meriah potocopian dufan-pasar malam-. Hampir semua sudah mereka berdua coba. Tapi tidak dengan pria hitam manis yang menjadi pria kedua di antara ketiganya. Sedari tadi dia belum pernah mencoba bahkan menyentuh saja tidak segala wahana permainan dengan di hiasi lampu kelap-kelap itu. “males banget maen permainan murahan..” selalu begitu alasan yang dia lontarkan. Padahal dalam hati terdalam. “gue belum siap mati man..”

“rio. Bayarin lagi!! Mau naik itu...” suara cempreng khas wanita itu keras dan melengking, dan sialnya tepat berada di telinga kiri rio yang tengah fokus menatap keramaian di depannya.
Dan itu membuat refleks rio mengelus telinga kirinya dengan mulut yang sudah dimajukan.

“belum capek apa? Udah dari tadi juga maennya? Pulang yuuk ah..” rio berucap sebal, pasalnya kedua temannya itu sudah bermain sejak satu jam yang lalu dan kini tak berhenti meminta untuk di belikan tiket bermain. yang walaupun di awali dengan mendumel, akhirnya di keluarkan nya juga uang 10ribuan untuk membeli tiket yang harga satuannya 5ribuan dari dompet kulit kesayangannya.

“belum..”jawab ify di akhiri dengan menjulurkan lidah kearah rio, lalu segera menghadap alvin yang berada di samping kirinya, “belum capek kan ya vin?” ify meminta persetujuan teman yang sedari tadi sudah menemaninya menjajal permainan2 unik di pasar malam itu karena rio yang mengaku males naik permainan murahan begitu.”alah cemen aja sebenarnya rio tuh..” simpul ify geli dalam hati.

“ya io, tinggal bayarin aja. Uang lo juga gak akan habis kalo Cuma bayarin beginian doank.” Alvin yang dari tadi hanya diam dan sekali cengengesan melihat tampang rio yang bisa aneh begitu akhirnya mengunjukkan suaranya.

“iya...” ify menyahut setuju dengan mengangguk-anggukan kepala nya cepat, lalu dengan tiba-tiba mengubah ekpresi nya memicingkan mata  kearah rio dan berucap.”sebenernya ikhlas gak sih lo minta maaf ke gue nya??”

Alvin tertawa seketika, di sambung oleh ify di sampingnya. Dan rio memutar matanya sebal dengan polah tingkah kedua sahabatnya. Memang rio bisa berada di sini sekarang karena janjinya pada ify, yang meminta di temani ke pasar malam untuk syarat minta maaf rio, dan merasa akan tidak sanggup sendiri akhirnya rio memutuskan mengajak alvin. Dan berakhir di sini, dia sengsara di pasar malam pada malam senin yang mendung. “rese!!” rio terus merapal rutukan tak kentara.

Setelah kepergian ify dan alvin menuju ke permainan yang mereka inginkan, rio melakukan rutinitas yang sama seperti tadi ketika menunggui kedua sahabatnya menyelesaikan permainan. Stay cool, dengan kedua tangan di masukkan ke saku, pandangan tinggi yang pongah, dan hanya memandang bosan ke orang yang lalu lalang di hadapannya.

Tatapan bosan penuh kepongahan rio terus beredar. hingga kini ada Satu tujuan arah mata rio. Di satu titik yang lumayan jauh darinya, tapi tampak begitu nyata dan mencolok. Gadis dengan ikatan biasanya, kepang kuda yang acak-acakan. Dan hei, siapa sangka rio begitu mengingatnya. Kehadiran gadis itu menimbulkan rasa menggelitik, heran, dan senang.

Di samping gadis itu ada pemuda jangkung dengan kemeja biru muda dan celana bahan hitam, “gak matching banget tau...” rio mencibir tidak jelas. Lalu kembali mengamati kehadiran gadis itu yang setelah di lihat-lihat tampak lebih manis dengan wajahnya yang hanya di sinari dengan remang lampu salah satu toko aksesoris di dekatnya. Dan tanpa sadar rio bergerak hingga melangkah mengikuti arah gerak sang gadis beserta pria yang tak di kenalnya.



*


Shiila berlari jingkrak-jingkrak tidak seperti halnya gadis umur 16 tahun pada umumnya. Dengan tangan kanan memegang gulali dan kanan kirinya menggandeng tangan acha, Salah satu anak didik gabriel. Dan di belakangnya, beberapa anak didik gabriel lainnya berlari-lari dengan tak kalah lincah dari shilla. sedang gabriel, hanya sekedar melangkah panjang di belakang rombongan untuk mengimbangi shilla dan bocah-bocah kecil didikannya .

Sedari mereka sampai di sini, tawa kebahagian tak berniat beranjak sedikit pun dari bibir mereka. Sebagian besar dari mereka yang biasanya datang ke pasar malam tak untuk bermain, melainkan mencari nafkah dengan mengamen atau bahkan mengais gelas plastik bekas para pengunjung. tentu tak menyia2kan kesempatan bermain sepuasnya dengan gratis seperti ini.

“emm zy, kakak mau ke kamar kecil dulu.. kamu jagain temen-temen kamu dan kak shilla sebentar ya.” Gabriel berucap pada ozy, untuk izin ke belakang sebentar.

“Oke deh kak..” ozy yang setelah menjawab gabriel di sertai acungan jempol, Mulai berlari lari kecil untuk mensejajarkan langkah dengan teman-temannya. Karena langkahnya sempat terhenti saat terlibat percakapan dengan gabriel.

“lho? Kak gabriel mana zy?” bastian yang pertama kali menyadari keabsenan gabriel di antara mereka segera mengajukan tanya pada ozy yang baru saja muncul di samping kirinya.

“ke kamar kecil sebentar katanya..”

Bastian mengangguk-ngangguk mengerti, lalu seketika tertawa kecil dengan tatapan jahil mengarah  ke gadis paling dewasa di depannya. “ aku punya ide bagus zy..?

“ha?...”

Dan di detik berikutnya, ozy dan bastian sudah terlibat bisik bisik yang di selingi kikikan kecil yang tertutupi oleh riuh suara pangunjung pasar malam.

“oyaya.. kak shilla kan penakut banget orangnya..” ozy berkomentar dengan berbisik usai bastian selesai mengajukan idenya melalui bisikan.

Lalu, merasa rencana nya sudah mantap, kedua nya segera melaksanakan ide yang di anggap bagus oleh bastian, dengan membisikkan kembali pada teman lainnya yang berjumlah 7 orang itu. tanpa sepengetahuan sasaran pastinya.


*



“kak shilla, ayo masuk itu?” ozy datang tiba-tiba, dan dengan tiba-tiba pula menggeret paksa tangan shilla. dan menimbulkan keketiran sendiri bagi shilla, serius saja? wahana yang di pilih ozy itu rumah hantu. Dan untuk kondisi seperti ini shilla akan dengan senang hati mengakui bahwa dirinya itu. penakut.

Shilla menghentikan paksa langkah ozy yang terkesan buru-buru dan maksa. “eh, tapi tunggu dulu. Kak gabrielnya mana?” shilla yang mulai merasakan hal yang kurang enak, menjadi lebih peka akan ketidakmunculan pria yang membawanya ke tempat ini.

“huu, bengong aja sih! Kak gabriel udah masuk tau kak..”

“Ha? Masa sih?”..

“Ah lama deh kakak... buruan yuuuk, keburu ketinggal jauh sama kak gabriel nih..”

Sudah di godakan dengan di sebutkan nama gabriel, shilla tak lagi memikirkan akan apa yang terjadi di dalamnya. Yang jujur, dia tidak tahu sama sekali bagaimana isi didalam wahana tersebut.

“dasar cewek bego. Bisa banget di bohongi anak kecil..” dan segera di langkahkan kakinya menuju loket tiket dan segera berlari kecil memasuki wahana.

*

Aura mistik sudah mulai shilla rasakan, iming-iming nama gabriel sudah tak lagi berpengaruh untuk mengurangi kadar ketakutannya. Dia sudah sangat pucat dan lemas ketika kakinya mulai melangkah ke dalam ruangan gelap dengan cahaya sangat minim dan berkelip sesekali, asap-asap di beberapa sudut ruangan menambahkan unsur horror tersendiri di ruangan pengap berukuran 10x10 meter itu.

Shilla melangkah dengan sendiri nya dengan pikiran yang sudah kacau. tatapannya sudah benar-benar kosong menatap ke belokan yang sebentar lagi akan ia lalui bersama bocah-bocah yang tanpa shilla sadari tengah berbisik-bisik satu sama lain.

Belokan yang tak ada satu pun yang tau apa yang akan terjadi setelah berbelok, tak sampi 5 langkah lagi, cukup menghitung mundur, tiga..... dua..... sa...



“DOOR.. DUBRAK.. GLODAK GLODAK..... KYAAAAA...”

“tuhan... tolong... shilla..” shilla sudah memejamkan mata yang tanpa terasa di ikuti air matanya yang mengalir bebas di pipinya, tubuhnya terlalu lemas untuk ikut berlari dengan bocah-bocah yang tebirit melihat pocong-jadi-jadian- yang dengan tiba-tiba menggedor sel yang mengurungnya.


*


Rio yang sebenarnya tak suka berada di ruangan gelap dan pengap seperti rumah hantu di pasar malam itu. entah kenapa berinisiatif untuk masuk, karena mendapati dua bocah kunyuk yang bersikap aneh di saat kegiatan ‘menguntit’ nya tadi. Diawali dengan bisik-bisik serta cekikikan, lalu salah satu dari keduanya berujar “oyaya, kak shilla kan penakut banget orangnya,” langkah selanjutnya mereka kembali berbisik ke semua teman-temannya tanpa membisiki yang paling dewasa di sana. Dan langkah terakhir, mereka  mengajak dengan paksa gadis paling dewasa di rombongan itu yang tengah asyik makan gulali dengan tanpa dosa. Dan dengan hanya tipuan kecil, gadis yang harus nya lebih mengerti dan menyadari adanya ketidakberesan, menurut, dan masuk meski dengan tampang keragu-raguan seperti itu.

Rio melangkah perlahan memasuki ruangan, dan seketika mempercepat langkahnya ketika melihat gadis yang merupakan alasannya sudi memasuki ruang mistis itu. gadis yang saat ini sudah benar-benar terlihat kacau, dengan tangan saling meremas satu sama lain, mata yang di pejamkan dan  menangis.

Rio mendekap tubuh mungil yang sudah bergetar hebat itu. entahlah, dia sangat refleks melakukan ini. Dia hanya sedang mencoba untuk menjadi..... pelindung.

“jalan, dan terus tutup mata...” rio berucap lembut tidak ketus seperti biasa. Tidak tega juga mengetusi orang yang sedang takut. Setidaknya begitu pikirnya membela.

*


Shilla terus bersyukur dalam hati, ada seseorang yang dengan tiba-tiba memeluknya saat ini. Meski orang itu terkesan lancang. Tapi shilla tak akan memarahinya, melainkan dia akan mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya. Dalam hati timbul harapan berlebih akan siapa yang membantunya, pasti kak gabriel sengaja kembali karena di beritahu anak-anak, dirinya tengah ketakutan disini.

“jalan, dan terus tutup mata...” suara berat pemuda terdengar samar di gendang telinga shilla, meski sempat merasa suara itu tak sesuai dengan suara yang ingin di dengar shilla, shilla mengikuti juga intruksi dari penolongnya.

Shilla dan pemuda yang membantunya, berjalan perlahan menuju pintu yang jarak nya memang tak jauh lagi. Dan jangan di kira perjalanan mereka berjalan mulus. Terjadi beberapa insiden yang menghambat langkah mereka, mulai dari kaki shilla yang terpijak atau malah dia yang memijak kaki penolongnya. Teriakan tiba-tiba shilla karena –hanya- mendengar gedoran atau tawa cekikikan khas kunti. Hingga pintu keluar tercapai.

“bego..” shilla didorong pelan oleh pemuda yang menolongnya, membuat shilla yang memang kondisi nya sedang lemah terjingat ke belakang dan hampir jatuh.”kalo takut, gausah sok-sokan masuk.”

Shilla segera mengangkat kepalanya yang tertunduk, hapal betul dengan nada ketus sang pemilik suara. Dan ah, shilla ternganga sendiri melihat pemuda yang tengah melipat tangan di depan dada dengan mata yang di picingkan. Kenapa harus pemuda ini.

“ya kan gue tadi...”

“di bohongin anak kecil,... dan lo mau??” rio memotong cepat dengan ekspresi sinis yang amat kentara, yang membuat shilla semakin ternganga. “nih orang lagi PMS kali ya, marah2 gak jelas. Cowok kok PMS...” shilla menyimpul sebal sendiri.

“ya gue kan gak tau, kalo di..... bohongin...”shilla menjawab polos, lalu di susul aksi memajukan mulutnya, kesal. baru menyadari kelakuan jail setan-setan kecil yang sudah menjebaknya.

“bego sih lo.. “ rio berucap galak, tangan yang ia lipat di depan dada semakin ia rapatkan. Angin malam itu sudah terlalu kencang untuknya. Apalagi malam itu ia hanya mengenakan kaos pendek yang tipis

Dan benar saja, beberapa detik setelah hembusan angin menerpa tubuh tegap rio, hujan besar-besar dengan cepat turun deras. “sial..”. hujan membuat rio sesak sendiri dan tanpa memikirkan yang lainnya dia segera berlari dengan tangan sudah mencekal dan membawa shilla berlari bersamanya.”ikut gue..”

“eh, tapi.. ntar aku di cariin kak gabriel...” ronta shilla keras, tak mengerti jalan pikiran pemuda galak di depannya yang tiba-tiba membawa nya berlari kesetanan seperti ini. Dan rio, tak menggubris bahkan hampir tak mendengar ucapan shilla yang tengah susah payah menyamai langkahnya, atau mungkin ia dengar tapi tak peduli. Yang pasti, yang ia pikirkan saat ini hanya segera menuju tempat yang hangat.


*



Alvin dan ify panik sendiri di salah satu tenda yang sengaja di sediakan pasar malam itu untuk berteduh jika terjadi hujan dadakan seperti ini. saat, setelah mereka menyelesaikan permainan komedi putar, mereka tak mendapati rio yang biasanya akan menunggu mereka di samping loket pembelian tiket.

“alvin!, rio mana?” ify sudah menanyakan hal yang sama pada orang yang sama sejak 15 menit yang lalu. Dan yang di tanya, menjawab masih tidak ada perubahan dari jawaban sebelum-sebelumnya, “gue juga gak tau fy...”

“ini kan hujan vin..” ify sudah hampir menangis mengucapkan kalimat yang baru saja ia lontarkan.

“iya gue tau, lo percaya aja. Rio itu cowok... pasti dia gak apa-apa..”  alvin menepuk pundak gadis di sampingnya itu yang memang sudah kelewat khawatir. “Gue udah sms dia kok.. lo tenangan ya..”

*


Shilla bernafas lega, dirinya saat ini sedang baik-baik saja di dalam mobil mewah milik penolongnya, dan tidak mengalami hal buruk yang ia pikirkan saat di bawa lari pemuda galak yang sekarang ada di sampingnya, yang tidak tau kenapa hanya diam dan berkali-kali mengambil nafas panjang yang tak beraturan, wajah nya pun terlihat sedikit pucat. Tanpa sadar, shilla mengangkat bahu kecil. Tak akan memikirkan lebih jauh tentang pemuda itu misalnya berfikir pemuda itu sebenarnya baik lalu setelahnya, secara terang-terangan menggunjingnya atau mengejeknya. dan INGAT dia tak akan khawatir pada pria yang bisa kapan saja berubah sifatnya itu.”heuh, aneh...”

“ada selimut di kursi belakang, pake aja..” suara bariton yang bebarapa waktu lalu terdengar kasar dan ketus, kali ini terdengar serak dan lebih lembut. Shilla yang tengah memandang kosong keluar melalui jendela di samping kirinya, tersentak sebentar mendengar suara yang terlalu tiba-tiba itu lalu menuruti saja perintah pemuda galak di sampingnya. “tumben pengertian...”

“lo kesini bawa sepeda..?” suara bariton yang perlahan mulai kembali seperti suara biasa itu, bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari iphone apple di tangannya.

“gak...” jawab shilla singkat, dan melanjutkan ucapnya setelah tertawa kecil bahagia sebelumnya, “gue kesini sama kak gabriel..” ada kebanggaan tersendiri dalam diri shilla saat mengucapkannya.

Rio  memicingkan mata menatap gadis yang tengah tersenyum penuh arti di sampingnya, walau akhirnya memutuskan untuk tak  berfikir lebih dalam apa yang membuatnya menjadi seperti itu. “Mungkin karena si gap.. gap.. gap.. siapa ya? Gaplek mungkin...”

“ya, terus, si gaplek2 itu mana?..”

“gaplek? Gabriel kali. jauh amat melencengnya... nama bagus2 juga,..”

“ck, iya iya. Terus di mana?”

Shilla terlihat sedang berpikir keras, dengan tangan kanan nya menggaruk-garuk belakang kepalanya sendiri.”kemana ya??..”

“ck, ya kemana?”

“emm,.. gatau..”

“tinggal jawab gitu aja lelet! Udah bego, lemot lagi lo... rumah lo mana?

Meski tak mengerti akan jalan pikiran rio menanyakan alamat rumahnya, shilla menjawab saja. Lalu tidak butuh waktu lama. rio segera melajukan mobilnya perlahan. Setelah sebelumnya membalas pesan singkat di iphonenya.


To : jonathanAlvin
Gue gak kenapa2 vin.
Lo pulang duluan aja sama ify,
Gue ada perlu mndadak.


*


“stop!! Sini aja..” shilla berucap keras, yang membuat rio tersentak dan dengan segera memijak rem mobil nya tiba2. Membuat shilla yang masih dalam posisi tidak siap tersantuk bagian depan mobil. “aduh!!!...”

“rasain!! Makanya, ngasih tau tuh jangan mendadak...!!” ucap rio puas tanpa merasa bersalah. Seneng malah udah bikin gadis di sampingnya susah. “mana rumah lo?”

Shilla menghela nafas panjang, lalu membatin memotivasi diri untuk bertahan dalam kesabaran, dengan berkali-kali merapal, “sabar shilla, orang sabar di sayang tuhan... Sabar sabar..” setelah usaha menyabarkan dirinya di nilai cukup berhasil, shilla baru menjawab tanya pemuda di sampingnya.”rumah gue, masih masuk gang itu...” shilla menunjuk gang sempit yang saat ini tepat berada di depannya. “kayaknya mobil lo gak akan bisa masuk, jadi gue turun sini aja..”

“ambil tuh payung di belakang..” ucap rio ketus mencoba agar tak terlihat sok baik.

“guenya gausah pake payung...”

“tau lagi ujan gak sih lo...”

“tau, tapi gak apa., asal ujan gak bikin gue mati. Gak apa kok ujan2an, gue seneng malah bisa hujan-hujanan.. hehe,..” aku shilla jujur, jika di tanya hal apa yang shilla sukai, shilla akan dengan mantap menjawab.”hujan-hujanan pak guru!!!”

Rio hanya mengangkat bahu untuk menanggapi, setidaknya dia sudah menawari kebaikan. Mau tidaknya orang yang di tawari sudah bukan urusannya.

“tapi...” shilla berucap lagi, dengan ragu kali ini. Setelah dengan pemikiran yang matang dia akhirnya berucap, ”elonya jangan pergi ya, pergi nya tunggu gue nyampe rumah dulu. Soalnya jalannya gelep kalo gak ada mobil lo,, please..” kedua telapak tangan shilla sudah saling di tempelkan tanda ia memohon.

“ck, iya iya. Jadi pergi gak si lo. Lama..”

Dan benar kan, baru saja shilla membatin pria ini baik sudah bersedia menuruti keinginannya, dan detik selanjutnya dengan cepat pria ini merubah argument shilla. jin sebelah kanan shilla berkata , “sabar shilla, meski cara bantu nya aneh, cowok ini baik kok, bener deh... “ jin kiri tidak mau kalah, lalu menyahut. “cowok begini mah, bunuh aja shill..”

“iya, ini juga mau turun..” baru shilla bersiap akan turun, dia teringat akan sesuatu, “bunda : shilla, dengarkan nasihat bunda. selalu berterimakasih lah kamu pada seseorang yang menolongmu bagaimanpun bentuk pertolongannya”. dan shilla menuruti ucapan bundanya, ”ekhem, sebelumnya.. ee.. makasih ya.. ee......” shilla bingung sendiri, maksudnya ingin membubuhi nama pemuda yang sudah membantu nya di kalimatnya, tapi memangnya shilla tau nama pemuda yang hobi memicingkan mata itu.

“rio...” seperti bisa menjawab pikiran shilla, pemuda itu memberitahukan namanya. dengan cepat shilla melanjutkan “...rio.”

“apa-apaan? ulang!!!” protes rio keras, dengan memicingkan mata-.-

“ha?”

“bilang makasihnya, ulang!!”

“lho? ke.. ke.. napa?

“ya maksudnya apa coba, masa lo bilang nya. Makasih ya.. terus berhenti.. terus tiba-tiba nambahin nama gue. Jelek tau kalo gitu.”

“apa?!! Saraf lo yee!!”

Rio mendelik cepat kearah shilla, tanda untuk shilla, rio tak bisa di bantah.” U-L-A-N-G!!”
Ucap rio penuh penekanan kali ini.

“hissh,..iya, gue ulang... makasih ya rio,..”

“untuk?”

“ha?” shilla tak henti-hentinya di buat ternganga oleh polah tingkah pemuda tampan di depannya ini, ”karena udah baik, nolongin gue dari kesusahan.” Ucap sulit shilla akhirnya.

“dan....” rio tersenyum misterius dan kembali mengalihkan pandang kearah depan yang tadinya menghadap shilla. “ jangan kira semuanya gratis....”

“apa?” shilla terkejut bukan main, tak akan mau lagi berfikiran kalo pria di sampingnya itu pria yang baik.”sialan..” rutuknya yang hanya bisa tercurahkan di hati saja.

“emm, besok jam 3 sore. Gue tunggu lo di taman biasa. Kalo lo gak dateng, cukup jelasin ke gue. Kalo lo tuh, ternyata cewek yang gak tau terima kasih..” Rio berucap lancar yang di akhiri senyum bengisnya.

Shilla memutar bola mata sebal. tapi okelah, Dia terima. Memang balas budi yang mestinya ia lakukan. Karena meski menyebalkan, faktanya pria ini sudah banyak menolongnya.” Iya iya, besok gue dateng..”

“yaudah, pergi sono!!!”

Setelah kalimat bersifat usiran terlontar dari mulut rio, shilla segera membuka pintu mobil rio dan tanpa butuh waktu lama keluar dari mesin canggih itu, dan sebelum dia menutup kembali pintunya, dia merasa ada yang perlu ia sampaikan pada pemilik mobil vios hitam mengkilat itu, “dan rio, nama gue shilla, bukan monyet.”

“gak penting!. Tutup nyet, dingin bego..”

“SHILLA..”

“TUTUP...” shilla mendengus keras. Lalu menutu mobil itu keras-keras.

Setelah di tutupnya pintu samping tempat duduk penumpang. Shilla mulai berjalan ke arah depan mobil rio. dan sesuai janji, rio tak akan pergi sebelum shilla sampai ke rumahnya yang rio sendiri tidak tau di mana rumah shilla.

Dan yang terjadi ketika shilla mulai tersorot lampu mobilnya, shilla bukan nya segera berlari kerumahnya malah asyik terbahak bahak bermain hujan dan berciprat-cipratan di genangan air hujan. Hujan baginya, terlalu menggiurkan untuk tak di nikmati.  “GUE BERASA KAYAK DI PELM INDIA DEH!!!” shilla berteriak keras mencoba menembus kaca mobil yang ada rio di dalamnya. Dan rio mendengarnya, lalu menyerengitkan dahi “khayalan nih cewek norak banget..!!” . Lalu shilla terbahak lagi.

Dan di detik berikutnya shilla sudah menari-nari heboh dengan berbagai gaya, gaya india, gaya bebek, gaya dangdut ala indonesia, dan yang paling gak nyambung gaya terakhir yang di lakukan adalah gaya mesir yang dengan jeleknya di lakukan dan membuat gadis itu nampak lebih bodoh dari sebelumnya.

Berakhirnya tarian mesir shilla, berakhir juga tontonan yang membuat rio ketar-ketir menahan tawa dan tak henti-hentinya menautkan alis heran ada manusia macam shilla.

Dan tak di sangka, shilla sudah berjalan cukup jauh darinya, dan beberapa detik selanjutnya sudah tak terlihat setelah berbelok ke arah kanan. Hilangnya shilla dari pandangannya membuat rio tersadar, “untuk apa dia mengajak shilla bertemu besok sore?”



***




Gabriel berjalan gontai memasuki rumah besarnya, lalu duduk di salah satu sofa ruang tamu dengan warna abu tua imporan dari eropa tersebut. Lalu, perlahan melepas sepatu kulit hitam yang ia beli 1 bulan yang lalu di afrika. Orang kaya.


“ah, shilla bagaimana anak itu sekarang?...” dan nyatanya gabriel masih saja merapalkan tanya itu untuk kesekian kali di dalam hatinya. Meski dia sudah melakukan apapun juga untuk mencoba tak peduli dengan gadis manis yang pergi ke pasar malam bersamanya, namun pulangnya sudah tak bersama. tapi tetap saja. Itu kan tanggung jawabnya, mengambil gadis orang dengan baik saja, dan mestinya dia memulangkannya juga harus dengan baik saja. Siapa yang tidak merasa bersalah jika keadaannya seperti itu?

Gabriel menarik nafas dalam, mencoba untuk tidak memikirkannya lagi. Dan terus merapal do’a keselamatan untuk sang gadis. Dan mencoba mempercayai cerita ozy, perihal kehilangan shilla. kurang lebih begini,
“tadi tu kak, kak shilla keluar dari rumah hantunya sama cowok, terus kak shilla nya ngobrol-ngobrol gitu sama tuh cowok, mungkin temennya kak shilla sih kak. Nah, terus pas udah mau ozy samperin karena tiba-tiba ujan. Kak shilla sama temennya itu malah lari. Terus ozy ikutin kan, eh.. kak shilla nya udah naik mobil temennya itu terus pergi...”

“Percayalah gabriel, kalo anak kecil itu jujur dan tak pernah bohong.”

“gab, udah pulang...?” gabriel segera menoleh ke arah kirinya dan segera menemukan gadis cantik dengan balutan dress manis warna biru, warna yang senada dengan sepatu dan bando yang di kenakan pemiliknya.

“prissy, udah malem gini. kenapa masih disini?” gabriel bertanya cepat mulai merasakan aura buruk yang sepertinya akan terjadi.

“emm,,.. aku jagain mama kamu yel. Tadi sivia telpon aku.” Prissy yang memiliki nama asli pricilla tersebut berucap lembut  penuh keraguan.

“apa?? Mama kambuh ssy? Kenapa kamu gak bilang dari tadi, kamu kan bisa sms atau telpon aku.” gabriel menanggapi berlebihan dengan mata melotot dan dengan nada bicara yang tinggi. Sebenarnya dia tak bermaksud begitu, hanya saja dia terlalu shock.

Prissy hanya mengangguk pelan, “maaf gab, aku cuma gak mau ganggu acara kamu. Kamu pasti akan segera pulang, Dengan aku ngabarin mama kamu tiba2 kambuh, Padahal aku masih bisa ngehandle mama kamu..” mengertilah, prissy bukan tipe gadis yang tahan akan bentakan. Meski itu di sengaja ataupun tidak, dia tidak bisa. Dia ingin bisa, tapi tetap dia tidak bisa. Dan kini, dia sudah bergetar dan hampir menangis.

Gabriel sudah berdiri tegap dari duduknya dan melangkah panjang mendekati prissy dengan kilatan mata kecewa, bukannya apa? Dia hanya tak suka dengan cara prissy yang terlalu mengertinya.
Terkadang segala sesuatu yang terlalu berlebihan itu juga tak baik bukan? Termasuk terlalu pengertian. Setidak nya itu yang ada di pikiran gabriel saat ini terhadap gadis yang sudah menangis dengan tertunduk. “maaf..” gabriel segera memeluk kuat tubuh gadis yang sudah 5 tahun ini akrab dengannya bahkan dengan keluarga nya.

“kamu gak usah minta maaf gab. Aku yang....”

“maaf...” gabriel memotong cepat dengan suara yang sudah bergetar. prissy tak lagi bermaksud membuka mulut, dia tak bisa melihat keadaan gabriel yang seperti ini. Dia ingin kuat, karena menurutnya bagaimana dia bisa menguatkan gabriel jika dirinya saja lembek begitu. dia ingin berhenti menangis. Ingin sekali. Dia juga sudah letih menjadi gadis super sensitif yang sangat lemah.

Mereka bertahan dengan posisi yang sama, gabriel memeluk pricilla tanpa balasan dari pricilla. waktu sudah berjalan hingga menit ketiga. Dan mereka masih bertahan dengan posisi yang tak berubah sedikit pun.

Gabriel dengan posisi memejamkan matanya yang terus memproduksi airmata, dagunya ia sandarkan di bahu mungil pricilla. Dan pricilla, setelah menghela nafas panjang menstabilkan nafas dan jantung nya yang cukup bekerja keras untuk tak menangis. Akhirnya, membrontak kecil membuat gabriel secara perlahan melonggarkan pelukannya hingga melepaskannya.

Pricilla tersenyum sebentar, lalu tangan nya mengelus pipi lembut gabriel dengan tangan kanannya. menghapus jejak-jejak air mata yang menempel di sana. Pricilla mengerti, gabriel amat sedih. gabriel seorang dokter, dia sangat mengerti akan keadaan ibunya yang tidak bisa lagi di bilang baik-baik saja. Gagal jantung kronis yang sudah di derita ibunya 2 tahun ini cukup untuk menjadikan alasan ibunya untuk segera menyusul laki-laki yang di cintainya-ayah gabriel- yang sudah tenang terlebih dahulu di sisi yang kuasa.

“lo temuin sivia sekarang gab, dia keliahatan tertekan banget...” ujar pricilla masih dengan kelembutan dan keibuannya.


to be continued...


PART 5 :  http://egaditya.blogspot.com/2012/04/kamu-untuk-aku-part-5.html


mear diary : mario oh mario..

mario oh mario. gila tu bocah di bawah umur, bisa aja bikin saya galau segalau-galaunya-.-
Mario Stevano aditya Haling, tau kah kamu? saya benar-benar tak bisa hidup tanpa kamu!

well, memang kesannya saya berkhianat banget ma diri sendiri. pasalnya waktu itu pernah bertekad buat gak tercrazy-crazy sama runner up IC3 itu, tapi nyatanya meski waktu itu sempet -lumayan- berhasil-satu minggu tak sekalipun melirik apapun yang berbau rio, tapi akhirnya tekad saya itu kandas juga. sial-.-
semua ini gara-gara youtube!!! -youtubenya galau, kenapa aku jadi di bawa-bawa!! haha, oke. saya ini ngayal.

jadi cerita nya, waktu itu lagi iseng cari lagu instrumen jangan menyerah-nya d'masiv , ya, karena saya saat itu tengah di landa keputusasaan gitu, akhirnya memutuskan untuk mendengar lagu itu dengan instrumen baru, dengan harapan semangat saya akan tersulut begitu mendengar lagu itu. hahaha, kreatif sekali ide saya.

dan apa yang terjadi pemirsa!! ternyata dan ternyata salah satu video yang keluar adalah ==> jangan menyerah-nya 5 besar idola cilik. udah wanti-wanti biar gak liat, tapi ternyata godaan sang video lebih kuat dari iman saya.
akhirnya saya melihat!!! dan saya tersadar, saya salah untuk berpura-pura tidak mengidolakan rio. sumpah, rio ganteng nya badai banget pas di GF. akhirnya, dari video itu saya malah mencari video GF rio yang lain.

finally, saya pasrah jika saya harus terus mengidolakan rio. itu harga mati saya rasa. ini dia beberapa photo idola saya :D








love rio sebesar-besarnya!!! :*
DARE TO BE RISE

Jumat, 23 Maret 2012

mear diary : pertama

ini pertamanya nulis selain cerpen dan cerbung gak jelas yang dibuat dengan pemikiran apa adanya di blog saya yag kagak renov2 ini-.-
sebenarnya saya lagi galau mau ngapain, akhirnya memutuskan menulis di sini. yang saya sendiri tidak tau mau nulis apa?-.-

cerita aja pa? iya ah, saya mau cerita. jadi ceritanya saya tadi ke toko buku -mau nangis dulu, T-T soalnya pulang gak bawa apa-apa-, padahal tu buku2 di gr*media udah pada ngelambaikan tangan untuk di adopsi, tapi malang uangku sedang tak memadai. hanya bisa said "NASIIB NASIIIIBB-.-..."
-sudahlah, membahas ini hanya membuat hatiku berdenyut nyeri saja T-T

terus karena sangking bingungnya lagi mau ngapain, akhirnya saya dengan kurang kerjaan buka profil orang di FB, pertama nya liat-liat punya teman-teman yang ada di kedu yang sekarang sudah pada canggih. yang dulu saya bahas FB< pada melongo. sekarang malah lebih update dari pada say-,- lalu di lanjutkan dengan melihat profil orang tak di kenal. membaca wall2an yang nanti dengan semakin kurang kerjaannnya saya akan menghayalkan sebenarnya ada apa atau apa yang di bicarakan kedua insan itu melalui dinding dunia maya,.

sekian.
ngantuk, zzzz-.-